Hamparan tanaman kedelai pada suatu ladang (sumber gambar: http://dispertan.grobogan.go.id/)
Oleh : Yogi Sidik Prasojo, S.Pt.,M.Agr*
Negara Indonesia terletak di bawah garis khatulistiwa dan memiliki iklim tropis. Umumnya kedelai ditanam di daerah subtropis yang panjang penyinaran mataharinya sesuai dengan kebutuhan kedelai untuk berbuah. Faktor tersebut menyebabkan kedelai cukup sulit untuk tumbuh optimal dan menghasilkan biji kedelai maksimal di negara tropis termasuk Indonesia. Akan tetapi minat dan permintaan akan produk kedelai di Indonesia yang terus meningkat menyebabkan pemerintah bersama dengan peneliti dan pemilik modal untuk bekerja sama memenuhinya agar masyarakat tidak selamanya bergantung terhadap impor. Selain perlu dilakukan diversifikasi pangan dengan tanaman kacang-kacangan lain yang lebih optimal untuk tumbuh di Indonesia dan dapat perlahan menggantikan kedelai. Perlu adanya upaya jangka panjang untuk konservasi genetika tanaman kedelai di Indonesia.
Sebagai tanaman pangan yang bergizi tinggi, kedelai juga amat diminati oleh hama dan penyakit, sehingga petani memerlukan tambahan biaya produksi untuk mengatasi hal tersebut. Sama halnya dengan Jepang yang menggunakan pestisida dalam jumlah tinggi untuk melindungi tanaman pangannnya. Akan tetapi saat ini penggunaannya mulai menurun dan digantikan melalui pengembangan teknologi dan pembaruan sistem penanaman. Di Jepang, serangga penganggu (Popilia japonica) tanaman kedelai merupakan musuh utama petani, peneliti dan petani. Mereka kemudian menggunakan beberapa teknologi seperti lampu LED atau sistem bertanam tumpang sari (intercropping) dengan tanaman lain untuk mengurangi efek serangan hama.
Sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini sangat besar kemungkinan untuk mengembangkan sesuatu menyesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan. Begitu pula dengan pengembangan tanaman kedelai di Indonesia. Telah banyak penelitian yang dilakukan di Indonesia dalam rangka peningkatan produksi dan hal ini perlu dikuatkan kembali. Di negara-negara maju, program penelitian terhadap proses pertumbuhan dan rekayasa kedelai telah lama dan banyak dilakukan dan menghasilkan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Penelitian kedelai di Indonesia perlu kembali dikembangkan dimulai dari genetika kedelai, sistem manajemen hingga proses hilir. Sejak kecil kita telah belajar bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keunikan alam di setiap pulaunya. Hal inilah yang kemudian menjadi daya tarik untuk dilakukan penelitian dengan melakukan pengelompokan-pengelompokan secara genetik dan adaptasi tumbuh di beberapa daerah di Indonesia. Tentunya hal ini akan menyebabkan perbedaan pada karakter tumbuh dan produksi tanaman kedelai pada setiap wilayah di Indonesia.
Program pengembangan genetika atau keanekaragaman juga dapat dilakukan secara tradisional ataupun modern (non GM) sehingga menghasilkan pangan yang aman untuk masyarakat. Melalui program pemuliaan tanaman, penggunaan kedelai dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani. Tidak hanya pangan, melalui peningkatan kemampuan genetik kedelai akan meningkatkan kemandirian pakan ternak yang hingga saat ini sangat bergantung dari bungkil kedelai impor.
Baca Juga: Pengolahan Biji Kedelai untuk Bahan Pakan
Selama ini, rendahnya daya tarik kedelai menyebabkan para pemilik dana jarang berminat melakukan investasi terhadap pengembangan kedelai dan lebih memilih beralih pada pengembangan kelapa sawit, jagung dan beras. Hal tersebut merupakan salah satu faktor penyebab kurangnya areal panen kedelai di Indonesia. Berkurangnya areal panen juga dapat diatasi dengan dilakukan sistem tanam tumpang sari (intercropping) dengan tanaman pangan atau pakan lainnya.
Di beberapa negara seperti Amerika, Brasil, Eropa dan Jepang, mereka telah melakukan pola tanaman kedelai dengan tanaman lain, bahkan hasil produksinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan tanaman pangan yang ditanam secara mandiri (monoculture). Tidak hanya biji kedelai yang didapatkan, para petani juga mendapatkan biomassa yang dimanfaatkan untuk ternak ruminansia sehingga tercipta pola pengembangan peternakan yang berkesinambungan.
Selain memanfaatkan lahan, pola tanam intercropping juga memiliki manfaat terhadap lingkungan. Kedelai memiliki kemampuan untuk memanfaatkan nitrogen di lingkungan dan hal ini akan berpengaruh baik terhadap tanaman pangan di sekitarnya. Perlu dilakukan penelitian lebih jauh mengenai intercropping antara kedelai dan tanaman pangan atau pakan di Indonesia sehingga petani dapat memanfaatkan lahan secara efisien dan hasil produksi yang lebih tinggi. Kelemahan dari pola tanam intercropping adalah efek naungan dan persaingan nutrisi tanah antartanaman yang terdapat pada lokasi yang sama.
Penerapan teknologi pemuliaan kedelai yang disesuaikan dengan karakter Indonesia, pemanfaatan teknologi tanam intercropping, pengurangan hama dan penyakit dengan minimal bahan kimia, serta penguatan sistem hilir (pemasaran dan penyimpanan) merupakan beberapa solusi yang dapat diterapkan dan dikembangkan di Indonesia. Tentu proses penelitian dan penerapan tersebut memerlukan waktu yang panjang dan kerja keras tetapi perlu kita lakukan sekarang untuk menyelamatkan pangan Indonesia dan generasi selanjutnya. Jika hal itu bisa dilakukan, maka para pelaku industri pakan ternak unggas di Indonesia juga tidak terus-menerus bergantung dari bungkil kedelai impor. *Kandidat doktor peternakan di Miyazaki University, Jepang
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2021 dengan judul “Memulai Perjalanan Baru Kedelai Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153