Peningkatan produksi jagung masih sangat memungkinkan secara agronomis karena didukung oleh ketersediaan lahan, kecocokan agroekosistem, dan kemudahan akses sarana produksi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Penurunan harga jagung dapat dilakukan dengan cara peningkatan produktivitas jagung dan menurunkan biaya produksi dan logistik jagung. Peningkatan produksi jagung masih sangat memungkinkan secara agronomis karena didukung oleh ketersediaan lahan, kecocokan agroekosistem, dan kemudahan akses sarana produksi. Apalagi kalau kita melihat model GAEZ (IIASA, 2009), bahwa produktivitas lahan di Asia masih berada pada kisaran 45% dari potensi produktivitas tertingginya. Lahan masih mempunyai peluang untuk ditingkatkan produktivitasnya. Inovasi peningkatan produksi yang dilakukan oleh praktisi pertanian dari daerah Cepu, Jawa Tengah melalui peningkatan kapasitas fotosintesis berpotensi meningkatkan produktivitas jagung. Peningkatan produksi ini pastinya akan meningkatkan ketersediaan dan menurunkan harga pokok produksi. 
Biaya produksi yang membebani petani jagung antara lain bibit, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja. Pada era pasar bebas pertanian, penggunaan bibit berkualitas didefinsikan dengan label biru, tanah yang subur diartikan pemupukan kimia, pengendalian penyakit lebih cenderung sebagai pembasmian dengan obat-obatan. Kesulitan dan langkanya tenaga kerja pertanian terjadi di mana-mana, sedangkan mekanisasi tidak semuanya menjawab kebutuhan tenaga kerja. Tenaga kerja pertanian menjadi mahal. Itu semua meningkatkan biaya, termasuk dalam biaya produksi jagung.
Biaya kedua yang membuat harga jagung tinggi adalah biaya perpindahan, karena rantai tata niaga yang terlalu panjang, setidaknya jagung sebelum sampai ke gudang pabrik pakan mengalami transit dua kali bahkan lebih. Biaya transportasi dan bongkar muatnya saja tidak kurang dari Rp400 per kilogram, pelaku tata niaga akan mengambil keuntungan berkisar Rp50-500 per kilogram tergantung banyakna barang. Biasanya makin besar volume, pengambilan keuntungan akan lebih kecil. Tetapi makin banyak perpindahan akan meningkatkan biaya lebih besar lagi. Perpindahan tiga kali saja sudah dapat meningkatkan harga jagung sekitar Rp1.500 per kilorgam. Setidaknya kalau tidak dapat memutus rantai tata niaga, harus dapat meminimalkan biaya logistiknya. Ini juga jelas masalah klasik yang sudah diketahui secara umum tetapi solusinya tidak mudah untuk diterapkan. Hal ini bisa jadi karena terlalu banyak kepentingan yang bermain atau juga solusi yang ditawarkan tidak membuat semua orang berbahagia.
Survei Jagung Pusdatin (2015) menyebutkan bahwa struktur penggunaan komoditas jagung di Indonesia yakni penggunaan untuk pakan mencapai 66,37%, industri pangan 23,96%, dikonsumsi langsung 2,41%, dan sisanya untuk keperluan benih dan lainnya. Melihat data tersebut persaingan dengan kebutuhan jagung untuk pangan tidak tinggi, apalagi dengan produk jagung yang dikonsumsi langsung sangat kecil sekali. Penggunaan untuk pakan masih sangat aman dilihat dari persaingannya dengan keperluan pangan manusia. Hal ini berbeda jauh dengan bahan pakan kedua, yaitu bungkil kedelai.
Baca Juga: Ragam Tantangan Perunggasan Nasional
Menjawab ketersediaan bungkil kedelai dengan suplai dalam negeri, diibaratkan seperti membuat kolam dengan sendok makan, dapat terlaksana namun membutuhkan waktu yang sangat lama sekali. Alasannya, jangankan untuk dibuat minyak sayur yang menghasilkan produk sampingan bungkil kedelai, produksi kedelai kita untuk membuat tahu dan tempe saja kedodoran. Industri minyak sayur Indonesia ada yang lebih efisien jika dibandingkan dengan menggunakan kedelai, setidaknya kita mempunyai minyak kelapa sawit dan minyak kelapa. Peningkatan produksi pakan akan memperbesar ketergantungan terhadap impor bungkil kedelai, karena kita tidak mempunyai basis industri pengolahan minyak kedelai, sementara alasan untuk memproduksi minyak kedelai hampir tidak ada. Strategi substitusi harusnya menjadi pilihan untuk bahan pakan ini, bukan memproduksi sendiri.
Berdasarkan hal tersebut, adakah bahan pakan yang berpotensi dapat menggantikan bungkil kedelai baik secara jumlah maupun nilai biologisnya dalam pakan? Kalau melihat potensi produksi, setidaknya ada dua industri yang dapat memproduksi bahan pakan untuk mensubstitusi bungkil kedelai, yaitu industri minyak sawit dan industri pengolahan jagung. Sebagai negara yang memproduksi CPO terbesar di dunia, tentunya kita mempunyai produk sampingan industri sawit yang sangat banyak. Permasalahannya adalah nilai biologisnya yang belum setara, sentuhan inovasi teknologi yang efisien sangat diperlukan untuk mengubah produk sampingan industri sawit. Tentu dibutuhkan banyak proses dan perlakuan agar produk sampingan tersebut dapat setara atau setidaknya mendekati nilai biologis dari bungkil kedelai.
Selanjutnya adalah pengembangan industri pengolahan jagung (seandainya produksinya melimpah), baik untuk pangan maupun energi dapat menghasilkan produk sampingan seperti DDGS, CGM, dan CGF. Model pengembangan tersebut apabila disentuh dengan inovasi teknologi berpotensi menggantikan bungkil kedelai.
Terakhir, inovasi akan selalu dibutuhkan. Mari kita fokus untuk meningkatkan produksi jagung yang efisen dan logistik yang lebih murah, serta mengoptimalkan bahan pakan yang berbasis industri untuk mendekati nilai biologis bungkil kedelai. Peran ahli nutrisi pakan dan tanaman sangat dibutuhkan sekali. Sudah saatnya para ahli tanaman pakan membuka diri untuk riset dalam tanaman pakan untuk unggas, jangan hanya berkutat pada tanaman pakan untuk herbivora saja.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Mandeknya Inovasi Bahan Pakan Pengganti Impor”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153