Oleh: Supriyatin
Nasib peternak rakyat menjadi salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab dengan sebuah solusi. Fakta ini juga dipertegas lagi dengan adanya keluhan dari para peternak melalui unjuk rasa meminta kenaikan harga ke pemerintah. Aksi pembagian ayam gratis di beberapa titik wilayah seperti di Yogyakarta, Rabu (26/6), merupakan bentuk protes kepada pemerintah bahwa kondisi peternakan rakyat sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Iklim usaha perunggasan yang tidak menentu membuat berbagai pihak sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis. Harga jual ayam yang sulit diprediksi, menjadikan bisnis ini seperti sebuah permainan judi.
Tidak berhenti sampai di situ, aksi demo juga digelar di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada awal September dan di Kementerian Pertanian pada tanggal 26 September 2019 sebagai buntut belum adanya solusi yang dapat membahagiakan peternak rakyat. Peternak menuntut pemerintah untuk menstabilkan harga ayam.
Peternak rakyat adalah aktor yang berdiri di dalam bisnis perunggasan, namun kendala yang sedang dirasakan oleh mereka banyak sekali, misalnya modal yang rendah dan tidak mampunya mengadopsi teknologi. Sedangkan perusahaan besar, mereka mengadopsi teknologi yang canggih dan mempunyai modal yang kuat. Jika ditambah lagi dengan keterpurukan harga di tingkat peternak, maka peternak akan mengalami beban ganda. Melihat kondisi yang demikian, sudah seharusnya pihak pemerintah memberi perhatian sehingga peternak tidak mengalami kerugian berkepanjangan.
Peran pemerintah yang seharusnya dapat dirasakan oleh peternak sebagai tempat berlindung, nyatanya masih dirasa kurang dan belum dapat meyakinkan pihak peternak. Perundang-undangan mengenai perunggasan masih dianggap belum berpihak. Penulis berpendapat, terkait dengan perundangan yang ada, pada beberapa titik memang perlu dirombak dan disesuaikan untuk lebih diarahkan pada pemberdayaan peternak rakyat.
Dalam melihat kondisi yang seperti ini, sinergi antar pemangku kepentingan di bidang perunggasan perlu diperkuat dalam mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia. Kejadian anjloknya harga ayam hidup ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Indonesia, akan tetapi jika tidak ditemukan solusi yang tepat, maka akan terus berulang dan merugikan, terutama bagi peternak rakyat. Penulis berharap kegaduhan di usaha perunggasan ini dapat segera berakhir, agar semangat para peternak rakyat tetap membara untuk memajukan peternakan Indonesia. *Mahasiswa Berprestasi Fakultas Peternakan UGM.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Nasib Peternak Rakyat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...