Kolaborasi saling menguntungkan adalah filosofi utama dalam prinsip ekonomi berbagi
POULTRYINDONESIA, Bandung – PT ASputra Perkasa Makmur (ASPM) membuat gebrakan berupa sistem kemitraan budi daya broiler yang berbeda dengan sistem kemitraan pada umumnya.
Nabia Nurhamdani selaku EVP Poultry Operations & Co Founder ASPM mengatakan konsep bisnis paranje adalah suatu ekosistem konsep ekonomi berbagi (sharing economy) sebagaimana konsep ini pernah disampaikan oleh Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia).
Menurut Nabia, Prof. Rhenald Kasali menyebutkan bahwa sharing economy atau ekonomi berbagi adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian dan kesejahteraan.
Partisipasi dari para pelaku yang terlibat di ekosistem tersebut berbagi peran masing-masing. Sementara aset-aset yang selama ini menganggur lebih diberdayakan. Semua pelaku melakukan peran masing-masing, maka nanti akan terjadi yang namanya bagi hasil.
“Jadi sharing di sini adalah bagi peran dan bagi hasil. Maka kesejahteraan dan efisiensi akan tercipta,” ujarnya saat penandatanganan nota kesepahaman antara ASPM dengan Yayasan Daarut Tauhid di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (21/4).
Sementara itu menurut Rifqi Ardliansyah yang merupakan EVP Business Operations & Co Founder ASPM dalam paparannya menjelaskan konsep paranje yang menjadi merek ASPM berbeda dari sistem kemitraan ayam pada umumnya.
Sistem kemitraan yang dimaksud yaitu memfasilitasi mitra melalui peminjaman kandang Closed House tanpa dibebankan biaya dengan sistem pemeliharaan yang dipantau dan dipandu menggunakan aplikasi berbasis digital.
Baca Juga: Rektor Unpad Tingkatkan Nilai Tambah Ekonomi Perunggasan dengan Kolaborasi
Selain itu pendampingan dan pemeliharaan selalu dimonitor oleh Technical Service yang kompeten termasuk tenaga kesehatan ayam.
“Proses pemeliharaan kami sudah berbasis digital sehingga manajemen produksi dan performa ayam yang dihasilkan menjadi efisien, efektif serta meminilisasi adanya human error,” tambah Rifqi.
Sistem kemitraan yang ditawarkan diharapkan bisa menjadi pemicu bagi peternak tradisional yang terkendala permodalaan namun ingin meningkatkan produktivitas ternak melalui peningkatan kandang menjadi modern atau Closed House.
“Melalui kandang Closed House semoga mampu menghasilkan produk yang berdaya saing dan juga meningkatkan kemakmuran perekonomian mereka sehingga secara tidak langsung kami juga turut berperan dalam memajukan industri perunggasan tanah air melalui penyediaan bahan pangan,” ujarnya.
Sejauh ini program yang sudah bisa dilaksanakan adalah Paranje5000 dan yang akan rilis adalah Paranje500. Paranje5000 sendiri yakni kerja sama peminjaman kandang berkapasitas 5.000 ekor, sedangkan Paranje500 yakni kandang berkapasitas 500 ekor.
Dalam hal ini jika peternak akan ikut Paranje5000 maka mesti menyediakan lahan seluas minimal 18×45 meter dengan luas kandang 6×30 meter serta listrik berdaya 5.500 Watt. Sementara jika akan ikut Paranje500, mesti menyediakan lahan seluas 5×9 meter dengan luas kandang 2×5 meter serta listrik berdaya 500 Watt.
“Sistem bagi hasil yang diterapkan jika ikut kemitraan Paranje5000 adalah 40% untuk inti dan 60% mitra, sedangkan Paranje500 35% untuk inti dan 65% mitra,” ujar Rifqi.