Kapal untuk logistik bahan pakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kedaulatan bahan pakan lokal bisa dikatakan cukup rapuh karena porsi bahan pakan impor masih sangat besar terutama untuk bungkil kedelai/soybean meal (SBM). Bahkan baru-baru ini komoditas tersebut harganya juga naik cukup signifikan sehingga berdampak pada naiknya harga pakan ternak.
Hal tersebut mengemuka dalam Poultry Indonesia Forum ke-12 yang diselenggarakan melalui Zoom, Sabtu (3/4). Diner Saragih, Kasubdit Bahan Pakan yang mewakili Direktur Pakan, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa kondisi bahan pakan saat ini untuk sumber energi pakan unggas yakni jagung sudah tidak impor lagi sejak tahun 2017, sedangkan untuk dedak padi juga masih bisa dicukupi dari dalam negeri. Namun, dirinya mengakui untuk SBM dan MBM 100 persen masih impor karena sama sekali belum bisa terpenuhi dari lokal.
“Dari tahun 2015-2020, volume impor bahan pakan sumber protein semakin meningkat yaitu pada tahun 2015 sebesar 57,30% dan tahun 2020 sudah mencapai 84%, tetapi untuk sumber energi, pengembangan jagung berhasil mengurangi ketergantungan bahan pakan sumber energi,” kata Dinner.
Berdasarkan angka yang dilaporkan, untuk tahun 2015 saja volume impor SBM sebesar 4.114.685 ton, sedangkan tahun 2020 meningkat menjadi 4.579.230 ton. Namun jika berbicara jagung untuk pakan ternak, pemerintah bisa berbangga diri karena mampu menurunkan angka impor menjadi nol persen. Volume impor jagung pada tahun 2015 sebanyak 2.741.984 ton, tahun 2016 turun drastis hingga hanya impor 884.679 ton. Sementara itu sejak tahun 2017 hingga 2020 sudah tidak impor lagi.
Masih menurut Saragih, impor yang masih tinggi untuk sumber protein pakan ternak disebabkan oleh berbagai faktor seperti ketersediaannya yang terbatas, produksinya masih skala kecil dan terpencar, ketersediaan tidak kontinyu (dipengaruhi alam dan musim) serta mutunya yang bervariasi.
“Solusi yang bisa dikerjakan yakni sinergitas antarlembaga untuk pembinaan dan pendampingan di tingkat petani, peternak maupun industri pengolahan dalam penerapan teknologi harus terus dilakukan. Lalu fasilitasi sarana, prasarana dan teknologi pendukung pada daerah-daerah sentra bahan pakan. Tidak lupa juga dukungan sistem logistik untuk menjamin pasokan,” ujarnya.
Baca Juga: Memperkuat Keberadaan Kedelai di Indonesia
Hal senada juga disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Nahrowi. Menurut Nahrowi, dari perhitungannya mengenai nilai ekonomi importasi SBM, dengan volume impor berkisar antara 3,15-5,25 juta ton per tahun dengan harga SBM Rp7.800 per kilogram, maka nilainya sebesar Rp24,6-41 triliun.
“Itu baru SBM, belum lagi untuk bahan pakan lain seperti Meat Bone Meal (MBM) dengan volume impor berkisar 0,63-1,05 juta ton per tahun, maka nilai ekonominya sebesar Rp5,5-9,2 triliun,” ujarnya.
Sementara itu menurut pakar kedelai Universitas Gadjah Mada, Dr. Atris Suyantohadi, berujar bahwa mayoritas kedelai nasional merupakn produksi dari provinsi yang berada di Pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Hanya ada tiga daerah di luar Jawa yang produksinya cukup besar yakni Nusa Tenggara Barat, Nanggroe Aceh Darussalam dan Sulawesi Selatan. “Jika ditotal dari 7 provinsi tersebut sebanyak 89 persen dari produksi nasional,” ujar Atris.
Sejauh ini, kata Atris, kendala yang dihadapi oleh petani kedelai adalah harga kedelai lokal saat menjelang panen sering anjlok sehingga menurunkan minat petani untuk menanam kedelai. Selain itu, kedelai di Indonesia juga hanya ditanam 1 kali dengan produktivitas masih rendah rata-rata nasional 1,2 ton/ha.
“Jika tadi disebutkan oleh narasumber sebelumnya importasi SBM sebesar 4,5 juta ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp41 triliun per tahun, maka potensi bertani kedelai di Indonesia memiliki prospek yang bagus karena kebutuhan untuk pakan ternak saja luar biasa besar. Hanya saja, masih perlu kerja sama dan keseriusan semua pihak,” jelasnya.