Stunting atau balita pendek merupakan fenomena yang ditandai dengan kurang tinggi atau panjang badan balita menurut umur anak (TB/U).
Indonesia merupakan negara dengan penduduk mencapai 267 juta jiwa dan terbesar ke-4 di dunia yang tentu mempunyai potensi yang sangat luar biasa. Tugas selanjutnya adalah bagaimana negara mengembangkan sumber daya manusianya, sehingga tidak hanya kuat dari sisi kuantitas tapi juga dari segi kualitas.

Besarnya populasi penduduk menjadi tantangan nyata bagi sebuah negara. Bagaikan dua sisi yang saling berlawanan, hal ini dapat menjadi sebuah kekuatan atau hanya berakhir menciptakan permasalahan baru.

Dalam sebuah talk show yang mengangkat tema “Mewujudkan SDM Unggul Indonesia melalui Pengendalian Stunting dengan Pangan Bergizi dan Terjangkau,” yang baru-baru ini terselenggara di Jakarta Selatan, Rabu (12/2), Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec yang merupakan pembicara kunci dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah pembangunan infrastruktur dan SDM. Bungaran Saragih juga menyayangkan kualitas SDM Indonesia yang saat ini masih jauh dari kata memuaskan terutama dari segi kecukupan gizi, sehingga ia menyarankan banyak sisi yang harus segera diperbaiki.
Berdasarkan Kamus Istilah Kesehatan, stunting atau balita pendek merupakan fenomena yang ditandai dengan kurang tinggi atau panjang badan balita menurut umur anak (TB/U). Balita pendek dapat disebabkan oleh kekurangan gizi yang berlangsung lama sehingga akan mengganggu pertumbuhan dan fungsi organ tubuh. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka stunting Indonesia berhasil ditekan 3,1% dalam setahun terakhir. Pada tahun 2018, angka stunting mencapai 30,8% dan turun menjadi 27,67% pada tahun 2019. Penurunan angka stunting ini merupakan sebuah kabar baik, akan tetapi belum dapat dikatakan memuaskan. Hal ini dikarenakan batas maksimal angka stunting yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) adalah 20 persen atau seperlima dari jumlah total anak balita.
Bungaran menjelaskan bahwa stunting merupakan masalah yang kompleks, penting, dan harus segera diselesaikan. Apabila dilihat secara mendalam, stunting tidak hanya berkaitan dengan bidang kesehatan semata. Fenomena ini disebabkan oleh faktor yang sangat beragam, seperti kemampuan mengakses pangan bergizi dan sehat, kurangnya tingkat pengetahuan dan ketersediaan pangan yang medukung. Berbagai macam faktor penyebab tersebut akan berkaitan erat dengan tingkat kemiskinan, pendidikan, lingkungan, kebijakan serta budaya pada masyarakat.
Baca Juga: Perlu Sinergi Antar Lembaga untuk Cegah Stunting
Dalam strategi penanggulangan stunting, Bungaran berpendapat bahwa perlu adanya peta yang detail dan komplit terkait persoalan ini. Peta tersebut mencakup peta sektoral, intra sektoral dan intra regional, bahkan peta vertikal. Ia menambahkan bahwa dalam penanganan stunting perlu adanya strategi nasional dan kekuatan kepemimpinan.
Dalam acara yang sama, Dr. Dhian Probhoyekti, Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, mengungkapkan bahwa permasalahan gizi di Indonesia bukan hanya tentang stunting atau kurang gizi saja, melainkan ada triple burden masalah gizi yang sedang dialami negara ini yaitu kurang gizi, kegemukan dan obesitas, serta defisiensi zat gizi mikro.
Strategi nasional dalam percepatan pencegahan stunting dengan menjadikan pencegahan stunting sebagai program prioritas nasional merupakan langkah yang tepat.  ”Saya berharap semua pihak dapat membantu mensukseskan program penanggulangan stunting ini,” ujarnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Penanggulangan Stunting untuk Menyiapkan Generasi Berdaya Saing”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153