Pada akhirnya, semua teknologi atau alat yang diciptakan ini ujungnya adalah untuk komersialisasi.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Soal tekonologi, harus diakui bahwa Indonesia sedikit tertinggal dengan negara-negara yang lain, bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Taiwan. Jika melihat banyak negara-negara maju sudah melakukannya sejak 3-5 tahun yang lalu, maka Indonesia sudah harus memulainya karena ada pepatah yang mengatakan bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Istilah ini sangat relevan jika diterapkan dalam dunia perunggasan agar dapat mengejar ketertinggalan.
Menurut Dr (cand). Ir. Audy Joinaldy, S.Pt, M.Sc, M.M, IPM, ASEAN.Eng, yang merupakan Chairman dari Perkasa Group, mengatakan bahwa di zaman industri 4.0 ini intinya adalah bagaimana implementasi dari Internet of Things atau IoT, di mana internet ini bisa menghubungkan banyak benda. Selain itu, perkembangan teknologi digitalisasi juga sudah banyak digunakan di negara lain, seperti teknologi drone, 3D printing, augmented reality, virtual reality, robotik, blockchain, serta artificial intelligence.
Audy menjelaskan tentang bagaimana penerapan teknologi digital untuk perunggasan, salah satunya yaitu teknologi drone yang banyak digunakan oleh negara-negara yang sudah menggunakan sistem cage free. Menurutnya, dengan menggunakan drone, pemilik atau para pekerja di kandang bisa melakukan pengawasan kondisi ayam mereka.
Hal yang lain yang juga sudah diterapkan di dunia perunggasan adalah 3D printing. Menurutnya, penggunaan 3D printing manakala ada sebuah kasus misalnya ketika ada kaki ayam yang patah, dengan 3D printing ini bisa dibuat kaki buatan yang mirip dengan kaki aslinya.
Teknologi digital lainnya yang bisa diterapkan di perunggasan adalah teknologi augmented reality dan virtual reality. Augmented reality jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi realitas berimbuh. Augmented reality ini bisa melihat apa yang mata manusia tidak bisa lihat, cara kerjanya yaitu melihat dari spektrum cahaya.
Baca Juga: Kilas Balik Teknologi Digitalisasi Perunggasan
Selain itu juga, sudah ada alat yang digunakan untuk menimbang berat badan secara otomatis. Alat itu ditanam di dalam tanah, sehingga berat badan ayam dengan mudah bisa terbaca. Terdapat juga alat yang disebut chicken translator, di mana alat ini bisa mendeteksi suara ayam untuk melihat apa yang tidak pas dari kondisi mereka, misalnya brooder yang kurang pas atau penggunaan kipas yang tidak sesuai, dan lain sebagainya.
Mengenai penggunaan robotik, Audy melihat sudah ada yang menggunakan robotik ini dalam peternakan di Jawa. Penggunaan robot kecil yang dimasukkan ke kandang untuk mendeteksi kadar ammonia, mendeteksi suhu dan kecepatan angin. Sedangkan untuk blockchain digunakan untuk memonitoring rantai pasok dan ketertelusuran (traceability) atau mulai dari ayam di kandang sampai dengan ayam itu di tangan konsumen.
Masih menurut Audy yang sedang mengembangkan teknologi digitalisasi poultry logistic, saat ini yang banyak digunakan di lapangan adalah kecerdasan buatan (AI).  Kecerdasan buatan tidak bisa diciptakan, tetapi dia belajar berdasarkan data-data pengalaman dari mesin itu sendiri.
Memang semua teknologi atau alat yang diciptakan ini ujungnya adalah untuk komersialisasi. Teknologi-teknologi digital ini memang belum semua dapat diadaptasi maupun diadopsi di Indonesia, namun suatu saat pasti akan tetap masuk ke negeri ini.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 dengan judul “Kilas Balik Teknologi Digitalisasi Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153