Berbagai macam tanaman herbal (sumber gambar:http://brackenburyclinic.com/hammersmith/therapies/herbal-medicine/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Indonesia termasuk ke dalam salah satu negara megabiodiversity di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, dalam hal ini ragam jenis flora dan fauna.
Beberapa jenis flora di Indonesia ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai sediaan obat, atau dikenal sebagai obat herbal. Potensi tanaman obat tersebut juga dapat menjadi sebuah peluang untuk memajukan industri perunggasan dan obat hewan Indonesia.
Pembahasan mengenai potensi tanaman obat tersebut dibahas lebih mendalam pada acara webinar Poultry Indonesia Forum series 10 melalui aplikasi Zoom, Sabtu (6/3).
drh. Dewi Sholihah mewakili Direktur Kesehatan Hewan mengatakan bahwa produsen obat hewan di Indonesia saat ini sudah mencapai 106 produsen.
Empat perusahaan memiliki sertifikat Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik untuk obat alami, 9 perusahaan memproduksi farmasetik, 8 perusahaan memproduksi sediaan biologik, 1 perusahaan memproduksi bahan baku, dan 35 perusahaan memproduksi premiks.
“Obat alami di Indonesia sangat melimpah,” jelasnya.
Sementara itu, Ir. Bagem Sofiana Sembiring selaku peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dalam presentasinya mengatakan bahwa usaha ternak unggas ini dapat mengalami kerugian sampai dengan 70% akibat penyakit yang disebabkan oleh agen patogen seperti protozoa, virus, bakteri, dan parasit.
Penggunaan suplemen yang berbasis herbal dalam hal ini dapat meningkatkan sistem imun unggas, menekan angka kematian, dan mendukung untuk produksi produk unggas organik.
“Keunggulan dari bahan yang berasal dari alam (herbal) cenderung mudah diperoleh, murah, dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, dan dapat meningkatkan produktivitas,” ucap wanita yang akrab disapa Ana ini.
Baca Juga: Kesehatan Unggas dengan Ramuan Herbal
Pada pemakaian dari bahan herbal ini, Ana memperingatkan untuk memerhatikan dari jenis bahan baku yang dipakai harus terstandardisasi, seperti mengetahui umur panen tiap jenis varietas tanamannya. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas bahan baku dan zat aktif yang terkandung dalam bahan aktif tersebut.
“Nanti ada hubungannya dengan khasiat sediaan yang dihasilkan,” tuturnya.
Mengenai tren dari pasar feed additive, termasuk di dalamnya sediaan herbal atau fitogenik, drh. Ahmad Wahyudin selaku Product Manager Kemin Asia Pasifik menyebutkan total market size industri feed additive di seluruh dunia pada tahun 2012 mencapai sekitar US$15 triliun dan diperkirakan akan tumbuh lebih besar pada tahun 2020-2025.
Ahmad mengatakan bahwa adoption rate dari feed additive fitogenik di indonesia sebesar 50%.
“Kami memperkirakan bahwa market size fitogenik feed additive di Indonesia sebesar US$17 juta. Angka yang cukup besar untuk digelut,” katanya.
Berdasarkan analisa SWOT yang dipaparkan oleh Ahmad, salah satu peluang dari tumbuhnya fitogenik di Indonesia yaitu kesadaran dari bahaya residu antibiotik dan kesadaran akan pencemaran lingkungan.
Sementara, tantangan yang dihadapi yaitu keraguan konsumen akan efikasi fitogenik bagi ternak, harga dari fitogenik yang tidak terjangkau, dan riset untuk pemanfaatan sumber daya.
“Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah untuk dijadikan produk fitogenik, namun kelemahannya yaitu dari segi teknologi dan riset belum memadai,” ujarnya.
Pendapat lain disampaikan oleh Kusno Waluyo, S.Pt.,M.M selaku pemilik Sekuntum Herbal Farm. Kusno yang sudah 13 tahun memakai herbal untuk peternakannya mengatakan bahwa pemakaian sediaan herbal memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkannya yaitu telur.
“Mengapa menggunakan herbal, karena herbal itu murah, aman, bersifat alami, memanfaatkan kearifan lokal, serta memiliki nilai tambah bagi kesehatan,” pungkasnya.