Peternakan layer yang menggunakan sistem kandang baterai
Oleh: drh. Seftian Syahri Putra*
Rasa takut dan was-was terhadap serangan penyakit selalu saja hadir di peternakan unggas di dunia, termasuk Indonesia. Datangnya bibit penyakit akan memberikan dampak kerugian bagi peternak karena dapat menurunkan produksi, baik produksi daging pada broiler maupun produksi telur pada ayam layer karena adanya kesakitan (morbiditas) atau bahkan kematian (mortalitas).

Pengendalian yang cepat dan tepat dalam mencegah atau mengatasi koksidiosis diharapkan mampu mencegah atau meminimalkan kerugian.

Indonesia merupakan negara beriklim tropis, sehingga menjadikan tingginya kesempatan bibit penyakit seperti virus, bakteri, parasit, hingga jamur dapat bertahan hidup dan berkembang dengan baik. Hal inilah yang mengharuskan kita untuk selalu waspada akan peluang kejadian suatu penyakit pada ayam. Salah satu penyakit yang sangat sering menyerang ayam dan menimbulkan kerugian yang tinggi adalah koksidiosis. Lalu, sebenarnya penyakit seperti apakah koksidiosis?
Bahayanya koksidiosis
Penyakit koksidiosis atau sering dikenal dengan sebutan berak darah disebabkan oleh Eimeria sp, yakni suatu parasit protoza dan terdiri atas bermacam spesies yang dapat menyerang ayam. Setidakya ada kurang lebih 7 spesies Eimeria sp yang dapat menyebabkan sakit pada ayam, yaitu Eimeria praecox (E. praecox), E. mitis, E. acervulina, E. brunetti, E. necatrix, E. Tenella, dan E. maxima. Setiap spesies umumnya memiliki lokasi predileksi atau tempat yang disukai untuk berkembang dalam usus (Tabel 1).
Tabel 1. Lokasi predileksi Eimeria sp pada ayam
Spesies
Tempat Predileksi pada Usus
E. preacox
Duodenum, jejunum
E. mitis
Ileum
E. acervulina
Duodenum, ileum
E.tenella
Sekum
E. necatrix
Jejunum, ileum, sekum
E. brunetti
Sekum, rektum
E.maxima
Jejunum, ileum
Sumber: Gari.et.al 2008; Quiroz-Castaneda dan Dantan-Gonzales (2015)
Selama masa hidupnya, Eimeria sp memiliki 2 tahap perkembangan yaitu tahap eksogenous (di luar tubuh) dan endogenous (di dalam tubuh). Mula-mula ayam terinfeksi mengeluarkan Ookista ke lingkungan bersama feses dan akan bersporulasi menjadi infektif dalam waktu 15-30 jam tergantung spesies dan kondisi lingkungan. Ookista yang sudah bersporulasi mampu bertahan hingga 2 hari pada suhu ruang atau bahkan berbulan-bulan jika suhu kandang rendah dan kelembaban tinggi, terutama pada litter atau alas kandang. Ookista tersporulasi yang tertelan oleh ayam lain akan pecah menjadi sporokista.
Selanjutnya, sporokista akan menghasilkan sporozoit infektif yang akan menembus usus dan berkembang menjadi schizont dalam waktu singkat. Schizont yang matang akan pecah dan melepaskan ratusan merozoit ke dalam lumen usus. Merozoit akan terus membelah diri (aseksual) sehingga jumlahnya semakin banyak dan menembus sel usus secara terus menerus.
Baca Juga: Diagnosis dan Penanganan Koksidiosis di Lapangan
Kerusakan akan usus akibat aktifitas merozoit inilah yang biasanya menyebabkan perdarahan. Setelah merozoit sudah cukup banyak membelah, akan dihasilkan gamet jantan dan gamet betina. Kedua gamet ini akan bereproduksi (seksual) sehingga menghasilkan zigot yang selanjutnya akan dikeluarkan bersama feses ke lingkungan sebagai ookista setelah dibungkus dengan lapisan pelindung. 
Kerusakan usus akibat sporozoit dan merozoit berlangsung dari hari ke 4 hingga ke 6 setelah infeksi dengan total siklus rata-rata Eimeria sp hingga dapat ditemukan ookista pada feses yaitu 7 hari. Ookista akan terus dikeluarkan dengan puncak pada hari ke-8, dan mulai menurun pada hari ke-11. Ayam terinfeksi akan menunjukkan gejala yang bervariasi, mulai dari lesu, kurang nafsu makan sehingga feed intake menurun dan feed convertion rate (FCR) meningkat, berat badan tidak tercapai, penurunan produksi telur anemia, berak darah, penurunan hingga kematian (lebih dari 50 %).
Infeksi Eimeria sp juga bersifat imunosupresi. Hal ini dikarenakan adanya kerusakan usus akan menyebabkan penyerapan (absorbsi) nutrisi akan terganggu sehingga pembentukan antibodi akan terganggu. Selain itu, organ kekebalan seperti peyer’s petches dan caeca tonsil akan rusak, serta imunoglobulin A (Ig A) pada permukaan usus pun akan menurun.
Adanya imunosupresi ini akan dapat menyebabkan penyakit lain masuk, misalnya penyakit necrotic enteritis (NE) yang sangat sering terjadi mengikuti kasus koksidiosis pada ayam. Penyakit koksidiosis dapat menular secara langsung dari ayam sakit ke ayam sehat, ayam yang sakit akan mengeluarkan ooskista melalui fesesnya, kemudian ookista yang keluar bersama feses akan mengontaminasi pakan atau air minum sehingga menginfeksi ayam lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tahu bagaimana cara untuk mencegah dan menangani kasus koksidiosis sehingga kerugian dapat dihindari atau diminimalisir.*Staff Technical Education and Consultation di salah satu perusahaan obat hewan.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2020 ini dilanjutkan pada judul “Berbagai Langkah Pengendalian Koksidiosis”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153