Layer yang berada pada kandang
Oleh: drh. Andi Ibrahim Risyad*
Jika membicarakan kasus koksidiosis pada unggas memang tidak akan pernah ada habisnya. Serangan protozoa aplicomplexa dari genus Eimeria ini menjadi problematika utama terhadap adanya ketidakefisiensian pemanfaatan pakan akibat saluran pencernaan mengalami kerusakan pada bagian usus. Koksidia juga turut membuka pintu gerbang terhadap terjadinya penyakit lain.

Kontrol maupun penanganan kasus koksidia pada layer fase starter ini hendaknya perlu dilakukan semaksimal mungkin karena akan berpengaruh pada kualitas produksi telur di kemudian hari.

Berdasarkan laporan penyakit unggas pada tahun 2018-2020 oleh PT Ceva Animal Health Indonesia, kasus koksidiosis pada peternakan broiler dan layer atau breeder di Pulau Sumatra dan Jawa sebesar 3,84%. Koksidiosis juga masih menjadi masalah yang serius pada dunia perunggasan di Indonesia. Kerugian akibat koksidiosis sangatlah tinggi dan tindakan pengobatan sendiri cenderung tidak dapat menghindari kerugian ekonomi. Nilai kerugian di seluruh dunia akibat koksidiosis diestimasikan mencapai US$2-3 triliun per tahun. Kerugian yang terjadi akibat koksidia terjadi tidak hanya mengganggu pada efisiensi penyerapan nutrisi yang ditandai dengan buruknya FCR, kasus koksidia sub klinis juga dapat menimbulkan buruknya pertumbuhan, performa produksi, dan uniformitas.
Parasit intraseluler yang termasuk dalam parasit obligat ini akan menyerang sel epitel dari usus. Dua jenis Eimeria yang memiliki patogenitas tinggi di antaranya E. tenella yang ditemukan pada sekum dan E. necatrix pada daerah duodenum sampai divertikulum kuning telur. Akan tetapi terjadinya infeksi juga dapat disebabkan oleh lebih dari satu jenis Eimeria. Infeksi akibat koksidia pada ayam terjadi ketika ayam mengonsumsi ookista infektif dalam jumlah tertentu. Ookista infektif merupakan ookista yang telah bersporulasi. Suhu efektif ookista untuk bersporulasi yaitu sekitar 21-32 °C dengan kadar oksigen dan kelembapan yang mencukupi. Keadaan tersebut membuat waktu sporulasi berlangsung cukup singkat yaitu 1-3 hari.
Terdapat beberapa alasan mengapa koksidiosis masih menjadi momok pada kesehatan saluran pencernaan ayam, terutama jika kandang yang terlalu padat. Kondisi tersebut mempermudah koksidia untuk berakumulasi dan berpindah dari satu individu ke individu lainnya dalam kandang. Perpindahan ini terjadi akibat memakan atau meminum pakan maupun air yang terkontaminasi ookista koksidia.
Pada layer, koksidiosis terjadi pada fase awal pertumbuhan, yaitu pada sekitar umur 3-4 minggu. Fase ini rentan terhadap kasus koksidia apabila ayam tersebut dipelihara dalam kandang sistem baby box. Penggunaan tipe kandang ini digunakan pada layer umur 0-5 minggu. Kandang tersebut biasanya diisi oleh sekitar 100 ekor ayam dengan menggunakan tempat pakan berbentuk nampan serta baby drinker. Penggunaan tempat pakan tersebut berlangsung hingga sekitar 3 minggu, sedangkan penggunaan baby drinker dilakukan terus-menerus.
Penggunaan kedua tempat makan dan minum serta jumlah populasi tersebut menjadi faktor pendukung terjadinya koksidiosis pada layer muda. Hal tersebut disebabkan ayam menginjak-injak tempat pakan dan tidak jarang pakan tercampur dengan feses. Hal serupa terjadi pada tempat minum, sehingga keduanya terkontaminasi oleh feses yang mengandung ookista koksidia. Seharusnya tempat pakan ini memang sudah didesain untuk diletakkan di ujung sisi kiri dan kanan kandang setelah 14 hari. Hal tersebut dapat meminimalisir penyebaran koksidia melalui tempat pakan. Dari segi populasi, kandang baby box idealnya diisi sekitar 80 ekor ayam.
Kasus koksidia pada layer umur 3 minggu disebabkan karena beberapa hal. Pertama, pada umur 3 minggu, saluran pencernaan ayam sudah berkembang dengan sempurna sehingga tantangan penyakit seperti koksidia akan muncul. Kedua akumulasi ookista pada feses maupun alas kandang paling banyak pada umur ayam 3-5 minggu, setelahnya jumlahnya akan menurun. Ookista E.tenella sebanyak 103 dapat menyebabkan timbulnya feses berdarah. Perdarahan tersebut disebabkan oleh schizonts generasi kedua E. tenella dan E. necatrix berkembang di dalam lamina propia, sehingga mukosa yang berasosiasi dengan pembuluh darah menjadi terganggu dan rusak ketika schizont matang dan merozoit dilepaskan.
Baca Juga: Berbagai Langkah Pengendalian Koksidiosis
Berdasarkan pegalaman penulis pada temuan kasus koksidiosis layer starter yang terserang koksidia menunjukkan penurunan nafsu makan yang ditandai dengan penurunan feed intake di bawah 25 gram/hari pada minggu ke 3, diare, kelemahan, dan adanya depigmentasi atau kepucatan pada kaki. Pada saat bedah bangkai, ditemukan adanya petekie pada sekum. Kerusakan yang parah pada sekum dapat ditandai dengan timbulnya gas yang disertai dengan perdarahan, namun kebanyakan terjadinya koksidiosis di layer bersifat subklinis. Tingkat morbiditas dan mortalitas dari koksidiosis pada layer fase starter sangat besar yaitu sekitar 80% dan 60% secara berurutan.
Tingkat keparahan kasus koksidiosis dapat diukur dari kerusakan pada usus, mikroskopis, dan penampakan feses. Keparahan kerusakan usus ini menggunakan metode Johnson dan Reid. Metode tersebut mengategorikan ukuran lesio 0-4. Nilai 0 untuk usus yang normal, sementara 4 untuk usus yang terdampak koksidiosis parah. Metode penilaian penampakan feses juga memilik rentang nilai yang sama, dimana nilai 4 untuk feses yang diare dengan mukus, berair, dan/atau adanya darah (Swayne, 2013). 
Kerusakan jaringan pada saluran pencernaan memungkinkan bakteri-bakteri patogen untuk berkembang dan menimbulkan penyakit yang memperburuk kesehatan ayam maupun meningkatkan angka mortalitas. Beberapa bakteri tersebut diantaranya Colostridium perfringens yang menimbulkan necrotic enteritis (NE), Salmonella typhimurium, atau Histomonas meleagridis pada ayam.
Koksidia juga turut berkontribusi dapat menurunkan sistem imun pada ayam, sehingga penyakit lainnya mudah masuk. Adanya pengaruh dari penyakit immunosupresif juga dapat memperparah terjadinya koksidiosis. Sebagai contoh, kedua ‘kombo’ penyakit yang seringkali penulis temukan di lapangan pada layer starter yaitu kasus koksidiosis dan IBD. Penyakit immunosupresif tersebut menekan pembentukan sistem imun yang digunakan untuk melawan koksidiosis. Hal tersebut tentu akan mempersulit penanganan maupun pengobatan koksidiosis pada kandang.
Terkait dengan musim, saat ini, ketika musim hujan berlangsung, peternak perlu waspada akan tingginya kasus koksidiosis. Peningkatan insidensi koksidiosis pada ayam disebabkan oleh tingginya kelembapan, sehingga kotoran akan basah. Disamping itu, musim hujan juga dapat berpengaruh terhadap penurunan sistem imun ayam. *Technical Service PT East Hope Agriculture Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2021 ini dilanjutkan pada judul “Siap sedia dengan Penanganan Koksi yang Tepat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153