Kerabang telur ayam yang lembek dan pucat dapat menjadi tanda EDS (sumber: sumber poultryworld)
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Ayam modern baik broiler maupun layer dibekali oleh genetik unggul hasil dari pemuliaan yang panjang untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Hal tersebut terbukti dari semakin dininya waktu awal produksi dan panjangnya masa apkir pada layer. Berdasarkan keterangan di lapangan, saat ini untuk masa awal produksi pada umur 18-20 minggu, puncak produksi saat umur 24-25 minggu, dan masa apkir layer bisa mencapai umur 90-100 minggu. Spesifikasi yang terlihat menggiurkan tersebut, bukan berarti ayam modern menjadi tidak bercela. Cepatnya pertumbuhan dan metabolisme ayam akan menimbulkan stres internal yang berasal dalam tubuh dan berpengaruh pada penurunan sistem imunitas ayam.

Produksi telur menjadi sebuah tolak ukur keberhasilan suatu pemeliharaan, oleh sebab itu perlu adanya perhatian khusus terhadap manajemen pemeliharaan agar penyakit seperti EDS tidak mengacaukan ritme produksi.

Faktor lain yang mendukung penurunan antibodi yaitu ancaman stres lingkungan. Artikel mengenai ini pernah dibahas sebelumnya pada majalah Poultry Indonesia edisi bulan Februari 2020. Penurunan sitem imunitas ini memudahkan ayam untuk terserang mikroorganisme patogen, seperti bakteri, protozoa, dan virus. Artikel ini akan lebih membahas mengenai gangguan virus pada layer yaitu Egg Drop Syndrome beserta faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan dapat diperbaiki dalam manajemen pemeliharaan.
Egg Drop Syndrome (EDS) merupakan virus yang umum menyerang peternakan layer fase produksi berupa penurunan produksi telur hingga (10-40%) secara tiba-tiba atau gagalnya mencapai puncak produksi dari ayam tersebut. Kerugian ekonomi jelas terjadi pada penurunan produksi telur, namun dari segi kematian ayam tidaklah signifikan. Perubahan yang terjadi pada telur dikarakteristikan oleh produksi telur yang memiliki bentuk cangkang lunak pada ayam yang terlihat sehat.
Identifikasi awal penyakit EDS terkadang sulit dilakukan karena ayam sering kali memakan kerabang lunak sehingga hanya meninggalkan membran saja, sehingga tanda awal penyakit tersebut sering kali terlewatkan. Meskipun ayam secara fisik terlihat sehat, gejala klinis yang menyertai sebelum terbentuknya kerabang yang lunak yaitu diare dan warna kerabang maupun kuning telur yang pudar.
Baca Juga: Diagnosa Penyakit Infectious Bronchitis
Perubahan pada cangkang telur maupun membran luarnya disebabkan oleh virus yang memiliki kecenderungan untuk tinggal dan memperbanyak diri di saluran reproduksi ayam betina. Temuan di lapang saat dilakukan bedah bangkai menunjukkan oviduk yang menjadi kendur serta membengkak dan berisi cairan (odema). Pada lipatan uterus juga ditemukan odema maupun pembengkakan dan terkadang ditemukan materi pembengkakan berwarna kekuningan di antara lipatan mukosa. 
Gambaran telur pada ayam yang terserang EDS akan menyerupai Infectious Bronchitis (IB), Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI). Faktor yang menjadi pembeda antara ketiga penyakit tersebut yaitu timbulnya gejala sakit. Perbedaan lainnya dengan IB yaitu postur ayam saat berdiri menyerupai penguin dan pada saat dilakukan bedah bangkai, pada ruang abdomen mayoritas ditutupi oleh oviduk yang membesar karena berisi cairan atau disebut juga dengan kista oviduk, atas konsekuensi tersebut dinding dari oviduk menjadi sangat tipis dan transparan. Penampakan tersebut biasanya dijumpai pada kasus IB strain QX. Perubahan pada bentuk telur ayam yang terserang IB yaitu albumin luar dan dalam telur menjadi encer, sementara EDS hanya menunjukkan penurunan kekentalan pada albumin bagian luarnya saja.
Infeksi yang disebabkan oleh adenovirus ini memiliki waktu inkubasi sekitar 3 sampai 5 minggu dengan waktu berjalannya penyakit dari 4-10 minggu. Penyakit yang rentan menyerang ayam layer betina umur 36 minggu ini dapat menularkan virus ke ayam lainnya baik secara vertikal maupun horizontal. Penyebaran secara horizontal umumnya dipicu oleh tidak adanya penerapan biosekuriti di kandang. Seperti tray telur yang terkontaminasi, fomites yang dibawa oleh manusia, dan adanya hewan liar dalam kandang. Kasus endemik EDS dalam suatu kandang sering kali dihubungkan dengan kontaminasi pada tray telur. Penyebaran penyakit melalui tray telur ini juga dikategorikan menjadi faktor utama penyebaran penyakit.
Inang alami dari penyakit ini yaitu unggas air, seperti bebek dan angsa dapat menjadi pembawa EDS. Hal tersebut juga diungkapkan seorang peternak bernama Haji Eman saat diwawancarai Poultry Indonesia di Kabupaten Majalengka, Selasa (6/8/2019). Haji Eman mengungkapkan, saat pertama kali mulai belajar beternak layer, pada saat bersamaan juga memelihara bebek pada lokasi yang sama, akibatnya ayam yang dipeliharanya justru terkena EDS. Hal tersebut menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi Eman untuk memisahkan ayamnya dari unggas air.
Faktor lain yang dapat menularkan penyakit secara horizontal yaitu pada saat vaksinasi. Ayam yang terkena EDS akan mengalami viremia, yaitu masa di mana virus berada dalam aliran darah. Perlu kesadaran dari peternak untuk melakukan sterilisasi jarum beserta peralatan lainnya yang digunakan untuk proses vaksinasi pada ayam.
Infeksi secara vertikal terjadi karena EDS tidak mempengaruhi fertilitas maupun kemampuan menetasnya. Ayam yang menetas dari telur yang terinfeksi dapat membentuk suatu antibodi terhadap virus EDS dan mengekskresikannya, akan tetapi virus tersebut lebih sering ditemukan laten, dalam arti virus tersebut hidup namun tidak aktif. Virus tersebut akan kembali aktif dan berkembang di oviduk ketika ayam memasuki fase bertelur. Siklus tersebut akan berulang setelahnya. Meskipun EDS menurunkan kualitas pada telur, penyakit ini tidak menimbulkan pengaruh pada kesehatan manusia.*Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2020 ini dilanjutkan pada judul “Perlunya Tindakan Pencegahan Untuk Tangani EDS”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153