Tanaman temulawak yang ditanam sendiri oleh Kusno Waluyo.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pasar untuk produk herbal di dalam negeri sendiri sudah mulai meningkat, walaupun awalnya tidak mudah untuk mensosialisasikan produk herbal untuk peternak. Adanya edukasi maupun pemahaman pada peternak akan bahaya memakai antibiotik secara berlebih, drh. Wayan Wiryawan selaku direktur PT Farma Sevaka Nusantara berharap perlu adanya dukungan dalam diri maupun komitmen tiap peternak untuk menghasilkan pangan yang aman untuk masyarakat.
“Secara bertahap memang mau, tapi peternak butuh bukti terlebih dahulu. Kalau hasilnya lebih baik daripada antibiotik, pasti dia juga merasa akan terbantu. Jelas pengganti antibiotik ini secara biaya masih lebih tinggi, namun begitu peternak melihat return of investment-nya, fitogenik lebih memiliki keunggulan daripada menggunakan antibiotik yang lebih sedikit manfaatnya daripada kekurangannya,” jelasnya.
Wayan berharap, ke depannya produk herbal atau fitogenik di Indonesia dapat berkembang pesat karena memiliki kekayaan alam, salah satunya tumbuhan herbal yang melimpah yang dapat menunjang perekonomian bangsa. Ia mengimbau pada generasi muda untuk dapat berkontribusi dalam memajukan bangsa.
Baca Juga: Kembali Ke Alam
Manfaat menggunakan tanaman herbal juga dituturkan oleh Kusno Waluyo, peternak ayam layer dari Sekuntum Herbal Farm yang berlokasi di Lampung Timur. Ia menyatakan bahwa awal ketertarikannya menggunakan herbal yaitu saat mengetahui tetangganya menunjukan reaksi gatal akibat alergi saat memakan telur sehingga ia berkeinginan tidak menggunakan produk kimiawi atau sintetik. Berdasarkan pengalamannya tersebut, Kusno Waluyo berinisiatif untuk membuat herbal racikannya sendiri. Bahan produk herbal tersebut, sebagain besar (85%) ia dapatkan dari hasil tanam sendiri.
Kusno menambahkan, bahwa dalam penggunaan produk herbal perlu disertai dengan penggunaan produk penunjang lainnya seperti probiotik maupun manajemen pemeliharaan yang baik seperti biosekuriti. Produk telur herbalnya yang sudah teruji di Universitas Gadjah Mada juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada telur ayam komersial dan sudah memiliki pasarnya sendiri. Telur-telur tersebut yang dikemas dengan kemasan premium dijual 30-35 ribu rupiah per bungkusnya.
Produk Herbal untuk perunggasan asal Indonesia sendiri saat ini bahkan ada yang sudah menembus pasar internasional seperti Kamboja dan Malaysia. Melimpahnya sumber bahan dalam negeri, khususnya tumbuhan herbal sudah sepatutnya mendorong bangsa Indonesia menjadi pionir dalam penyediaan produk herbal yang akan berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan produk hewan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) bagi seluruh warga negaranya. Esti, Yafi
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Kembali Ke Alam” Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153