Pelleting merupakan salah satu bentuk teknologi pakan. (sumber gambar: http://www.feedpelletplants.com/)
POULTRYINDONESIA, Bogor – U.S Soybean Export Council (USSEC) mengadakan webinar berjudul ‘Broiler Nutrition and Feed Technology’ yang dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis (3-4/6) secara virtual.
Prof. Budi Tangendjaja selaku moderator dalam seminar selama dua hari yang dibagi menjadi empat sesi ini, mengatakan bahwa seminar ini seharusnya dilakukan secara fisik namun harus diubah menjadi virtual karena adanya pandemi COVID-19.
Pada seminar sesi pertama hari pertama, Dr. Alex Corzo selaku Senior Poultry Nutritionist Aviagen dalam paparannya yang berjudul ‘Establishing the Nutrient Requirements of Broilers and Broiler Breeders’ mengatakan bahwa nutrisi digunakan untuk menjaga kesehatan unggas dan performanya.
Alex memaparkan beberapa komponen nutrisi yang penting pada pertumbuhan dan produksi telur di antaranya energi dan asam amino.
“Energi merupakan komponen yang penting dan berpengaruh untuk meningkatkan massa tubuh dan produksi telur, tetapi tidak boleh terlalu berlebihan,” jelasnya.
Alex menambahkan bahwa manajemen yang baik seperti vaksinasi dan nutrisi mampu mendukung broiler untuk memaksimalkan potensi genetiknya.
Alex juga menjelasakan kebutuhan energi dipengaruhi oleh lingkungan yang dapat memengaruhi kebutuhan energi dari ayam. Pada penelitian perubahan suhu dan skor bulu, semakin rendah suhu dan tingginya skor kehilangan bulu, maka kebutuhan energi akan semakin tinggi. Kebutuhan nutrisi pada broiler dan breeders juga perlu diperbaharui dan dilakukan pengamatan setiap tahunnya karena pertumbuhan broiler semakin cepat dan efisien.
Baca Juga: Maksimalkan Produksi Perhatikan Kepadatan Kandang
Pemaparan selanjutnya yang diberikan oleh Ruben Kriseldi selaku kandidat doktor dari Department of Poultry Science of Auburn University mengenai ’Low Protein Diet in Broiler Production’.
Ruben mengatakan bahwa saat ini lingkungan telah banyak tercemar oleh amonia yang berasal dari peternakan unggas. Mengurangi jumlah protein kasar tidak hanya akan mencegah terjadinya menurunkan emisi amonia, tetapi juga pododermatitis maupun kolonisasi Colostridium perfringens pada ayam.
”Kadar protein kasar yang rendah akan menurunkan water intake sehingga menurunkan kelembapan dari litter sehingga kejadian pododermatitis dapat ditekan,” ucapnya.
Ruben mengingatkan bahwa dengan penurunan jumlah protein kasar, juga dapat memberikan pengaruh negatif pada ayam, yaitu dapat menyebabkan penurunan performa dan karakteristik karkas.
”Mengatur konsentrasi dari asam amino perlu dilakukan untuk menurunkan kadar protein kasar dalam diet pakan. Posibilitas untuk menurunkan protein kasar sekitar 1,5% hingga 2,5% tanpa menurunkan performa dan karakteristik karkas,” ujarnya.
Webinar kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator setelah pemaparan dari pemateri berakhir. Esti