Ditulis oleh : Tony Unandar
Walaupun lebih dari 8 dekade telah terbukti memberikan andil efisiensi performa yang signifikan, namun penggunaan imbuhan pakan berupa antibiotic growth promoter (AGP) tetap saja mengundang pro-kontra. Memang, sejatinya penggunaan preparat antibiotika dalam dunia kedokteran hewan dan peternakan bagi food producing animals ibarat pedang bermata dua, tak berbeda dengan penggunaan probiotika ataupun preparat alami lainnya. Dimensi efektifitas dan residu merupakan dua hal yang selalu harus dipertimbangkan secara kritis dan jujur. Keterkaitan antara kualitas diagnosa lapang, pemilihan serta penentuan program antibiotika yang dibuat tentu saja akan berpengaruh menentukan hasil akhir, apakah memberikan efek positif atau efek samping yang jauh lebih besar.
Baca Juga : AGP Berlalu, Hadirlah Medicated Feed Bagian 1
Membuat perbandingan antara dua jenis preparat antibiotika dan atau antara preparat antibiotik dengan preparat non-antibiotik (alami), sama saja seperti membandingkan apel dan jeruk. Tegasnya, sangatlah sulit untuk dilakukan dengan baik dan secara fair. Masing-masing bahan aktif senyawa kimia (organik ataupun sintetik) yang terkandung didalamnya jelas mempunyai variasi sifat-sifat fisik, kimiawi dan biologis yang kadang kala memengaruhi mekanisme kerja yang dalam mengeliminasi dan atau menahan laju mikroba yang menginvasi hewan ternak. Itulah sebabnya, kebingungan sering kali dialami oleh para peternak dalam memilih preparat-preparat yang tersedia di lapangan yang akan digunakan untuk mengurangi problem infeksius yang mengerosi performa akhir ternak, terutama pada peternakan rakyat.
“Penggunaan preparat antibiotika dalam dunia kedokteran hewan dan peternakan bagi “food producing animals” ibarat pedang bermata dua, tak berbeda dengan penggunaan probiotika ataupun preparat alami lainnya”.
Memang, efektivitas adalah hal yang sangat relatif dalam proses pemilihan tersebut. Efektivitas yang rendah bukan saja dapat berarti gagalnya suatu program pencegahan atau pengobatan suatu kasus penyakit, akan tetapi juga berarti makin terkontaminasinya lingkungan peternakan yang bersangkutan oleh agen penyakit yang sedang dihadapi. Kerugian secara ekonomis dan juga psikis yang berlipat ganda jelas akan dialami oleh peternak dalam waktu yang bersamaan. Mencermati preparat-preparat antibiotika yang beredar di pasaran, ada dua kelompok besar, yaitu yang bersifat bakterisidal dan bakteriostatik. Antibiotika yang bersifat bakterisidal akan membunuh bibit penyakit dengan “titik tangkap” yang berbeda-beda, sedangkan antibiotika bakteriostatik hanya mampu menghambat pertumbuhan bibit penyakit tersebut. Kadang-kadang, pembagian ini tidaklah terlalu jelas.
Beberapa antibiotika dapat juga bersifat bakterisidal pada konsentrasi atau dosis tertentu, dan dapat bersifat bakteriostatik dalam tingkat konsentrasi atau kondisi tertentu. Walaupun pertimbangan secara teknik farmakologis penggunaan suatu preparat antibiotika sudah gamblang direkomendasikan, namun pada kondisi lapangan sesungguhnya, pemilihan antara kedua kelompok antibiotik tersebut sangatlah variatif karena adanya unsur preferensi dari yang mengambil keputusan akhir. Penulis merupakan Anggota Dewan Pakar ASOHI
Artikel ini adalah cuplikan dari artikel yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 74 dengan judul “Antibiotika dan Refleksi Pasca Non-AGP”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153