Kuliah umum yang dibawakan oleh Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy bertajuk “Antisipasi Menghadapi Persaingan Global dalam Era Revolusi Industri 4.0”.
Wirausaha akan menjadi bidang yang berkembang pada Revolusi Industri 4.0 karena kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menentukan peluang, dan mengubah ide tersebut menjadi sesuatu yang baru dan berguna bagi masyarakat.
Kebutuhan manusia terhadap peternakan sebagai salah satu penyedia bahan pangan sumber protein setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Bahkan sejak tahun 1798, Robert Malthus sudah mengemukakan teori kependudukan berbanding kebutuhan pangan dimana “Laju pertumbuhan penduduk berjalan seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan berjalan seperti deret hitung”, yang artinya laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan. Dampaknya, jika kedua laju pertumbuhan tersebut –pangan dan penduduk- tidak dapat diatur dengan baik akan menyebabkan manusia mengalami krisis pangan yang luar biasa.
Sejalan dengan hal tersebut, peternakan saat ini sudah menjadi bagian dari industri yang erat kaitannya dengan mekanisasi dan produksi massal. Peternakan sudah bukan lagi sampingan yang dimiliki oleh keluarga, misalnya dengan pemeliharaan satu-dua ekor ternak di rumah, namun menjadi komoditas dengan persaingan global bertensi tinggi. Terlebih, saat ini dunia industri sudah memasuki era baru Revolusi Industri 4.0 atau biasa disebut Era Disrupsi. Era yang “mengganggu”, berjalan secara acak dan dinamis, merusak pola kerja lama dan menciptakan pola/tatanan kerja baru dengan mengadopsi Internet of Things (IoT) dan Cyber Phisical System.
Era disrupsi tersebut akan mendorong para stakeholder peternakan untuk membuka wawasan baru supaya lebih siap merencanakan dan menghadapinya. Salah satunya dengan memproyeksikan para mahasiswa untuk lebih mengembangkan diri, mengasah skill yang mumpuni, sehingga menjadi kader peternakan terlatih yang mempunyai kecakapan dalam menghadapi Era Disrupsi, seperti melahirkan wirausahawan peternakan dengan ide cemerlang dengan jiwa sosial yang tinggi (sosiopreneurship).
Kuliah umum diikuti oleh mahasiswa Undip dan dihadiri para tamu undangan.
Pada 23 Agustus 2018 lalu, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro menggelar Kuliah Umum dengan judul “Antisipasi Menghadapi Persaingan Global dalam Era Revolusi Industri 4.0” yang dibawakan oleh Presiden Direktur PT. Charoen Pokphand Indonesia, Dr.(H.C.) Tjiu Thomas Effendy, S.E., MBA. Kuliah umum tersebut dihadiri ratusan mahasiswa dari Fakultas Peternakan dan Pertanian, Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Teknik, dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro.
Dalam Kuliah Umum tersebut, Thomas mengajak para mahasiswa untuk lebih jeli dalam meniti karir pada era baru ini, sebab hadirnya Revolusi Industri 4.0 akan menghilangkan banyak pekerjaan karena sudah berubah menjadi otomatisasi. “Hanya pekerjaan non-rutin dengan kecakapan sosial dan kreativitas yang masih akan bertahan karena pada era ini juga manusia akan bersaing dengan kecanggihan robot Artificial Intellegence,” jelas Thomas. Era ini, selain menjadi tantangan juga menjadi peluang yang besar bagi sektor Peternakan, sebab pada cetak biru Kementerian Perindustrian menuju Indonesia 4.0, terdapat 5 sektor industri yang menjadi prioritas pembangunan menuju Revolusi Industri dimana pada prioritas pertama adalah sektor pangan, kemudian tekstil dan busana, diikuti dengan sektor otomotif, elektronika, dan kimia.
Untuk menjalankan visi tersebut Thomas menjelaskan, akan dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap dari sektor peternakan. Inisiatif tersebut dapat dimulai dengan pengembangan kurikulum ajar yang sesuai tuntutan Industri 4.0, pengembangan link & match antara sekolah dan Industri, Pembangunan sekolah vokasi, dan pengembangan sertifikasi kompetensi profesional.
Thomas juga menjelaskan peluang dan tantangan lain dimana Indonesia akan menghadapi Bonus Demografi mulai tahun 2020 dimana pada tahun tersebut jumlah penduduk dengan usia kerja produktif lebih banyak dibandingkan penduduk tidak produktif yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi yang mumpuni. Tantangan akan ada pada generasi muda, dimana persaingan kerja akan semakin tinggi, sehingga generasi muda harus mempunyai skill personal drive dan learning & innovation yang baik seperti jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab, fleksibel dan adaptif, inisiatif, kritis, kolaboratif dan sebagainya, diwujudkan dengan jiwa sociopreneurship.
Wirausaha akan menjadi bidang yang berkembang pada Revolusi Industri 4.0 karena kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menentukan peluang, dan mengubah ide tersebut menjadi sesuatu yang baru dan berguna bagi masyarakat. Thomas juga menjelaskan jika saat ini minat terhadap kewirausahaan masih rendah, dimana rasio wirausaha dibandingkan jumlah penduduk di Indonesia hanya 3,1% sedangkan Malaysia dan Thailand 5%, Singapura 7%, dan Amerika Sertikat serta Jepang yang lebih dari 10%. Langkah tersebut dapat dimulai dengan menjadi melihat peluang di desa, dengan menjadi sociopreneur yang dapat membangun potensi pedesaan.
Dalam penutupnya, Thomas memberikan tips kepada mahasiswa untuk berkarir di era Industri 4.0 dengan menghindari pekerjaan yang berulang, melatih diri dengan people skills yang baik serta eksposure terhadap berbagai macam lingkungan, sebab kedepannya tidak ada orang yang membayar kita hanya karena ijazah sarjana dan tidak akan ada lagi kesempatan kerja bagi orang tanpa kemampuan memadai.
“Makna dalam menghadapi revolusi industri adalah menentukan target, fokus pada pilihan, memiliki kreativitas, visioner, kepemimpinan, kewirausahaan, dan memupuk mental yang kuat,” tutupnya.