Komoditas ayam lokal yang memiliki tren positif di tengah-thengah masyarakat
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kokok ayam lokal telah terdengar hingga ke berbagai wilayah internasional. Begitu pula rupa menariknya yang mampu mendatangkan para peneliti dunia untuk lebih dekat mempelajari plasma nutfah Indonesia. Beberapa ayam asli Indonesia merupakan cikal bakal ayam ras yang dilakukan rekayasa genetika oleh multinational corporation (MNC) di bidang pembibitan dan budi daya unggas. Hal itu tak lepas dari potensi alamiah yang dimiliki oleh Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Menurut International Livestock Research Institute (ILRI), Indonesia merupakan salah satu dari tiga wilayah yang dinyatakan sebagai pusat domestikasi ayam dunia, selain Cina dan kawasan Lembah Indus.

Peningkatan permintaan produk ayam lokal belum disertai produksi yang masif. Jalan terjal perlu terlebih dahulu dihadapi para pelaku bisnis ayam lokal demi mencapai masa depan prospektif.

Upaya pengembangan ayam lokal pun terus dilakukan. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat adanya peningkatan populasi meski dalam jumlah yang tidak terlalu signifikan. Berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian, pergerakan jumlah populasi ayam lokal secara berturut-turut adalah 285 juta ekor (2015), 294 juta ekor (2016) dan sebanyak 310 juta ekor (2017). Jumlah tersebut akan timpang bila dibandingkan produksi final stock (FS) broiler yang berkisar 60 juta ekor per minggunya. Oleh karena itu, tak ayal bila harga daging ayam lokal senantiasa lebih mahal dibanding daging broiler.

Baca Juga : Langkah Mudah Meningkatkan Produktivitas Ayam Lokal

Terkait pasokan DOC ke berbagai daerah, Marketing and Sales Manager PT Sumber Unggas Indonesia drh. Baskoro Tri Caroko, mengakui masih adanya hambatan dalam proses pengiriman. “Masalah distribusi ke daerah yang jauh adalah harus pakai kargo dan belum semua maskapai tahu caranya memperlakukan DOC yang baik, sehingga banyak DOC yang mati,” ujarnya, Senin (3/9). Selain itu, adanya persyaratan administrasi tertentu juga harus dipenuhi agar pengiriman berjalan sesuai rencana. “Untuk distribusi ke daerah-daerah, perlu surat dari pemerintah atau dinas,” ungkapnya. Hingga saat ini, produksi ayam lokal masih terpusat di Pulau Jawa dengan hadirnya perusahaan pembibitan, dan adanya para peternak yang memiliki populasi ayam lokal di atas 20.000 ekor.

Baca Juga : Ayam Lokal, Sejarah, Istilah, dan Arah Pengembangannya

Kurangnya minat untuk menjadikan ayam lokal sebagai komoditas ternak intensif menjadi sebuah hambatan. Bukan hanya itu, produktivitas ayam lokal yang tidak secepat broiler dalam bobot dan tidak sebanyak layer dalam telur, membuat proses pengembangan ayam lokal membutuhkan kesabaran yang lebih. Misalnya, dalam mencapai bobot satu kilogram, ayam lokal membutuhkan waktu setidaknya 70 hari. Berbeda cukup jauh dengan broiler yang membutuhkan masa pemeliharaan sekitar 20 hari. Sementara itu, dalam menghasilkan telur, produktivitas ayam lokal berkisar di angka 40%. Kalah produktif dibanding layer yang mampu mencapai rata-rata produksi sebesar 90%. “Ukuran telur ayam lokal pun bervariasi, sehingga produksi dengan grade bagus tidak merata,” ujar Baskoro.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 22 dengan judul “Ayam Lokal di Tengah Impitan Zaman”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153