“Segala upaya yang dilakukan dengan tujuan positif akan menuai hasil yang tidak sia-sia. Hal tersebut yang diyakini oleh PT Charoen Pokphand Indonesia melalui program beasiswa CPBSA. Lambat laun program CPBSA ini dapat menstimulus sebuah harapan akan lahirnya para generasi sebagai pionir peternakan tanah air”
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Rona senang nan sumringah terlihat dari raut muka para mahasiswa yang berjalan beriringan membawa tas dan bagasinya masing-masing ke pintu keberangkatan internasional terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (12/3). Para mahasiswa tersebut adalah penerima program beasiswa Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA) Batch ke-3 yang dijadwalkan untuk terbang menyambangi negara Thailand dan Kamboja. Perjalanan menuju dua negara ini sebagai bentuk reward yang diberikan oleh PT CPI kepada para mahasiswa terpilih yang telah berhasil melewati serangkaian tahapan awal sampai akhir program CPBSA.
Penerima CPBSA Batch 3 bersama jajaran top management PT CPI saat acara meet & greet (11/3).
Pencarian kandidat terbaik
Pada Oktober 2018 lalu, dimulailah proses pencarian calon kandidat penerima beasiswa (awardee) program CPBSA Batch 3. Hampir sama seperti angkatan sebelumnya, untuk lolos menjadi awardee CPBSA para mahasiswa diharuskan melengkapi persyaratan dengan mengirimkan CV, Karya Portfolio, dan Video Personal Branding “Why Me”. Respon terhadap program CPBSA Batch 3 tercatat meningkat, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jumlah pendaftar yang mencapai 111 mahasiswa. Diakui oleh Ketua Pelaksana CPBSA Batch 3, Ali Imron yang juga merupakan AVP Human Capital PT CPI, meningkatnya jumlah pendaftar membuktikan penyebaran informasi program CPBSA sudah meluas, hal ini tak lepas atas bantuan para alumni CPBSA batch sebelumnya yang turut membagikan pengalaman mereka sebagai awardee CPBSA melalui forum-forum di kampusnya. “Selain mouth to mouth, aktivitas dalam media sosial juga menjadi strategi penting untuk menyebarkan program CPBSA. Tahun ini tak hanya jurusan peternakan dan kedokteran hewan, kami menambahkan juga jurusan teknologi pangan, teknik, ekonomi, dan bisnis yang dapat ikut program ini, karena kami sadar jika industri peternakan membutuhkan kolaborasi juga dari bidang-bidang lainnya”, pungkas Ali Imron.
Dari 111 mahasiswa yang mendaftar, terpilih 25 mahasiswa sebagai awardee CPBSA Batch 3 dari 10 Universitas Negeri Tanah Air yaitu; Universitas Andalas, Universitas Lampung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanuddin. Dari ke-25 mahasiswa yang terpilih, 2 mahasiswa diantaranya lolos dengan jalur wild card yakni dalam 2 kategori khusus Video Why Me yang sebelumnya telah diunggah oleh panitia dalam channel Youtube CPBSA sebagai video favorit audience dan video terbaik pilihan juri. Setelah lolos seleksi dan menyandang predikat sebagai awardee CPBSA Batch 3, para mahasiswa menjalani masa magang selama 2 bulan di beberapa unit-unit bisnis PT Charoen Pokphand Indonesia.
Sebanyak 25 mahasiswa terpilih sebagai awardee CPBSA Batch 3.
Mustaqim, awardee dari jurusan Peternakan Universitas Brawijaya membagi pengalamannya selama menjalani masa magang di bagian Marketing CPI Medan. Ia diperlakukan layaknya karyawan CPI dan mentornya sangat terbuka dalam membantu pekerjaan yang menjadi tugasnya. “Melalui magang ini, jadi lebih tahu seluk beluk perindustrian peternakan dari hulu hingga hilir terutama bagian pakan dan produksinya, juga dapat memahami karakter peternak yang berbeda-beda mulai dari owner, manager, hingga anak kandang”, ungkap Mustaqim.
Mahasiswa sebagai generasi penerus
Sebelum melakukan field trip ke Thailand dan Kamboja pada 12-19 Maret, para awardee diundang terlebih dahulu ke Jakarta untuk menghadiri acara Meet & Greet dengan para dosen pendamping dan top management PT CPI yang bertempat di hotel Novotel MDS Jakarta, Senin (11/3). Dalam acara tersebut selain sebagai ajang untuk berbagi pengalaman masa mereka magang, ada sesi khusus yaitu pembekalan materi dari Ketua Deputi III Kantor Staf Kepresidenan (KSP) RI Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis, Denni Puspa Purbasari, S.E.,M.Sc., Ph.D yang diundang secara khusus sebagai keynote speaker. Selain itu dari jajaran Direksi PT CPI Jemmy Wijaya dan Binarti D. Astuti selaku AVP Feed Technology PT CPI juga hadir untuk memberikan pembekalan.
Jemmy Wijaya berbagi cerita jika CPBSA ini adalah salah satu dari implementasi mimpinya untuk masa depan peternakan. Seperti pernyataan yang pernah diungkapkan oleh Presiden Komisaris PT CPI Hadi Gunawan, “mimpi hanya akan menjadi mimpi belaka jika hanya dimimpikan oleh diri sendiri, namun jika dimimpikan bersama-sama akan ada harapan menjadi sebuah kenyataan”. Ia berterima kasih kepada para mahasiswa yang mau berpartisipasi dalam program CPBSA ini, dan ia tidak bisa menebak bahwa bisa saja dalam 10 hingga 20 tahun mendatang ia akan melihat para mahasiswa tersebut telah menjadi pionir-pionir peternakan Tanah Air. Ia selaku Ketua Steering Committee CPBSA dan juga CPI sebagai stakeholder peternakan Tanah Air ingin memberikan edukasi secara praktis kepada para mahasiswa untuk mengenalkan bagaimana pekerjaan dalam industri peternakan dan betapa pentingnya kontribusi industri peternakan terutama sektor unggas bagi perekonomian Tanah Air. “Saya dan PT CPI sangat senang sekali jika kemudian hasil dari program CPBSA ini membuat ketertarikan para mahasiswa bekerja di bidang peternakan dimanapun perusahaannya dan walaupun bukan di CPI. Setidaknya para mahasiswa sudah mau berpartisipasi untuk memajukan industri peternakan ini yang merupakan milik kita bersama”, tegas Jemmy.
Masih dalam sesi yang sama, Ketua Deputi III KSP memberikan keynote speech dengan topik making impact, Denni memberikan arahan kepada para mahasiswa yang kelak menjadi sarjana sekaligus kaum intelektual di Indonesia untuk segera memberikan dampak yang nyata kepada masyarakat dimulai dari usia muda. “Bagaimana seorang intelektual dapat memberikan kontribusi dan dampak yang lebih luas? Kuncinya adalah ilmu pengetahuan dan tindakan dimana tindakan harus didasari oleh ilmu pengetahuan. Karena kalau tidak, maka hasilnya tidak akan efektif,” ujar Denni. Sesi dari tim KSP ini cukup informatif bagi audience dan juga pembawaan materi yang disampaikan sangat menarik. Tak lupa di penghujung sesinya, Denni menyampaikan apresiasinya atas inisiasi program CPBSA oleh PT CPI. Ia menilai jika program serupa dapat dicontoh juga oleh stakeholder peternakan lainnya.
Sesi terakhir dari acara Meet & Greet adalah motivation speech yang disampaikan oleh Binarti D. Astuti selaku AVP Feed Technology PT CPI. Dengan topik materi “How to create your success?” Binarti ingin menyampaikan pada mahasiswa bagaimana saran dan trik menciptakan kesuksesan sedari dini. Terpenting kita harus mempunyai visi dan misi terlebih dahulu sebelum menentukan sasaran yang ingin dicapai. “Dalam proses menentukan sasaran untuk mencapai kesuksesan, kita harus benar-benar memahami dan tanyakan kepada diri sendiri ingin menjadi apa dalam hidup ini, jika hal tersebut sudah dipahami maka jalan untuk mencapai kesuksesan akan terbuka dengan lancar,” jelas Binarti.
Melihat VIV Asia dan studi banding ke PIM
Field trip ke negara Thailand dan Kamboja menjadi rangkaian kegiatan akhir dari program CPBSA Batch 3. Tidak hanya kunjungan wisata, selama di Thailand para awardee dijadwalkan mengikuti beberapa agenda penting seperti mengunjungi salah satu pameran peternakan terbesar se-Asia yaitu VIV Asia dan juga studi banding ke Panyapiwat Institute of Management (PIM), sebuah perguruan tinggi yang masih di bawah naungan management CP All Academic Thailand.
Rombongan CPBSA Batch 3 bersama Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy di VIV ASIA 2019.
Penyelenggaraan VIV Asia 2019 terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya dan ini yang membuat kagum para awardee yang sebagian merupakan mahasiswa jurusan peternakan. Selama di VIV Asia, para mahasiswa memanfaatkan waktu dengan mengunjungi berbagai stan-stan perusahaan dan mengikuti seminar dan konferensi dengan tema-tema seputar peternakan yang sarat dengan keterbaruan informasi mengenai industri peternakan global. Tujuan kunjungan ke pameran VIV Asia tidak hanya untuk memberikan pengalaman kepada para mahasiswa mengunjungi perhelatan pameran internasional semata, namun dari pameran tersebut mereka dapat mempelajari perbandingan teknologi peternakan di luar Indonesia terutama yang berteknologi 4.0.
Kunjungan ke stan exhibitor VIV Asia untuk mencari update peternakan global.
Hal tersebut diungkapkan oleh Waode Nurmayani, awardee dari Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, “dengan melihat sendiri pameran VIV Asia ini, saya belajar bahwa untuk menciptakan industri peternakan 4.0 butuh kolaborasi dari berbagai macam disiplin ilmu, utamanya ilmu teknik. Sebenarnya dalam prodi Ilmu Peternakan sendiri kami sudah menyentuh ilmu-ilmu teknik, misalnya saja pada saat simulasi pembuatan mesin tetas yg melibatkan ilmu teknik mesin dan juga teknik elektro. Tapi menurut saya, ilmu teknik yang kami pelajari ini masih sangat dasar. Perlu pendampingan lebih dari ahlinya. Selain itu, untuk bisa bersaing di era yang semakin modern ini kita perlu keterampilan bahasa yang baik untuk memudahkan kita berkomunikasi’, pungkas Waode.
Pada esok harinya (14/3), rombongan CPBSA diboyong keluar kota Bangkok, tepatnya menuju distrik Pak Kret, bagian provinsi Nonthaburi untuk mengunjungi PIM (Panyapiwat Institute of Management). PIM merupakan perguruan tinggi yang mengedepankan model pembelajaran berbasis kerja (work-based education). Calon lulusan PIM dilatih secara akademis dan terampil untuk siap kerja secara profesional. Dengan reputasi yang dikenal cukup baik, mahasiswa PIM tidak hanya dari Thailand saja namun dari beberapa negara di Asia Tenggara sehingga atmosfer multikultural sangat terasa di lingkungan kampus. Sebelum campus tour, rombongan diperkenalkan dahulu dengan jajaran tim akademik PIM diantaranya dengan Vice President for Administration Affair Siam Choksawangwong dan Director Office of International Relations Dr. Usanee Kulintornprasert. Dalam kesempatan tersebut hadir pula Prof. Dr. Mustari, M.Pd Atase Pendidikan & Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Bangkok yang secara khusus diundang oleh pihak PIM. Dari banyaknya fasilitas pembelajaran yang dilihat oleh rombongan CPBSA di PIM, fasilitas kelas dibuat layaknya tempat kerja sungguhan, hal tersebut agar para mahasiswa ketika menghadapi dunia kerja sudah langsung bisa beradaptasi.
Melihat berbagai fasilitas pembelajaran yang ada di PIM.
Terdapat agenda tak terduga yakni undangan khusus untuk datang ke KBRI Bangkok yang terletak di kawasan Rajthevi, Jum’at (15/3). Kurang lebih 1 jam rombongan di terima kembali oleh Prof. Dr. Mustari, M.Pd dan selama forum pertemuan Mustari bercerita jika ada 3.000 mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di berbagai universitas di Thailand. Hubungan baik tak hanya dalam bidang pendidikan namun juga dalam kebudayaan yakni dengan dipamerkannya koleksi kain batik peninggalan Raja ke-5 Thailand, Raja Chulalongkorn yang secara khusus ditempatkan di Museum Queen Sirikit, Grand Palace Bangkok yang berlangsung dari Oktober 2018 hingga musim semi 2021.
Bertemu dengan Atase Pendidikan & Kebudayaan Kedubes RI di Bangkok.
Sisa waktu di Thailand diisi dengan kunjungan wisata ke beberapa istana kerajaan yang penuh nilai sejarah seperti Grand Palace dan Bang-Pa in Palace yang berada di kota Ayuthaya. Tak ketinggalan berbelanja suvenir di Wat Arun dan Chatuchak Weekend Market serta mengunjungi Iconsiam, pusat perbelanjaan besar dan baru di Bangkok milik CP Group Thailand. Kunjungan wisata lainnya yang ditunggu-tunggu yaitu mengunjungi Angkor Wat di Siem Riep, Kamboja. Perjalanan jauh ke Kamboja terbayar dengan menyaksikan kemegahan dan besarnya Angkor Wat yang menjadi salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Dari Kamboja perjalanan dilanjutkan kembali ke Thailand tepatnya kota Pattaya untuk menyaksikan acara pertunjukan. Esoknya baru rombongan bertolak kembali ke Tanah Air.
Berkunjung ke Angkor Wat yang terletak di negara Kamboja, yang menjadi salah satu UNESCO World Heritage.
Kunjungan ke luar negeri hanya sebuah selingan dari keseluruhan program kegiatan CPBSA sebagai reward bagi para mahasiswa yang telah menjalani program CPBSA. Dengan kunjungan ke luar negeri ini diharapkan mereka mempunyai insight berbeda yang dapat dibawa ke Tanah Air terutama dengan kunjungan ke pameran VIV Asia dan Universitas PIM. Diharapkan melalui program CPBSA, PT Charoen Pokphand Indonesia sebagai salah satu pelaku utama industri peternakan Tanah Air dapat turut andil mengenalkan industri peternakan kepada para mahasiswa terutama dunia kerja yang akan mereka hadapi di masa mendatang seperti apa. Meski hasil program CPBSA tidak langsung terlihat, namun program CPBSA merupakan salah satu tindakan nyata untuk menstimulus lahirnya generasi yang mencintai industri peternakan.