I Ketut Diarmita menegaskan, ternak milik mereka tidak boleh terlantar untuk pakan dan masalah penyakit.
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Pasca gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 5-7 Agustus 2018 lalu, Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTB, melaporkan  Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Kabupaten Lombok Timur (KLotim) yang terkena dampak paling besar, dan ternaknya perlu mendapat bantuan pakan dan pengobatan. Dari KLU ada 4 Kecamatan, yaitu: Pemenang, Tanjung, Gangga dan Kahyangan, sedangkan dari KLotim ada 3 kecamatan, yaitu: Sambelia, Sembalun, dan Pringgabaya.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita yang terjun langsung ke lokasi bencana dalam rilisnya (7/8) mengatakan, data rinci peternak dan populasi masing-masing ternak sudah tersedia per kecamatan. Selain itu data kelompok petani peternak sebagai dasar pemberian bantuan pakan dan obat-obatan juga sudah tersedia. 
“Untuk sementara belum ada laporan kematian ternak, sehingga Ditjen PKH fokus menyisir dan mengidentifikasi peternak yang terkena musibah untuk diketahui berapa kepemilikan ternaknya,” kata Ketut. Mengingat para peternak di daerah gempa masih bergulat untuk menangani dirinya sendiri akibat adanya gempa bumi, ia menegaskan, ternak milik mereka tidak boleh terlantar untuk pakan dan masalah penyakit.
“Apabila data CPCL (Calon Penerima dan Calon Lokasi) sudah jelas, maka kita akan menugaskan anggota tim yang sesuai dengan komptensi dan kebutuhan yang diperlukan,” ucap I Ketut Diarmita. Ia juga menambahkan, agar tim juga membantu antisipasi terhadap pencurian sapi, karena ditinggal pemiliknya. “Saat ini Kementan, termasuk juga Ditjen PKH juga membuka sejumlah rekening bagi masyarakat yang ingin mengulurkan bantuan berupa uang kepada korban gempa di Lombok,” katanya.