Penemuan perangkat lunak untuk perunggasan Indonesia merupakan sebuah tantangan di masa yang akan datang.

POULTRYINDONESIA, Jakarta – Istilah Fourth Industrial Revolution (4IR), atau yang biasa dikenal dengan Revolusi Industri 4.0, telah bergaung sejak beberapa tahun terakhir. Revolusi tersebut juga memiliki pengaruh pada modernisasi industri perunggasan. Perubahan itu erat kaitannya dengan perpaduan internet yang lebih masif. Kini, sering kali muncul istilah “industri perunggasan 4.0” yang mengusung proses produksi cepat, akurat dan efisien. Tahun 2019 pun menjadi momen pematangan industri ini.

Pendapat lainnya terkait Industri Perunggasan 4.0 juga diungkapkan oleh seorang pakar statistik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kresnayana Yahya. Ia menegaskan, dunia perunggasan sudah seharusnya mempelajari serta menerapakan Revolusi Industri 4.0, salah satunya dengan melakukan integrasi antara perangkat lunak (software) dan data pertumbuhan hewan. “Software ini untuk mengecek temperatur ayam, mengecek kesehatan usus, sakit atau tidak, dan akhirnya berpengaruh pada pembuatan pola makan yang lebih hemat,” ujarnya, Selasa (18/12/18). Namun, penemuan perangkat lunak itulah yang menjadi tantangan bagi perunggasan Indonesia.

Kresnayana mengungkapkan, adanya potensi ekspor produk unggas bisa menjadi andalan perekonomian bangsa. Menurutnya Indonesia adalah negara besar yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam bidang perunggasan, dari hulu sampai ke produk olahan pascapanen. Hal yang perlu ditingkatkan adalah integrasi dari farm sampai ke produk olahan, dengan menerapkan supply chain management sehingga memudahkan upaya ekspor tersebut. “Saya kira perunggasan bisa ikut dalam pengembangan pasar, seperti yang dilakukan oleh produsen mie instan bahkan hingga Afrika,” tegasnya.

Evolusi budi daya dan produk unggas

Industri perunggasan modern terlihat dengan para produsen yang kian memanfaatkan internet. Keterpaduan tersebut telah merambah sektor budi daya dan juga pascapanen dalam menghasilkan produk-produk terkini. Pada acara Ceva Poultry Innovation Summit Asia 2018, Prof. Dr. Lenny Van Erp-van der Kooid dari HAS University, Netherland, memaparkan beragam konsep inovasi yang bisa diterapkan pada peternakan unggas, terutama broiler. Ia menampilkan inovasi teknologi untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi ternak dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa peralatan seperti robotik, sensor, GPS tracking, serta beberapa peralatan lain sebagai pengirim dan penerima data secara online dan real time. Kelak, hasil analisa dari inovasi tersebut dapat menjadi early warning system (EWS).

Slamet Widodo, praktisi perunggasan yang ikut dalam Ceva Poultry Innovation Summit Asia 2018, menjelaskan kepada Poultry Indonesia bahwa inovasi yang disampaikan oleh Lenny terus dikembangkan demi penggunaan yang lebih luas dan optimal. Inovasi robot yang ditempatkan dalam kandang misalnya, mampu berperan untuk merangsang ayam menjadi aktif makan dan minum. Ada pula robot mini yang berfungsi untuk berjalan sepanjang kandang dan merekam suhu, kelembapan dan kadar karbon dioksida. Selain itu, ada pula inovasi unik yaitu sensor suara ayam. Ternyata suara lengkingan ayam ini bisa menandakan status kesehatan ayam. Data lengkingan suara ayam direkam dalam ukuran frekuensi tertentu dan dimunculkan dalam tampilan grafis supaya mudah untuk dianalisa. Data-data dari peralatan canggih yang terkoneksi internet itu menjadi contoh tumbuhnya Industri Perunggasan 4.0. 

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Memantapkan Langkah Industri Perunggasan 4.0”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153