Seiring dengan perkembangan zaman, konsumen di berbagai belahan dunia menginginkan produk pascapanen yang praktis, mudah, dan cepat (Foto : Globalmeatnews.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sektor pascapanen perunggasan merupakan sektor lanjutan dari budi daya unggas dalam rantai bisnis perunggasan. Sektor pascapanen memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan dan permintaan produk unggas. Hal tersebut dikarenakan baik atau tidaknya suatu produk komoditas perunggasan terletak pada penanganan pascapanen dari produk unggas itu sendiri.
Hampir 70 persen daging unggas di seluruh dunia disediakan melalui sistem industri peternakan secara intensif. Negara-negara maju di bidang perunggasan seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Brasil dan beberapa anggota Uni Eropa, merupakan produsen utama daging ayam ras di dunia. Bahkan pada akhir tahun 2012, masyarakat Australia yang pada umumnya mengonsumsi daging merah, mulai beralih ke daging putih khususnya daging ayam. Kini, Australia pun mulai menggalakkan industri perunggasannya secara simultan untuk kebutuhan konsumen.
Baca Juga : Produk Olahan, Pasar Besar dan Potensial Masa Depan
Di zaman yang serba cepat saat ini, industri perunggasan juga merespons hal tersebut dengan terus memaksimalkan potensi genetik dari ternak unggas, sehingga saat ini sudah dapat diproduksi 1 kilogram live bird dengan waktu sekitar 20-23 hari. Maka dari itu, industri perunggasan yang dilakukan secara intensif dapat menghasilkan daging broiler dengan waktu yang kian singkat, dan pada saat ini digunakan sebagai solusi dari keterbatasan penyediaan protein hewani asal daging merah. Populasi penduduk dunia pada tahun 2011 telah mencapai 7,5 milyar, sedangkan populasi sapi di dunia berkisar 1,3 milyar. Ada ketimpangan penyediaan protein hewani, di mana populasi sapi cenderung menurun karena pemotongan, dan keterbatasan penyediaan pakan karena perubahan iklim global.
Produk makanan komoditas unggas yang baik, aman, utuh dan halal harus memenuhi beberapa syarat agar produk makanan yang berasal dari pascapanen unggas aman untuk dikonsumsi. Berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI, dalam bentuk artikel dengan judul Penerapan Kesejahteraan Hewan pada Pemotongan Unggas, penanganan live bird maupun telur hasil panen menentukan kualitas dari produk akhir berupa makanan siap saji atau bahan untuk diolah menjadi makanan (raw material).
Baca Juga : Industri 4.0 Pada Perunggasan
Gambaran permintaan yang terus meningkat setiap tahunnya dapat dilihat dari sebuah analisis yang dilakukan oleh Rabobank dari data yang diperoleh oleh FAO, OECD, USDA dan data lokal yang dimiliki oleh Rabobank di tahun 2015. Berdasarkan data tersebut, tren pertumbuhan konsumsi komoditas unggas terlihat meningkat dibandingkan dengan komoditas daging yang lain seperti sapi, babi, dan jenis daging lainnya.
Berdasarkan data pada tahun 2016 yang lalu, 3 juta metrik ton daging ayam berhasil diproduksi oleh produsen lokal, di mana terjadi peningkatan sebesar 100 persen selama 10 tahun dari tahun 2016. Selain itu juga, produksi live bird dan telur dalam negeri juga sudah mampu melampaui permintaan. Sehingga harga live bird sangat bergantung pada serapan permintaan yang ada di masyarakat. Saat ini konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia berada pada kisaran 12 kilogram per kapita, sedangkan untuk telur berada pada angka 150 butir per kapita.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 26 dengan judul “Gambaran Industri Pascapanen Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153