Suasana Konferensi pers di Ruang Rapat 1 Gedung C Kementan (30/9)
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menyampaikan kondisi produksi daging (karkas) ayam ras broiler tahun 2018 aman bahkan surplus. 
Pada konferensi pers di Gedung C Kementerian Pertanian (30/8) , Ketut menyebutkan, berdasarkan realisasi produksi DOC FS Broiler bulan Januari hingga Juni 2018 dan potensi produksi Juli hingga Desember 2018 (dari impor GPS broiler tahun 2016, 2017 dan 2018) adalah sebanyak 3.156.732.462 ekor dengan rataan perbulan sebanyak 263.061.042 ekor (62.633.581 ekor/minggu). Potensi produksi karkas tahun 2018 berdasarkan realisasi produksi DOC (Januari-Juni 2018) dan potensi (Juli-Desember 2018) sebanyak 3.382.311 ton dengan rataan perbulan sebanyak 27.586 ton.
Pada kesempatan tersebut Ketua Tim Audit Populasi GPS Ayam Ras Broiler Dr. Drh. Trioso Purnawarman. MSi memaparkan bahwa audit dilaksanakan pada seluruh perusahaan Pembibitan GPS ayam ras broiler sebanyak 14 perusahaan diantaranya, PT Charoen Pokphand Jaya Farm, PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Bibit Indonesia, PT Cheil Jedang-Patriot Intan Abadi (CJ-PIA), PT Wonokoyo Jaya Corporindo, PT Taat Indah Bersinar, Hybro Indonesia, PT. Expravet Nasuba, PT. Cibadak Indah Sari Farm, CV Missouri, PT. Reza Perkasa, PT. Karya Indah Pertiwi, PT. Satwa Borneo Jaya, dan PT. Berdikari (Persero), dengan jumlah Farm GPS sebanyak 37 unit dengan kandang yang terisi sebanyak 237 unit dari total kandang sebanyak 289 unit (82%).
Baca Juga : Hasil dari Tim Audit GPS Ayam Ras Nasional, 2018 Masih Surplus
Sebaran farm GPS ayam ras broiler berada di 7 (tujuh) provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat serta strain GPS ayam ras broiler yang ada di Indonesia yaitu Cobb, Ross, Indian River dan Hubbard. Trioso Purnawarman menyebutkan bahwa mekanisme pelaksanaan audit GPS ayam ras broiler dibagi atas 2 tahap yaitu, tahap pertama Desk Review dengan mengisi form Self Assessment Report (SAR). Lalu tahap kedua yaitu Outside Review dengan melakukan verifikasi dan observasi dilapangan terhadap populasi GPS ayam ras broiler, manajemen pemeliharaan, penetasan dan kesehatan, serta biosekuriti. Kemudian Tim melakukan evaluasi, valuasi dan rekomendasi hasil audit secara kompehensif.
Trioso juga menyatakan bahwa verifikasi dan observasi jumlah populasi GPS ayam ras broiler berdasarkan laporan harian kandang (LHK) dan laporan mingguan, jumlah peralatan meliputi feeder dan drinker space, nest box, dan lampu, lalu yang terakhir jumlah GPS ayam ras broiler pada saat vaksinasi terakhir (dihitung satu per satu sesuai dengan dosis vaksin). Lebih lanjut Ia sampaikan, Tim juga melakukan verifikasi dan observasi manajemen pemeliharaan, penetasan dan kesehatan meliputi ventilasi udara, kualitas air minum dan pakan, deplesi (kematian dan afkir) jantan dan betina, program vaksinasi dan titer antibodi, bobot badan dan keseragaman (uniformity) jantan dan betina, kepadatan (density) per meter persegi, manajemen litter, rasio jantan dengan betina, program lampu (lighting program), produksi (egg mass) dan hatching egg, fertility, hatchebility (setting dan hatching report), DOC per hen house (HH), serta distribusi DOC PS.
Selain itu juga dilakukan verifikasi dan observasi biosekuriti program biosekuriti berupa: penerapan higiene karyawan dan tamu, sanitasi dan desinfeksi, isolasi dan karantina, serta lalu lintas (orang, pakan, ayam dan peralatan).