Broiler dan layer masih sangat diminati untuk dibudidayakan oleh masyarakat Jawa Barat
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dari segi harga jual, bisnis ayam layer dirasakannya cukup stabil. Berbeda dengan broiler yang fluktuasinya sangat tajam. “Bisnis broiler memang agak lebih sulit untuk saat ini, selain karena harga jual yang tidak stabil kendala dalam hal produksi juga sering terjadi. Mau tidak mau memang peternak harus merubah kandang ke yang lebih modern. Biaya pokok produksi (BPP) ayam yang dipelihara di kandang closed house memang lebih rendah jika dibandingkan dengan yang opened house,” ungkap Agus Setya Trisdiana yang merupakan pemilik Alido Poultry Shop di Kabupaten Kuningan, saat ditemui di kantornya, Senin (5/8).
Peternak yang masih tergolong muda ini merupakan anak dari peternak layer senior yang ada di Kabupaten Kuningan. Sejauh ini, berdasarkan penuturan ayahnya dan pengalamannya beternak sendiri, tidak ada kendala yang cukup sulit dalam beternak layer. Harga telur lebih stabil jika dibandingkan dengan broiler. Ayahnya yang beternak sejak tahun 1982, mengaku mengalami masa yang paling sulit hanya pada saat krisis moneter antara tahun 1997-1998.
Baca Juga : Kesiapan dan Dukungan Penyedia Modal Budi Daya Unggas
Agus menambahkan, iklim Kuningan yang cenderung sejuk (tidak terlalu panas maupun dingin) memang cocok untuk budi daya ayam. Selain itu, mengenai harga di tingkat peternak juga dalam kategori di tengah-tengah, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Akan tetapi, melihat fenomena ada indikasi tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran broiler pada dua tahun terakhir ini, hal tersebut menjadi sulit untuk memprediksi harga ayam hidup jual di tingkat peternak. “Kita di sini juga mengikuti bulan Jawa, kadang kita sudah hitung bulan bagus bisa harga bagus, ternyata suplai terlalu banyak, akibatnya harga menjadi jelek. Ada juga fenomena biasanya bulan sepi tapi karena suplai sedikit akhirnya harga bagus. Sudah dua tahun ini sulit diprediksi,” keluhnya.
Mengenai kebutuhan masyarakat terhadap daging broiler maupun telur ayam ras di Kuningan cenderung bisa tercukupi dari kebutuhan lokal. Masih menurut Agus, hal itu karena Kuningan sangat dekat dengan sumber sarana produksi ternak yang banyak diproduksi di Kabupaten Cirebon. Hanya saja untuk kebutuhan telur, memang terkadang telur dari Jawa Tengah dan Jawa Timur masih masuk ke Kuningan. Agus juga mengamini bahwa industri perunggasan di Jawa Barat masih akan terus berkembang, asalkan harga produksi dapat dikendalikan. “Kalau dari bisnis perunggasan ke depannya masih prospek, hanya memang harus ada perubahan dimasalah biaya produksi,” ungkapnya.
Pendapat lain disampaikan oleh H. Eman, yang merupakan pemilik Lestari Farm di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Saat ditemui Poultry Indonesia di lokasi peternakannya, Selasa (6/8), ia mengungkapkan bahwa perkembangan peternakan unggas khususnya ayam layer mengalami peningkatan secara bertahap. Sejak terkena krisis perunggasan di antara tahun 2014-2015, di mana saat itu harga jagung menyentuh Rp6.500-7.000 per kilogram, cukup banyak peternak layer yang menutup kandang karena tidak kuat dengan mahalnya biaya pakan. “Saat ini bisa dikatakan merupakan masa pemulihan. Sepanjang tahun 2019 harga jual telur di kandang juga relatif stabil normal antara Rp19.000-20.000 per kilogram, berbeda saat tahun 2015 itu harga jual turun bisa sampai Rp16.000 per kilogram, padahal harga jagung saat itu mahal. Kalau sekarang harga jagung tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah, bulan ini sekitar Rp4.200-4.300 per kilogramnya, hanya saja memang tidak mudah untuk mendapatkannya,” ungkapnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2019 dengan judul “Perkembangan Bisnis Perunggasan Jawa Barat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153