Itik dengan genetika unggul dapat dipilih dengan melakukan pendekatan biomolekuler
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Indonesia memiliki beraneka ragam ternak unggas lokal yang dapat dikembangkan, salah satunya adalah itik. Populasi itik secara umum di Indonesia tahun 2013 mencapai 46.312.661 ekor, sedangkan di Jawa Tengah sebesar 5.847.950 ekor (Ditjennak, 2013). Jenis itik lokal yang ada di Indonesia antara lain itik Tegal, Mojosari, Bali, Pagangan, dan Alabio termasuk di dalamnya itik Magelang. Itik Magelang merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal yang telah lama dikembangbiakkan di Kabupaten Magelang dan sekitarnya sebagai penghasil daging, telur, dan bulu.
Penelitian keanekaragaman genetik secara molekular menggunakan mtDNA telah banyak dilakukan. Itik dengan genetika unggul dapat dipilih dengan melakukan pendekatan biomolekuler melalui deteksi berdasarkan polimorfisme DNA. Identifikasi molekular menggunakan analisis D-Loop DNA mitokondria pada itik Magelang melalui penelusuran filogenetik telah dilakukan oleh Purwantini et al. (2013), sedangkan analisa fenotipik dari itik Magelang yang produktif telah dilaporkan oleh Mahfudz et al. (2005).

Keragaman genetik dapat diketahui dengan identifikasi secara molekular untuk mengungkap adanya perbedaan intraspesies, filogeografi dan mengetahui hubungan kekerabatan antar rumpun.

Perbedaan warna bulu pada itik disebabkan oleh pigmen yang dipengaruhi oleh gen MC1R yang diekspresikan pada permukaan melanosit. Hubungan antara gen MC1R dengan pola warna bulu pada itik Magelang dapat diketahui dengan melakukan analisis molekuler berdasarkan metode polymerase chain reaction (PCR) yang dilanjutkan dengan analisis sekuensing untuk mengetahui adanya single nucleotide polymorphism (SNP). Apabila hasil penelitian menunjukkan terdapat SNP pada gen MC1R dan polimorfisme tersebut berkaitan dengan warna bulu maka polimorfisme tersebut dapat digunakan sebagai penanda genetik.
Itik Magelang merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur, daging, dan bulu. Ciri morfologi yang dimiliki itik Magelang yaitu mempunyai warna bulu yang bervariasi dibandingkan itik lokal lainnya. Berdasarkan hasil studi referensi, itik Magelang yang produktif didominasi warna bulu coklat tua (kalung plontang tua), warna kulit putih, kaki dan telapak kaki hitam, bobot badan sedang dan produksi telur tinggi.
Baca Juga : Perbandingan Berbagai Strain Petelur Coklat Hasil Random Sample Test di AS 3
Polimorfisme gen MC1R dilaporkan menyebabkan perbedaan kelompok warna. Perbedaan kelompok warna tersebut disebabkan oleh perbedaan pigmentasi yang dikontrol oleh hormon Melanocortin Stimulating Hormon Receptor (MSHR) atau Melanocortin 1 Receptor (MC1R). Hormon tersebut berperan penting dalam pigmentasi. Receptor hormon tersebut terletak pada permukaan melanosit, yaitu sel-sel khusus yang menghasilkan pigmen yang disebut melanin. Melanin diproduksi oleh melanosit, ketika MC1R diaktifkan, dapat memacu reaksi kimia di dalam melanosit yang merangsang sel-sel untuk membuat eumelanin sehingga ternak dapat berwarna coklat sampai hitam. Apabila MC1R dihambat oleh agouti, melanosit menghasilkan pheomelanin bukan eumelanin sehingga ternak berwarna merah sampai kuning.
Single nucleotide polymorphism (SNP) adalah suatu variasi basa atau polimorfisme yang dihasilkan akibat adanya proses mutasi yang dapat membedakan satu individu dengan lainnya. Single nucleotide polymorphism tersebut dapat ditunjukkan berdasarkan hasil alignment dari beberapa sekuen gen target yang diamati. Identifikasi SNP dari hasil sekuensing gen MC1R dan studi referensi menggunakan alignment dari GenBank Acc. No. HQ699485, HQ699486, EU877265, EU877264, EU924100, EU924101, dan EU924104. Empat SNP ditemukan yaitu c.376A>G, c.409G>A, c.430G>A dan c.444A>G dari total sepuluh SNP yang ditemukan pada lokasi sepanjang 945 nt. Empat SNP tersebut ditemukan pada lokasi sekitar 320 sampai dengan 520 nt, sehingga lokasi ini yang menjadi target untuk deteksi polimorfisme pada itik Magelang.
Materi penelitian untuk analisis kinerja produksi yaitu 50 data produksi, sedangkan analisis polimorfisme gen MC1R yaitu 43 sampel DNA yang dikategorikan kedalam tiga kelompok warna bulu yaitu coklat (A) sebanyak 25 ekor, hitam (B) 14 ekor, dan putih (C) 4 ekor. Metode penelitian meliputi pengumpulan data kinerja itik dan analisis DNA di laboratorium pemuliaan ternak. Analisis tersebut meliputi ekstraksi DNA, alignment GenBank, desain primer untuk menentukan target polymerase chain reaction (PCR) dan sekuensing gen MC1R 256 nt.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata kinerja produksi itik Magelang pada kelompok warna yang berbeda tidak berpengaruh terhadap karakteristik bobot telur, PBBH, dan produksi telur. Rata-rata bobot telur kelompok warna coklat (63,70 ± 4,57) dan hitam (66,12 ± 4,01) pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan warna putih (62,34 ± 1,65). Rata-rata PBBH kelompok warna coklat (2,74 ± 3,32) lebih tinggi dari hitam (2,12 ± 2,36) dan putih (0,42 ± 1,15). Warna putih mempunyai kinerja lebih rendah dibandingkan warna lain. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian lain pada itik yang berbeda bahwa warna bulu pada itik Turi tidak berpengaruh pada karakteristik bobot telur, bobot day old duck (dod) maupun daya tetas, tetapi berpengaruh nyata terhadap produksi telur dan bobot tetas (Yuwanta et al., 1999). Merujuk dari hasil penelitian tersebut diatas menunjukan bahwa warna bulu tidak berpengaruh terhadap kinerja produksi pada itik.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 82 dengan judul “Gen MC1R dan Kaitannya dengan Produksi Itik Magelang”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153