Semua jenis ayam sangat sensitif terhadap penyakit gumboro dan beresiko menular yang sangat tinggi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Virus IBD tergolong virus RNA dari genus Avibirnavirus dan family birnaviridae, berukuran antara 55-65 nm dan mempunyai bentuk ikosahedral simetris dan tidak beramplop. Virus IBD diklasifikasikan menjadi dua serotype yakni serotype 1 yang patogen untuk ayam dan serotype 2 yang menginfeksi kalkun tanpa menimbulkan gejala klinis. Antibodi terhadap serotype 2 menunjukkan reaksi silang dengan antibody serotype 1.

Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit menular akut pada unggas, terutama ayam berumur muda, yang ditandai dengan peradangan hebat bursa fabricius dan bersifat immunosupresif yaitu lumpuhnya sistem pertahanan tubuh ayam. Karenanya, banyak peternak dan praktisi perunggasan sering mengistilahkan penyakit ini sebagai “pembuka pintu” bagi masuknya penyakit yang lain.

Ada empat jenis virus IBD yang dikenal, yakni classical variant (cv IBDV) seperti strain Lukert dan F52/70; very virulent (vvIBDV) seperti 849VB, D6948 dan DV 86; antigenic variant (agIBDV) seperti Delaware grup (A, D, E, G), U28, Arkansas 1568 dan GLS; dan attenuated (aIBDV = mild = strain vaksin). Di Indonesia banyak strain virus IBD lokal yang dimanfaatkan sebagai vaksin antara lain IBD strain Dramaga, IBD strain Andi dan IBD strain 951 (Manual Penyakit Unggas – Kementan-DirJen PKH-Dirkeswan, 2012).
Semua jenis ayam peka terhadap IBD, namun yang paling sering dilaporkan terserang adalah ayam ras petelur dan pedaging. Belakangan ini, ternyata ayam bukan ras (buras) juga terserang bahkan itik dan kalkun juga pernah dilaporkan terinfeksi secara alami, meskipun tanpa gejala klinis. Angsa, puyuh dan merpati tahan terhadap IBD. Ayam pedaging yang paling banyak terserang adalah kelompok umur 3-6 minggu, sedangkan ayam petelur dewasa jarang terinfeksi IBD.
Baca Juga : Amati Gejala Ayam Terjangkit Necrotic Enteritis
Virus IBD sangat stabil, tahan terhadap zat-zat kimia seperti eter atau kloroform 20% (kemampuan virus menginfeksi berlangsung masing-masing dalam waktu 18 jam dan 10 menit). Demikian juga pengaruh formalin 0.5-1.0%, mengakibatkan menurunkan infektivitas, masing-masing dalam waktu 6 jam dan 1 jam, kresol atau fenol 0.5% dan senyawa ammonium kuartener pada suhu 23º C berlangsung selama 2 menit, kloramin 0.5% dapat membunuh virus dalam waktu 10 menit dan timerosal 0.125% virus hanya bertahan dalam waktu 1 jam pada suhu 30º C. Virus juga stabil pada pH 2.0 -3.0 akan tetapi inaktif pada pH 12.0. Virus relatif tahan bila berada dalam suhu yang tinggi. Pada suhu 60º C virus tahan selama 30 menit, suhu 56º C stabil selama 5 jam dan pada suhu 25º C tahan selama 21 hari.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 78 dengan judul “IBD, Pembuka Pintu Penyakit Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153