Otomatisasi dan mekanisasi merupakan sebuah keniscayaan bagi semua sektor industri dimana sektor perunggasan ikut ambil bagian di dalamnya (Foto : Kementerian Perindustrian)
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Mario Hermann dan kolega dalam Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios, yang diterbitkan pada Hawaii International Conference on System Sciences (HICSS) 2016, mencoba merumuskan pengertian tentang Industri 4.0. Menurut mereka, era ini ditandai dengan bertambahnya nilai dan fungsi internet dalam kegiatan industri. Dalam perkara umum, kondisi tersebut dikenal dengan istilah Intenet of Everything. Adanya Industri 4.0 memungkinkan proses produksi lebih tersistematis dengan efektivitas sebagai tujuan. Dunia industri sedang berkembang pesat.

Informasi yang coba disampaikan Herman kala itu masih relevan hingga sekarang. Mereka sejatinya memprediksi bahwa Industri 4.0 membutuhkan tahun-tahun efektif dalam upaya pengembangan.

Sayangnya, saat ini belum semua industri— dalam berbagai sektor—yang siap terhadap perubahan tersebut. Perunggasan adalah satu dari sekian industri yang terus berbenah dalam mengarungi transisi tren Industri 4.0. Berkaca pada kondisi perunggasan dalam negeri, upaya-upaya ekstra dan komprehensif tampaknya perlu digiatkan.
Para pembudi daya unggas non-industri sering kali masih dipusingkan dengan fluktuasi harga jual produk unggas dan mahalnya harga sarana produksi ternak. Oleh karena itu, fokus mereka saat ini adalah bagaimana melakukan proses budi daya tanpa mengalami suatu kerugian. Sementara urusan mekanisasi peralatan kandang belum semua peternak mengupayakannya. Perunggasan Indonesia belum menyentuh Industri 4.0 dalam seluruh elemen. Perkembangan budi daya unggas di tingkat kecil dan menengah baru mencapai modernisasi peralatan sederhana.
Baca Juga : Meneropong Industri Peternakan Itik Nasional
Hal yang dibutuhkan untuk akselerasi mekanisasi budi daya unggas adalah kesadaran dari diri peternak untuk melakukan perubahan. Upaya modernisasi sederhana seperti mengganti alat-alat ternak dan sistem kandang konvensional menjadi semi-modern sangat penting dilakukan. Hal itu merupakan batu loncatan bagi siapa saja yang tak mampu secara serta-merta mengganti tatanan budi daya menuju mekanisasi secara utuh. Selain itu, kepercayaan pihak perbankan dan pemberi modal lainnya kepada para peternak juga menjadi hal yang sangat berharga. Bila kerja sama kian terjalin, para peternak bisa secara berangsur-angsur mengubah sistem budi daya mereka menjadi lebih modern.
Hasil dari terciptanya perunggasan modern adalah daya saing produk unggas Indonesia menjadi lebih baik. Masyarakat bisa mendapat asupan protein hewani yang berkualitas dengan mudah dan harga yang murah. Mekanisasi secara merata kelak membuat Indonesia mampu berbicara lebih banyak di kancah persaingan perunggasan global. Bila kualitas gizi masyarakat tercukupi dan skala bisnis perunggasan Indonesia kian luas, maka perunggasan akan menjadi roda penting dalam kelajuan negeri. Oleh karenanya, sinergi antar pihak dalam mewujudkan modernisasi budi daya unggas merupakan sebuah keniscayaan. Adam
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 25 dengan judul “Mekanisasi Budi Daya Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153