Istanto (PI_Farid)
Istanto terlahir dari keluarga yang sederhana. Masa kecil hingga remaja ia habiskan di kota Solo, Jawa Tengah. Selepas SMA, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Selama sepuluh tahun bekerja di peternakan, Istanto muda memutuskan untuk berhenti, kemudian terjun dalam dunia bisnis. “Saya saat itu jadi trader bahan pakan ternak. Pengalaman bekerja selama sepuluh tahun itu sangat membantu untuk menjalankan bisnis ini. Pada waktu itu, modal utama sejujurnya bukan uang, tapi kemauan dan bisa memegang kepercayaan orang-orang sekitar di lingkungan bisnis,” tuturnya, Senin (11/2).

Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah yang kini menetap di Tangerang merupakan pengusaha kuliner yang terbilang sukses. Bersama lebih dari seratus restoran “Ayam Goreng Karawaci” yang tersebar dari Sumatra hingga Papua, Istanto termasuk salah satu pebisnis kuliner yang layak menjadi panutan.

Menurutnya, pada masa itu peluang bisnis perunggasan cukup menggiurkan. Perkembangan teknologi perunggasan pun masih belum canggih seperti sekarang. “Kalau sekarang bisa dibilang orang-orang yang terjun ke bisnis perunggasan banyak memiliki closed house. Pada waktu itu, kalau bicara masalah penyakit pada ayam masih belum kompleks seperti sekarang. Sejak kasus AI pada tahun 2003 sampai sekarang, namanya penyakit ada saja silih berganti tidak ada habisnya,” ujar Istanto. Hal tersebut membuat para pengusaha pada masa itu masih bisa bersaing meski dengan modal yang tidak fantastis.
Baca Juga : Prasojo Prayitno Hasil Tidak Pernah Mengkhianati Proses
Istanto bercerita, dalam membangun bisnisnya selama ini, ia termasuk tipikal pebisnis yang mengikuti filosofi air mengalir. Bisnisnya terus berkembang secara alamiah. Oleh karena itu, tidak heran jika melihat rekam jejaknya dalam dunia bisnis, ia memulai bisnis dari sektor hulu baru ke hilir. Bisnis pertama dimulai dari penjualan bahan pakan ternak, mendirikan pabrik pakan ternak dan pembibitan (breeding), membuka kandang budi daya broiler dan layer, membangun rumah potong hewan unggas (RPHU), hingga ke bisnis kuliner produk unggas. “Semua bisnis yang saya jalankan tidak datang bersamaan, semuanya sesuai tahap demi tahap dan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Tapi kalau boleh jujur, melihat kondisi seperti sekarang saya lebih fokus ke bisnis kulinernya,” terangnya.
Keinginannya untuk lebih fokus pada bisnis kuliner bukan tanpa sebab. Pengalamannya selama puluhan tahun berbisnis pada sektor hulu membuatnya untuk bisa berpikir realistis. Bisnis pada sektor budi daya ayam risikonya lebih tinggi karena fluktuasi harganya sangat luar biasa. “Bisnis ayam sudah saatnya harus berubah. Berubah dalam artian kepada yang besar-besar itu mengayomi peternak yang kecil-kecil, bisa dalam bentuk kerja sama inti-plasma tapi yang berkeadilan. Kondisi sekarang sudah tidak memungkinkan untuk bersaing, sistem mitra yg berkeadilan akan lebih sangat bermanfaat bagi semua, win-win solution,” tandasnya.
 
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Istanto, Sukses Membangun Bisnis Kuliner”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153