Ayam lokal merupakan salah satu komoditas ternak yang perlu dikembangkan (Foto : PI_Adam)

POULTRYINDONESIA, Jakarta – Orang-orang mengenal ayam lokal dengan beragam sebutan. Sebagian masyarakat awam biasa menamainya dengan ayam kampung. Sementara itu, bagi masyarakat yang telah lumrah dengan dunia perunggasan, menyebut ayam lokal sebagai ayam bukan ras (buras). Istilah itu muncul dengan anggapan bahwa ayam lokal merupakan jenis yang berbeda dengan ayam ras, baik pedaging (broiler) maupun petelur (layer). Bagaimanapun, ragam julukan tersebut mengacu pada ayam khas Indonesia yang kini banyak dimanfaatkan potensinya dengan kegiatan budi daya.

Indonesia tercipta ketika Tuhan sedang bahagia. Ungkapan itu sering kali terdengar ketika membahas betapa istimewanya negeri ini. Salah satu anugerah yang dimiliki Indonesia adalah keanekaragaman hayati dalam berbagai bentuk. Ayam lokal pun menjadi secercah perwujudan kekayaan tersebut.

Peneliti senior di Balai Penelitian Ternak (Baliltnak) Ciawi, Bogor, Prof. Dr. Ir. Sofjan Iskandar, M.Rur. Sc., mengatakan bahwa penyebutan “ayam lokal” lebih tepat dibandingkan ayam kampung ataupun ayam buras. Menurutnya, ayam kampung merupakan bagian dari ayam lokal itu sendiri. Sementara ayam buras, menurut Sofjan, tidak sepenuhnya salah. Namun pengucapan ayam lokal memiliki makna yang lebih ampuh dalam mengungkapkan jati diri ayam yang dimaksud sebagai sumber daya genetik Indonesia.

Tiga peneliti unggas lokal yaitu Dr. Tike Sartika, Sofjan Iskandar dan Dr. Bess Tiesnamurti, menjelaskan lebih lanjut terkait pengertian unggas ini dalam buku Sumber Daya Genetik Ayam Lokal Indonesia dan Prospek Pengembangannya. Berdasarkan klasifikasi ilmiah, ayam termasuk Kerajaan Animalia; Filum Chordata; Kelas Aves; Ordo Gallimorfes; Familia Phasianidae dan Genus Gallus. Ayam mempunyai jengger (comb) di atas kepala dan dua gelambir (wattles) di bawah dagu. Dalam bahasa latin, gallus memiliki arti comb. Dengan demikian ayam hasil domestikasi dinamakan Gallus gallus domesticus.

Baca Juga : Meninjau Kembali Regulasi Ayam Lokal

Saat ini terdapat beberapa jenis atau rumpun ayam lokal yang mempunyai ciri spesifik dan merupakan unggulan daerah di mana ayam lokal tersebut berkembang. Misalnya, Ayam Pelung merupakan ayam lokal unggulan khas daerah Cianjur Jawa Barat; Ayam Kedu merupakan unggulan ayam lokal di daerah Kedu, Temanggung Jawa Tengah; serta Ayam Nunukan merupakan unggulan daerah Nunukan dan Tarakan. Ayam-ayam tersebut terus diupayakan perkembangannya agar lestari dan tidak punah begitu saja.

Zaman terus berubah. Kini ayam lokal bukanlah sekadar peliharaan sampingan yang diumbar seadanya. Ia telah menjadi komoditas unggulan yang mampu memenuhi pundi – pundi keuntungan. Hal ini merupakan implikasi masyarakat yang semakin menggemari ayam lokal, baik untuk keperluan konsumsi karena cita rasanya yang khas, maupun keperluan ayam hias karena suara serta rupanya yang menarik. Kondisi ini menjadi alasan kuat para peneliti dan pembibit untuk terus mengembangkan ayam lokal agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut, dan tentunya menjaga plasma nutfah ini tetap lestari.

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 21 dengan judul “Kabar Bisnis Ayam lokal”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153