Infectious Coryza sangat mudah dijumpai pada puyuh dengan kondisi kandang terlalu lembab dan populasi terlalu padat (Foto : Endang Sujana)
Oleh: drh. Istianah Maryam Jamilah
Serangan penyakit merupakan salah satu sumber kerugian yang terbesar bagi peternak puyuh. Penyakit pernafasan atas akut pada unggas yaitu Coryza atau Snot hingga kini masih menjadi momok bagi peternak layer di Indonesia, karena dapat menurunkan produksi telur hingga 80% dengan sifatnya yang sangat menular.
Avibacterium paragallinarum merupakan bakteri gram negatif yang menjadi penyebab munculnya penyakit Infectious Coryza (IC), “Coryza” atau “Snot”. Sebelumnya bakteri ini dikenal dengan nama Haemophilus pragallinarum. Bakteri ini merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk batang pendek atau cocobasil yang non motil.  Ayam merupakan host alami dari bakteri ini dan banyak dilaporkan pada ayam kampung, menariknya, IC belum pernah dilaporkan menyerang pada Kalkun.
Baca Juga : Burung Puyuh, Ternak Mungil Berpotensi Besar
Belum lama ini hasil riset Wahyuni, et al. (2018) melaporkan bahwa 5 dari 9 isolat (55,5%) yang didapatkan dari burung puyuh Indonesia yang diduga terkena IC menunjukkan hasil positive A. paragallinarum. Hasil riset oleh Wahyuni, et al. (2018) yang di publikasikan pada Jurnal Veterinary World, 11(4) halaman 519-524 menunjukkan, para peternak dan stakeholder industri peternakan puyuh sudah seharusnya bersiap siaga baik untuk mencegah dan menangani IC pada puyuh. Biasanya IC mudah sekali menyerang puyuh pada semua umur ketika kondisi kandang terlalu lembab dan populasi terlalu padat.
Gejala Klinis
Serangan iInfectious coryza (IC) pada unggas menyebabkan munculnya leleran pada saluran pernafasan atas dan mata yang sangat infeksius dan menular. Gejala klinis yang sangat menciri dari IC adalah munculnya kebengkakan atau oedema pada daerah muka (facial) serta jengger (pial), leleran nanah (purulent) dari mata dan hidung, radang pada hidung (rhinitis) bersin serta unggas biasanya menunjukkan gejala kesulitan bernafas. Serangan IC menyebabkan penurunan laju pertumbuhan pada unggas muda, peningkatan jumlah kematian dari 2-10%, penurunan berat badan, serta penurunan produksi telur yang drastis mulai dari 10% hingga 80%. Pada puyuh petelur, hal ini sangat merugikan karena produksi telur puyuh akan menurun drastis.
Pada broiler, biasanya IC mucul bersama dengan infeksi bakteri Mycoplasma synoviae yang menyebabkan radang pada kantung udara (airsacculitis). Masa inkubasi coryza terbilang sangat cepat yaitu, penyakit dapat berkembang dalam waktu 24-48 dan gejala klinisnya mucul dalam 24-72 jam setelah terpapar eksudat atau leleran maupun kultur bakteri. Serangan bakteri A. paragallinarum yang menyebabkan IC ini secara spesifik menyerang saluran pernafasan bagian atas unggas. Infeksi yang meluas hingga saluran pernafasan bagian bawah biasanya terjadi karena sinergisme serangan A. paragallinarum dan pathogen lain seperti Pseudomonas aeruginosa, Mycoplasma gallisepticum (penyebab chronic respiratory disease atau CRD), Pasteurella multocida serta bakteri-bakteri lain penyebab kolera unggas. 
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Kenali dan Cegah Coryza pada Puyuh”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153