Telur merupakan salah satu sumber protein tinggi dengan harga yang cukup ekonomis
Oleh : Dedi Kusumanaghandi
Masalah distribusi telur ayam ras merupakan hal yang masih menjadi hambatan di beberapa daerah, sehingga terjadi perbedaan harga yang cukup signifikan antara harga di tingkat peternak dengan harga yang dibeli konsumen. Setidaknya terdapat tiga atau empat pedagang perantara antara peternak produsen telur dengan konsumen langsung. Angkutan telur antarpulau, selain membutuhkan waktu yang lama sehingga beresiko terhadap kualitas telur, juga memberikan andil cukup besar dalam membebani daya beli konsumen. Karena setelah sampai di pelabuhan tujuan, telur masih akan melalui perjalanan panjang sampai ke pelosok-pelosok desa yang sarana transoprtasinya masih terbatas.

Telur ayam ras adalah salah satu sumber protein hewani yang sangat diandalkan selain daging broiler. Sekitar 100 juta butir telur ayam ras dihasilkan setiap hari. Namun, apakah sektor pemasaran yang ada saat ini sudah ideal ?

Peternak ayam petelur skala besar dan menengah umumnya sudah memiliki distributor sendiri di sebuah kota yang merupakan  area pemasaran telur. Peternak besar di Kediri misalnya sudah memiliki distributor di Kota Bandung yang setiap harinya menerima satu truk atau lebih yang diangkut oleh kendaraan miliknya atau mitra usahanya yang sudah merupakan langganan tetap. Distributor telur di Kota Bandung kemudian menyalurkan telurnya ke kios-kios di pasar atau ke toko-toko agen penjualan telur, yang kemudian menjualnya ke masyarakat dalam satuan kilogram atau dalam kemasan satu piring telur.
Baca Juga : Selayang Pandang Bisnis Kuliner Produk Unggas
Distributor juga dapat menjual telurnya ke restoran besar atau perusahaan katering yang kebutuhannya cukup besar. Namun rumah makan kecil, warung, pedagang nasi goreng atau martabak biasanya membeli telur dari kios di pasar atau agen penjual telur.  Dengan demikian maka terdapat dua pedagang perantara pada level peternak besar ayam petelur. Namun demikian bagi masyarakat kecil yang hanya membeli satu dua butir telur, maka masih ada satu kemungkinan warung kecil yang membeli telur dari kios di pasar di mana mereka membelinya bersamaan dengan barang kebutuhan lain.
Peternak ayam petelur dalam jumlah kecil atau sedang biasanya menjual telur kepada penyuplai pakan yang merupakan poultry shop atau ketua kelompok peternak. Namun peternak yang tidak terikat kontrak kredit dapat juga menjual telurnya kepada pengepul lain yang perannya hampir sama dengan poultry shop atau ketua kelompok, yakni mengumpulkan dahulu telur-telur tersebut sampai memenuhi kuota angkutan satu truk, baru kemudian menjualnya ke distributor lokal atau pedagang antar kota. 
Baca Juga : Tantangan dan Peluang Bisnis Kuliner Produk Unggas
Jadi pada tingkat peternak kecil dan sedang, terdapat satu tambahan pedagang perantara sehingga tata niaganya melalui 3 atau 4 penyalur, sebelum sampai ke masyarakat luas. Oleh karena itu, maka terdapat biaya tambahan berupa ongkos transportasi bertingkat, serta margin bertahap yang diambil oleh masing-masing pedagang perantara. Apabila harga telur di tingkat peternak Rp 15 ribu per kilogram, maka dapat dipahami bila ditingkat konsumen harganya menjadi Rp 20-22 ribu atau lebih per kilogramnya. Penulis merupakan praktisi peternakan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Keragaman Pemasaran Telur Ayam Ras di Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153