Beberapa waktu lalu, perusahaan penyedia produk feed additive dan kebutuhan nutrisi hewan PT. Fenanza Putra Perkasa bersama salah satu supplier-nya EW Nutrition mengadakan Roadshow Seminar di Jakarta (10/9), Solo (12/9), Yogyakarta (13/9), dan Surabaya (14/9) untuk berbagi informasi terbaru di bidang nutrisi ternak khususnya yang berhubungan dengan mikotoksin.
President Director PT. Fenanza Putra Perkasa Dr. drh. Isra Noor, MM mengungkapkan bahwa sejak hadirnya pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) di Indonesia, Fenanza dan EW Nutrition ingin memberikan kontribusi terbaik untuk memberikan alternatif solusi atas permasalahan di industri peternakan, khususnya di era non-AGP. “Tujuan roadshow ini adalah untuk memberikan masukan tentang apa yang bisa Fenanza kontribusi dalam hal ‘antibiotic reduction’. Di samping itu memang Fenanza selalu melakukan yang terbaik buat para pelanggannya terutama dalam memenuhi keinginan pelanggan untuk menghasilkan peternakan yang lebih baik dengan menerapkan kaidah-kaidah yang disepakati bersama. Namun demikian Fenanza pun sadar bahwa soul-nya Fenanza itu adalah kepuasan pelanggan,” ujar Isra dalam sambutannya pada seminar yang berlangsung di Hotel DoubleTree, Jakarta.
Seminar yang berlangsung di Jakarta.
Kali ini, EW Nutrition mengusung tagline “antibiotic reduction” yang mengacu pada penerapan regulasi tentang pelarangan penggunaan AGP. Kampanye ini merupakan bentuk kepedulian EW Nutrition terhadap penggunaan antibiotik guna menghindari ancaman bahaya resistensi antibiotik di bidang kesehatan hewan maupun manusia yang mengkonsumsinya.
Dalam kesempatan tersebut Isra juga mengumumkan bahwa Fenanza akan menaungi 2 perusahaan, yaitu PT. Fenanza Putra Perkasa sebagai manufaktur obat dan produk kebutuhan nutrisi hewan (premix) serta PT. Fenanza Cipta Abadi yang akan mulai beroperasi tahun 2019 mendatang siap hadir untuk melakukan importasi dan distribusi feed additives.
Ancaman mikotoksin semakin besar
Marisabel Caballero selaku Global Technical Manager Poultry EW Nutrition yang berkesempatan menjadi pembicara pertama membahas secara lebih mendalam tentang makna dari interaksi mikotoksin di dalam usus pada produksi unggas. Mikotoksin sejak lama menjadi ancaman bagi pelaku usaha di industri peternakan karena dampak negatif dan kerugian besar yang dihasilkannya.
“Menurut penelitian, mikotoksin dapat diserap oleh usus hewan hingga 90 persen,” ungkap Marisabel. Banyaknya kasus yang terjadi di lapangan terkait mikotoksin menguatkan data tersebut. Banyak kasus pakan hewan ternak terkontaminasi mikotoksin namun tidak terdeteksi, sehingga mikotoksin sering disebut dengan istilah “silent murderer”. Mikotoksin ini menyerang bagian-bagian yang vital, seperti metabolisme hingga sistem imun.
Terdapat enam mikotoksin yang saat ini kita kenal, yaitu Aflatoxin, Deoxynivalenol, Fumonisin, Ochratoxin, Trichothecenes (T2/HT2), dan Zearalenone. Marisabel menerangkan, enam mikotoksin yang mengancam di pakan memiliki dampak buruk yang berbeda-beda terhadap hewan ternak. “Misalnya, dampak Trichothecenes terhadap sistem imun yakni mengurangi ukuran bursa fabricius dan thymus serta pengurangan dalam titer antibodi,” ungkap Marisabel.
Hewan yang terkontaminasi mikotoksin dapat berimbas pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. I.A.R.C. (International Agency for Research on Cancer) mengklasifikasikan tingkat bahaya ternak yang terpapar mikotoksin terhadap kesehatan manusia menjadi beberapa Grup: Grup 1 bersifat karsinogenik terhadap manusia, Grup 2A memungkinkan adanya karsinogenik terhadap manusia, Grup 2B memungkinkan karsinogenik pada manusia, dan Grup 3 tidak diklasifikasikan sebagai karsinogenik terhadap manusia.
Presentasi salah satu narasumber membahas lebih jauh mengenai mikotoksin.
Pembicara lainnya, Dr. Claudio Campanelli yang merupakan Product Manager Mastersorb EW Nutrition melalui presentasinya membawa perspektif baru mengenai mikotoksin. Ia menguraikan pandangan baru dari ancaman lama yakni makna biologis mikotoksin dalam hasil produksi hewan ternak dan dilanjutkan dengan presentasi keduanya bertema peran mineral tanah liat (clay) dalam mendukung performa hewan.
Dalam presentasinya, Claudio menyebutkan beberapa karakteristik clay yang harus dimiliki, beberapa diantaranya kapasitas pengikatan toksin tinggi, interaksi yang tidak signifikan dengan nutrisi hingga interaksi yang tidak signifikan dengan komponen produk lainnya. “Clay yang digunakan sebagai toxin binder salah satunya adalah bentonite, namun tidak semua bentonite sama,” jelas Claudio. Suatu studi menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi Aflatoksin di antara bentonite yang berbeda memiliki perbedaan lebih dari 10 kali lipat. Jadi, dengan mengetahui perbedaan antara clay yang satu dengan yang lainnya, maka pelanggan diharapkan untuk lebih jeli dan selektif dalam pemilihan mycotoxin binder yang berbahan dasar clay.
Dalam produk Mastersorb yang dikembangkan oleh EW Nutrition terkandung bentonite yang memiliki keunikan tersendiri dalam mengikat mikotoksin. Produk ini telah teruji secara in vitro untuk membuktikan kapasitas pengikatan mikotoksin dan secara in vivo untuk menunjukkan bahwa Mastersorb mampu meningkatkan kesehatan dan performa ternak serta tidak berinteraksi dengan nutrisi maupun additive lain yang terkandung dalam pakan.
Sementara itu, Dr. Isra Noor, DVM., MM menjelaskan mengenai pemetaan mikotoksin di Indonesia melalui uji bahan baku pakan yang biasa dipakai di lapangan. Selama 2018, Fenanza melakukan sebuah terobosan baru dalam hal analisis mikotoksin, dengan cara mengumpulkan data hasil analisa mikotoksin hingga memperoleh data yang akurat mengenai penyebaran dan perkembangan mikotoksin di lapangan.
Informasi berupa laporan analisis mikotoksin dari Fenanza yang dilakukan di berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera tersebut ditujukan kepada pelanggan sebagai salah satu bentuk pelayanan dari Fenanza. “Data ini akan kita update terus,” ujar Isra.
Penilaian mikotoksin
Materi selanjutnya membahas tentang langkah menguasai analisis mikotoksin yang dibawakan kembali oleh Marisabel Caballero. EW Nutrition mengembangkan suatu program yang dinamakan MasterRisk. Program ini sebelumnya telah diluncurkan pertama kali dalam acara Indo Livestock 2018, di JCC Senayan – Jakarta. Program ini dapat diakses dengan mudah di www.masterisktool.com dan aplikasinya dapat diunduh melalui Google Play Store atau Apps Store.
“Mengapa perlu mengetahui nilai mikotoksin? Karena mengukur bahaya adalah langkah pertama yang harus dilakukan,” tegas Marisabel. Pertama, perlunya mempertimbangkan raw material pada pakan, menganalisis mikotoksin yang paling penting, serta memiliki landasan yang kuat untuk mengambil keputusan. Selain pengetahuan juga dibutuhkan pemahaman tentang bagaimana cara menghubungkan kontaminasi dengan risiko, mengetahui dampak kesehatan yang dapat terjadi pada hewan ternak, dan pemahaman yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dalam menurunkan ancaman bahaya kontaminasi mikotoksin.
Pada kesempatan tersebut, tim EW Nutrition memperlihatkan tahap demi tahap penggunaan aplikasi MasterRisk dengan menggunakan mobile phone. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur yang mudah digunakan (user-friendly) dan dapat melakukan analisis mikotoksin secara akurat. Pengguna akan menerima laporan mengenai penilaian kandungan toksin dalam pakan serta nilai risiko mikotoksin dalam pakan tersebut. Selain laporan, alat ini akan memberikan rekomendasi produk mikotoksin binder dan dosis yang sesuai sebagai solusi.