Mengantisipasi kejadian penyakit dengan manajemen pemeliharaan yang baik
Oleh: Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P.
Dunia perunggasan khususnya peternakan ayam komersial dan pembibitan ayam di Indonesia merupakan usaha bidang peternakan yang paling maju dan berkembang saat ini. Meskipun demikian, pelaku perunggasan sering kali mengalami kendala, salah satunya adalah penyakit Avian Influenza (AI). Wabah penyakit AI telah banyak menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi karena penurunan produksi telur pada ayam, burung puyuh, dan itik petelur, serta menyebabkan kematian tinggi berbagai spesies unggas.
Perkembangan penyakit AI di Indonesia, sejak gelombang wabah pertama sampai saat ini, menunjukkan variasi gejala klinis dan patologis yang sangat nyata. Secara ringkas karakter klinis dan patologis tersebut dapat penulis kelompokkan menjadi 5 bentuk, yaitu; bentuk pertama adalah kasus penyakit AI dengan kematian tinggi tanpa lesi penyakit AI. Bentuk ini teramati pada awal wabah yang ditandai oleh kematian tinggi mencapai 100% pada ayam petelur, burung puyuh, ayam kampung, tetapi tanpa disertai lesi tertentu. Bentuk kedua adalah infeksi virus AI yang menimbulkan kematian unggas sangat tinggi mencapai lebih dari 80% dalam waktu kurang dari satu minggu. Gejala klinis yang teramati antara lain: balung dan pial sianotik, udema, dan hemoragi, perdarahan di otot abdominal, kaki, dan telapak kaki, atau pada bagian tubuh ayam yang tidak berbulu. Adapun bentuk ketiga adalah penyakit AI dengan tingkat kematian tinggi mencapai 70% dengan kematian unggas berlangsung lebih lama antara 1-2 minggu, tetapi mortalitas lebih rendah dari kasus AI pada awal wabah. Pada umumnya gejala klinis dan lesi patologis yang teramati tidak selalu khas penyakit AI.
Baca Juga : Pencegahan Terhadap Penyakit Avian Influenza
Karakter klinis dan patologis bentuk keempat adalah kasus penyakit AI dengan mortalitas rendah tanpa gejala klinis dan lesi patologi makroskopis tersifat penyakit AI. Pada ayam layer terjadi penurunan kualitas dan kuantitas produksi dengan drastis. Nekropsi pada kasus tersebut teramati lesi perdarahan terbatas pada ovarium dengan derajat bervariasi. Kasus tersebut dominan dilaporkan terjadi di lapangan saat ini. Sedangkan kasus penyakit AI pada broiler saat awal wabah dilaporkan tanpa gejala khas penyakit AI, tetapi dengan kematian yang meningkat sedikit demi sedikit. Meskipun demikian beberapa kasus AI pada broiler dewasa ini dapat dicirikan dengan lesi khas perdarahan pada kaki disertai kematian tinggi.
Bentuk kelima adalah penyakit AI yang bersifat subklinis, yang terjadi pada unggas tanpa vaksinasi AI, tetapi dapat diisolasi virus AI dan dibuktikan adanya titer antibodi virus AI. Kasus tersebut dilaporkan terjadi pada unggas sektor 4 yaitu: ayam kampung, burung puyuh, dan unggas air.
Perubahan gejala klinis dan lesi patologi makroskopis dipengaruhi banyak faktor antara lain: patogenisitas molekuler, dosis infeksi, dan imunitas unggas yang terserang. Seiring dengan kebijakan strategi vaksinasi massal pada unggas, permasalahan cakupan dan tingkat proteksi vaksinasi belum tentu optimal oleh berbagai faktor seperti: individu unggas, kualitas vaksin, program vaksinasi, biosekuriti, dan faktor manajemen yang bervariasi di antara farm. Kondisi tersebut menyebabkan imunitas yang dibangun oleh vaksinasi menjadi tidak merata dan tidak protektif dalam suatu populasi, akibatnya ditemukan unggas yang peka.
Mengapa penyakit AI masih muncul di industri perunggasan sampai saat ini? Menurut hemat penulis, ada yang terlupakan di lapangan yaitu bahwa praktik biosekuriti mulai kendur dilaksanakan atau bahkan dapat dikatakan diabaikan. Pada tingkat operasional di lapangan banyak dijumpai kotak telur dan keranjang broiler yang keluar masuk kandang tanpa perlakuan desinfeksi dengan memadahi. Pekerja kandang, lalu lintas sarana produksi, kolektor telur, apkir unggas, dan tamu kandang berpeluang besar dalam penularan AI.
Baca Juga : Sejarah Perkembangan Avian Influenza
Masih munculnya penyakit AI di industri perunggasan terjadi karena kendurnya biosekuriti yang diterapkan di lapangan. Upaya penanggulangan dan pengendalian penyakit unggas secara khusus penyakit AI tidak bisa mengandalkan satu cara saja, tetapi harus bersinergi dengan berbagai faktor pengendalian sebagaimana digariskan oleh pemerintah, dan harus disertai komitmen yang kuat oleh pelaku usaha perunggasan. Lalu lintas unggas sejauh ini juga belum dapat sepenuhnya dikendalikan. Transportasi unggas dari kandang ke pasar unggas hidup dan depo penjualan ayam hidup yang berasal dari berbagai lokasi, umur, dan spesies unggas memungkinkan terjadi penularan dan propagasi virus AI. Mata rantai lalu lintas tersebut, perlu mendapatkan penanganan tersendiri untuk mengurangi risiko penularan, persistensi, dan infeksi virus AI.
Faktor penting dalam manajemen kesehatan unggas yang belum dipikirkan adalah tidak seiramanya program vaksinasi AI di antara peternak dalam suatu kawasan peternakan. Kondisi tersebut menyebabkan variasi titer antibodi antarkandang tergolong lebar, yang berpotensi terjadi pendedahan penyakit AI. Untuk itu konsep vaksinasi ideal setiap kandang dalam suatu lingkungan peternakan perlu ditata sebaik mungkin dengan mempertimbangkan kandang lain di lingkungannya. Beberapa pertimbangan kerja sama dan keterbukaan antarkandang perlu dikembangkan, sehingga di antara peternak sebaiknya tidak menutup diri terhadap lingkungannya demi kerja sama sinergis dalam penanggulangan virus avian influenza. Penulis merupakan Guru Besar Bidang Mikrobiologi pada Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.
Artikel ini adalah lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2019 dengan judul “Menjaga Optimisme Industri Unggas Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153