Selandia Baru kembali dilanda wabah Infectious Bursal Disease
Oleh drh. Istianah Maryam Jamilah
Gumboro merupakan penyakit imunosupresi akut yang sangat menular pada ayam muda. Penyakit yang disebabkan oleh virus IBD (IBDV) ini biasanya memiliki morbiditas tinggi namun mortalitas rendah. Ada dua serotipe IBDV yang dikenal yaitu serotipe 1 dan 2.  IBDV serotipe 1 menyebabkan penyakit dan imunosupresi pada ayam dan bersifat patogenik, sedangkan IBDV serotipe 2 merupakan tipe non-patogenik dan tidak menyebakan imunosupresi pada unggas komersial. IBDV serotipe 2 banyak ditemukan pada peternakan komersial serta bebek liar (mallards) di Selandia Baru, serotipe non patogenik ini tidak menjadi perhatian utama industri perdagangan karena tidak menimbulkan efek patologis.

Baru-baru ini Selandia Baru digemparkan dengan munculnya kembali gumboro setelah dua dekade bebas dari infectious bursal disease (IBD) tipe 1 atau gumboro pada peternakan unggas komersial.  Kerugian Selandia Baru akibat wabah gumboro diperkirakan mencapai NZ$141 juta karena langsung berimbas pada perdagangan ekspor dan impor daging dan telur unggas.

Pada bulan Juni 2019, IBD tipe 1 kembali ditemukan di flok ayam petelur di Waikouaiti, Otago, Selandia Baru melalui uji serologis Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) pada surveilans rutin IBD tipe 1 oleh industrI. Laporan ini kemudian telah dikonfirmasi oleh Laboratorium Rujukan Kementerian Industri Primer (Ministry of Primary Industries) dengan virus-neutralisation test (VNT), reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR), real-time reverse transcriptase/polymerase chain reaction (RRT-PCR), dan gene sequencing.
Baca Juga : Waspada Ancaman Gumboro Pada Peternakan Unggas
Laboratorium dalam negeri Selandia Baru telah mengonfirmasi bahwa IBDV yang menyerang peternakan di Wikuaiti merupakan IBDV tipe 1 (Tabel 1). Namun, laboratorium rujukan World Organisation for Animal Health (OIE) di Prancis juga belum secara resmi melaporkan hasil gene sequencing mengenai wabah ini, meskipun ada beberapa surat kabar dalam negeri yang telah melaporkan  bahwa OIE  telah mengonfirmasi bahwa wabah IBDV di Selandia Baru tahun 2019 ini merupakan IBDV serotipe 1.
Tabel 1. Ringkasan Hasil Uji Diagnosa IBDV pada kasus wabah 2019
Nama dan tipe laboratorium
Uji laboratorium
Tanggal Uji
Hasil
Laboratory for Investigation and Swine, Poultry and Fish Study, Ploufragan, France
(Laboratorium Rujukan OIE)
gene sequencing
Hasil ditunda
National Animal Health Laboratory
(Laboratorium Nasional)
gene sequencing
20 Agustus 2019
Positif
IBDV tipe 1
National Animal Health Laboratory
(Laboratorium Nasional)
reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR)
14 Agustus 2019
Positif
IBDV tipe 1
National Animal Health Laboratory
(Laboratorium Nasional)
gene sequencing
12 Agustus 2019
Positif
IBDV tipe 1
National Animal Health Laboratory
(Laboratorium Nasional)
reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-PCR)
08 Agustus 2019
Positif
IBDV tipe 1
National Animal Health Laboratory
(Laboratorium Nasional)
real-time reverse transcriptase/ polymerase chain reaction (RRT-PCR)
06 Agustus 2019
Positif
IBDV tipe 1
National Animal Health Laboratory
(Laboratorium Nasional)
virus neutralisation test (VNT)
19 Juli 2019
Positif
IBDV tipe 1
Poultry Veterinary Services (Private Laboratory)
antibody detection ELISA
28 Juni 2019
Positif
IBDV tipe 1
Sumber: OIE
Hingga pertengahan Oktober 2019, IBD tipe 1 dilaporkan telah menyerang sekitar 355.000 ayam petelur di Kota Waikouaiti dan Hillgrove, Provinsi Otago. Industri perunggasan secara mandiri telah meggencarkan tes serologis pada telur dan peternakan unggas di seluruh Selandia Baru, namun hingga saat artikel ini ditulis belum ada laporan mengenai hasil positif IBDV tipe 1 di daerah lain selain Wikouaiti dan Hillgrove, Provinsi Otago.  Meskipun banyak ayam petelur komersial yang dilaporkan terjangkit gumboro, namun hingga saat artikel ini ditulis belum ada laporan gejala klinis, penurunan produksi maupun kematian ayam akibat wabah gumboro di tahun 2019. *Penulis Merupakan Koresponden Poultry Indonesia dan Mahasiswa Master of Veterinary Studies, Massey University, Selandia Baru.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Menelisik Kasus Gumboro di Selandia Baru”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153