Gumboro merupakan penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Mengutip Lukert P. dan Y. M. Saif pada buku Diseases of Poultry edisi ke-11, penyakit IBD pertama kali dilaporkan di Gumboro, Delaware Amerika Serikat, pada tahun 1962 oleh Cosgrove. Gumboro merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan ditemukan hampir di setiap daerah peternakan ayam intensif.  Gumboro sering menyerang ayam muda yang disebabkan oleh Infectious Bursal Disease Viruses (IBDV) dari genus Avibirnavirus yang memiliki double-stranded segment RNA.

Peternakan ayam ras menjadi bidang peternakan di Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Namun, budi daya ayam ini juga memiliki banyak tantangan, salah satunya adalah Infectious Bursal Disease (IBD) atau yang lebih dikenal penyakit Gumboro.

Gumboro mudah menular bukan hanya pada ayam ras pedaging dan petelur, tetapi juga ayam bukan ras (buras). Jika suatu peternakan terkena wabah IBD, maka akan sangat mudah menyebar ke peternakan lain, bahkan penularan berlanjut sampai generasi berikutnya pada peternakan yang sama. Penularan ini dapat terjadi karena kontak langsung antara ayam penderita dengan ayam sehat, litter yang tercemar virus Gumboro, ataupun lewat makanan yang terkontaminasi. Jackwood dan Sommers pada tahun 1999 menyatakan bahwa Gumboro merupakan satu di antara penyakit unggas terkenal di Asia, khususnya di Indonesia, karena penyakit ini menimbulkan kerugian berupa angka mortalitas tinggi, penurunan produksi daging, telur, peningkatan biaya manajemen serta bersifat imonusupresi yang berakibat ayam menjadi lebih peka terhadap berbagai jenis infeksi.
Baca Juga : Peran Penting Dokter Hewan dalam Penggunaan Antibiotik yang Bertanggungjawab
Virus IBD cenderung mengalami modifikasi genetik secara cepat sehingga muncul virus yang bersifat antigenik ataupun patogenik varian. Menurut pengamatan Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, kasus Gumboro di Indonesia dapat dihubungkan dengan virus Gumboro bentuk klasik yang mengalami modifikasi dalam patogenisitasnya, yang lazim disebut patogenik varian yang efeknya sangat mirip dengan virus Gumboro dari negara lain yang digolongkan sebagai very virulent IBDV (vvIBDV). Soejoedono pada penelitiannya tentang Gumboro tahun 1995 menyatakan adanya varian baru dari virus IBD menunjukkan perbedaan sekuen nukleotida pada genom penyandi protein VP2. Beberapa isolat bahkan ditemukan dalam keadaan baru sama sekali berbeda dengan isolat yang ada sebelumnya.
Target utama virus IBD adalah jaringan limfoid dengan bursa Fabricius sebagai organ targetnya. Virus IBD juga menyerang organ limpa, tonsil-sekum dan timus. Duodenum, jejenum, dan sekum merupakan tempat pertama untuk virus bereplikasi. Lalu, melalui vena porta virus kemudian menuju ke hati. Menurut Tizard pada “Pengantar Imunologi Veteriner”, bursa Fabricius mempunyai fungsi sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi sel limfosit B, kemudian sel limfosit akan masuk ke sirkulasi dan berperan untuk menerima atau memberi reaksi terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Sel T tidak memproduksi antibodi tetapi berfungsi dalam kekebalan berperantaraan sel. Limfosit T yang peka terhadap antigen spesifik mampu menghilangkan sel-sel yang telah terinfeksi oleh virus.
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Waspada Ancaman Gumboro pada Peternakan Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153