Kampanye penggunaan antibiotik yang bijak perlu didorong untuk mengurangi kasus resistensi antimikroba di hewan maupun manusia
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pelarangan penggunaan antibiotik di Indonesia sebagai feed additive dalam pakan di awal tahun 2018 merupakan suatu langkah untuk merespon resistensi antimikroba yang semakin meresahkan masyarakat dunia. Konsep One Health yang merupakan suatu langkah pendekatan kolaboratif antara berbagai bidang ilmu untuk memecahkan masalah tantangan kesehatan global. Untuk mengontrol penggunaan antibiotik yang digunakan pada hewan, maka peran dokter hewan berperan sangat penting dalam penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggungjawab.
Maka dari itu, Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (Affaveti) melakukan seminar dengan tema “Peran dokter Hewan dalam Membangun Ketangguhan industri Peternakan Modern” yang bertempat di IPB International Convention Center, Bogor(12/12). Peran Asosiasi Affaveti dalam era perunggasan non Antibiotic Growth Promoter adalah membantu pemerintah dalam membangun industri peternakan yang kompetitif melalui penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggungjawab. Selain itu juga Affaveti berperan untuk membantu pemerintah dalam memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai bijak antibiotik kepada profesi dokter hewan yang ada di Indonesia.
Baca Juga : Proyeksi Bisnis Perunggasan 2019
Dalam pidato sambutan yang disampaikan oleh Ni Made Ria, ia menyoroti tentang isu resistensi antimikroba yang sedang terjadi di seluruh belahan dunia, yang dampaknya itu dirasakan oleh berbagai elemen seperti Hewan, lingkungan, dan manusia. “Maka dari itu, harus ada pembatasan penggunaan antibiotik di Indonesia, yang tertuang dalam Undang-Undang no 18 Tahun 2009 Pasal 22 ayat 4 yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampurkan dengan hormon tertentu dan atau antibiotik bukan pakan. Selanjutnya hal tersebut tertuang dalam Permentan No. 14 Tahun 2017 yang di dalamnya mencantumkan larangan penggunaan AGP,” jelas Ria.
Masuk ke sesi pertama yaitu pemaparan tiga materi seminar dari narasumber yang kompeten yang dimoderatori oleh Dr. drh. Trioso Prunawarman MSi yaitu Dosen dari FKH IPB yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Kerjasama FKH IPB. Materi Pertama diisi oleh drh. Muhammad Munawaroh MM selaku Ketua Umum PB – PDHI dengan topik “Kompetensi dokter hewan di Bidang Obat Hewan dalam Merespon Perkembangan Global”.
Baca Juga : Mengoptimalkan Pemeliharaan Unggas
Memasuki era non AGP dalam pakan, peran dokter hewan dalam membatasi penggunaan antibiotik menjadi sangat vital untuk menyelamatkan generasi penerus dari ancaman residu antimikroba. Menyikapi hal tersebut itu, Ketua Umum PB PDHI yaitu Muhammad Munawaroh berharap kepada para dokter hewan yang ada untuk gencar melakukan sosialisasi kepada peternak tentang bahaya dari penggunaan antibiotik yang kurang tepat sasaran. “Jadi dokter hewan harus berperan dalam pengawasan penggunaan obat hewan baik di tingkat pelaku usaha peternakan maupun di masyarakat pada umumnya dengan melakukan pemahaman kepada para pelaku usaha peternakan,” ujar Munawaroh.
Jika dilihat dari sisi teknis, penyakit yang sering menyerang ketika pelarangan AGP sebagai imbuhan pakan ditetapkan oleh pemerintah adalah penyakit yang menyerang area usus. Awalnya AGP digunakan untuk mengeliminir bakteri merugikan saluran pencernaan agar mendapatkan bobot badan serta rasio konversi pakan yang lebih baik. AGP sendiri diberikan pada unggas dengan dosis sub-terapeutik atau di bawah dosis normal untuk terapi. Karena target AGP sendiri adalah kepada bakteri pada permukaan saluran pencernaan, sehingga pemberian dosis sub-terapeutik diharapkan tidak terdistribusi jauh hingga ke dalam organ dan tidak meninggalkan residu pada daging dan telur saat dipanen.
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “: Peran Penting Dokter Hewan dalam Penggunaan Antibiotik yang Bertanggungjawab”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153