Serai dapat menjadi salah satu bahan alternatif untuk membantu melawan mikroorganisme patogen di pencernaan unggas

Oleh Tri Ujilestari, S.Pt*

Produktivitas ternak ayam ras pedaging (broiler) dapat menurun sebagai akibat serangan bibit penyakit di dalam saluran pencernaan. Setelah telur menetas, anak ayam mulai mencari makan dan memasukkan pakan ke dalam saluran pencernaannya. Saat proses pencernaan itulah, mikroba patogen seringkali terbawa masuk bersamaan dengan pakan yang dikonsumsi. Beberapa mikroba patogen seperti Salmonella typhimurium, Escherichia coli, Salmonella enteritidis, Clostridium perfringens, Campylobacter jejuni, dan Listeria monocytogenes menghasilkan racun yang dapat merusak struktur fisik dinding sel usus halus, yang sangat penting peranannya dalam proses absorbsi mikro-nutrien.

Pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada peternakan unggas perlu direspons dengan solusi yang efektif. Berbagai bahan alternatif pun dikembangkan, di antaranya minyak atsiri serai dan kapulaga.

AGP terbukti efektif membunuh mikroba patogen di dalam usus, sehingga populasi mikroba patogen, produksi racun, problem fisik (luka, infeksi, radang, kematian jaringan, kanker) pada dinding usus, produksi mukosa oleh dinding usus semuanya berkurang, serta mikro vili dan kripta dapat tumbuh dengan maksimal. Antibiotik menjadi salah satu alternatif terbaik dalam upaya mencegah banyaknya jumlah mikroba patogen di dalam usus. Namun, penerapan yang tidak sesuai aturan telah memicu munculnya strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik.
Baca Juga : Probiotik Alami Solusi Pengganti AGP
Fitobiotik memiliki kandungan senyawa aktif fitokimia yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengganti antibiotik. Minyak atsiri telah mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir sebagai alternatif alami karena memiliki efek positif terhadap kinerja pertumbuhan, mikroflora usus dan kesejahteraan hewan. Minyak atsiri memiliki fungsi sebagai antimikroba, antifungi, antiparasit dan antivirus. Di samping itu keuntungan dari penggunaan minyak atsiri yaitu merangsang nafsu makan, meningkatkan sekresi enzim yang berhubungan dengan pencernaan makanan dan pengaktifan respons imun.
Minyak atsiri atau yang banyak dikenal dengan essential oil, umumnya ditemukan pada daun, kulit batang, akar, serta buah pada tanaman. Indonesia merupakan penghasil dan pengekspor minyak atsiri dalam jumlah yang besar, sebagian besar diekspor ke Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa. Minyak atsiri apabila diolah dapat menjadi produk yang mempunyai nilai jual yang lebih tinggi serta dapat dimanfaatkan khususnya untuk ternak unggas sebagai fitobiotik. Minyak atsiri dapat dijadikan sebagai suplemen alternatif yang baik untuk melawan mikroorganisme patogen. *Mahasiswa Program Doktor Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2019 dengan judul “Minyak Atsiri Serai dan Kapulaga, Solusi Pengganti AGP”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153