Muhammad Munawaroh
Siang itu cuaca cukup terik. Kondisi jalan dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan terlihat ramai lancar. Wajah para pengguna jalan yang terlihat lemas pertanda bahwa saat itu memang masih di bulan Ramadan. Perjalanan yang memakan waktu hingga 1 jam tersebut cukup nyaman karena menggunakan bus transjakarta yang kebetulan penumpangnya sedang tidak terlalu ramai. Hingga tepat mendekati jam 10 siang, wartawan Poultry Indonesia sudah sampai di lokasi wawancara di Jalan RM. Harsono No. 10, Ragunan, Jakarta Selatan.

Segala sesuatu yang direncanakan jauh lebih baik daripada yang tidak direncanakan. Minimal, jika rencana itu gagal, ada alternatif lain yang biasanya sudah disiapkan.

Tak lama Poultry Indonesia menunggu di ruang tamu, sosok yang sedang ditunggu tersebut akhirnya tiba. Sejak pertama membuka pintu dan menyampaikan salam, wibawa seorang pemimpin tampak jelas dari raut wajahnya. Namanya Muhammad Munawaroh, namun kebanyakan orang biasa memanggilnya Pak Mun.
Hobi berorganisasi
Menjadi orang nomor satu di Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia tentu membuat kesibukannya semakin bertambah. Munawaroh bercerita bahwa keinginannya menjadi dokter hewan sudah ada sejak usianya masih kanak-kanak. “Waktu masih kecil saya sering melihat peternakan sapi perah yang ada di Yogyakarta. Melihat mereka kok kesulitan berkembang, hal itu yang membuat saya termotivasi ingin bisa membantu mereka melalui profesi dokter hewan. Di samping itu, ada motivasi lain juga yaitu meringankan beban orang tua untuk bagaimana kuliah tanpa perlu membeli buku, saya dapat lungsuran buku dari kakak yang sudah lebih dulu kuliah di kedokteran hewan UGM,” kenangnya.

Baca Juga : PDHI Gelar Seminar Bahas Pengendalian Resistensi Antimikroba

Munawaroh yang memiliki segudang pengalaman organisasi memang sejak masa mudanya mencintai aktivitas tersebut. Beberapa jabatan yang pernah ia emban seperti Wakil Ketua OSIS di SMP dan SMA, Ketua Karang Taruna di kampungnya, Ketua Cabang PDHI Wilayah Jawa Barat V, Presiden Indonesia Cat Assosiation (ISA) sejak 2003-2014, serta yang terbaru yaitu Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) periode 2018-2022.
Lahir dan besar di Yogyakarta membuat sikapnya seperti orang Jawa pada umumnya, murah senyum dan santun saat berbicara. Munawaroh merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) angkatan 1984. Ia lulus dari FKH UGM tahun 1989 dan meraih gelar profesi dokter hewan pada tahun 1991. Pasca lulus, ia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Menjadi manajer sebuah frienchise ayam cepat saji ternama merupakan pengalaman kerja pertamanya. Sempat berpindah-pindah tempat kerja hingga ke Pulau Sumatra dilakoninya.
“Saya pernah bekerja selama beberapa tahun di Sumatra Barat, lalu kembali ke Jakarta sebagai pemasar obat ternak, sempat juga di peternakan burung onta, hingga bekerja di perusahaan obat manusia. Karir meningkat cukup baik saat bekerja di perusahaan obat manusia milik pemerintah sampai dipercaya sebagai Direktur Marketing,” tuturnya kepada Poultry Indonesia, Selasa (28/5).
Keberhasilannya dalam membangun karir tak begitu saja diraihnya. Proses perjalanan panjang yang dilakoninya menyimpan banyak suka maupun duka. Pria bergelar lengkap drh. Muhammad Munawaroh, MM ini mengaku setiap hal yang dijalaninya merupakan wujud aktualisasi dari rencana-rencana hidup yang memang sudah jauh hari direncanakan. Seperti halnya dengan jabatan sebagai ketua umum PB PDHI, ia bercerita bahwa jauh sebelum adanya musyawarah nasional, ia mulai sering berkunjung ke cabang-cabang untuk sekadar mengisi materi seminar dan sebagainya yang pada intinya membuka jalan untuk menuju ke kursi tertinggi PB PDHI.
Mengidolakan Ki Hajar Dewantara
Sebagai orang Yogyakarta, Munawaroh tentu sangat tidak asing jika mendengar nama Ki Hajar Dewantara. Bahkan, tokoh pendidikan nasional tersebut merupakan sosok yang sangat diidolakannya. Prinsip hidup Ki Hajar yaitu “Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah menjadi penyemangat) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dukungan) menjadi prinsip yang juga dipegang teguh oleh lulusan dokter hewan lulusan UGM ini.
Baginya, Ki Hajar Dewantara memberikan sebuah pelajaran hidup bahwa manakala seseorang diberikan amanah sebagai seorang pemimpin, maka ia yang harus melayani bukan dilayani. Oleh karena itu, dalam menjalankan aktivitas sebagai ketua organisasi maupun pimpinan perusahaan, ia mengaku selalu berusaha memotivasi staf atau anggotanya agar siap bekerja dengan penuh kecintaan dengan membangun rasa memiliki (sense of belonging). “Sejak dilantik menjadi Ketua Umum PDHI, saya sudah ke 38 cabang hanya untuk memotivasi dan membuat mereka merasa memiliki PDHI. Pada prinsipnya, memimpin organisasi non-profit dengan perusahaan komersial itu hampir sama. Yang paling penting adalah adanya sebuah rencana kerja, kemudian pembagian kerja yang jelas untuk mencapai tujuan bersama-sama,” tandasnya.
Mengenai pembagian waktu atas kesibukannya yang padat, baik di organisasi maupun perusahaan yang ia pimpin, Munawaroh menerapkan konsep pendelegasian dalam menjalankan aktivitasnya. Menurutnya, dengan adanya sistem yang memberikan hak dan kewenangan untuk anggota maupun stafnya, maka keduanya bisa berjalan beriringan. “Organisasi itu kalau diikutin terus tidak akan ada habisnya. Setiap hari nyaris ada saja undangan ke sana kemari. Akan tetapi, dengan pendelegasian, maka semua bisa selesai. Bahwa kemudian ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diputuskan karena keterbatasan kewenangan, maka hal itu dikonsultasikan terlebih dahulu,” ungkapnya.
Kedisiplinannya dalam berorganisasi juga ia terapkan kepada keluarganya di rumah. Munawaroh bercerita bahwa sejak kecil, saat malam tiba, anak-anaknya dilatih untuk menyiapkan segala kebutuhan hariannya seperti baju, buku, tas, dan lain-lain oleh mereka sendiri. Selain itu, ia dan istrinya juga memberikan kebebasan kepada anak-anak dalam beraktivitas sehari-hari, namun masih dalam batas pengawasannya. “Saya bilang kepada anak-anak sejak kecil, bahwa tidak selamanya orang itu akan terus bergantung kepada orang tua, ada masanya harus bisa hidup mandiri. Alhamdulillah mereka sekarang sudah pada besar dan bisa mandiri,” tutupnya mengakhiri wawancara dengan Poultry Indonesia. Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2019 dengan judul “Muhammad Munawaroh, Gemar Berorganisasi Sejak Muda”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153