Perwakilan Kementan bersama jajaran manajemen Nutricell melakukan seremoni potong pita.
Kontribusi ekspor kembali dilakukan oleh pelaku usaha di industri peternakan Indonesia. Kali ini giliran PT Nutricell Pacific yang melakukan pelepasan ekspor perdana produk premiks miliknya dengan negara tujuan Vietnam, pada 6 Februari 2019 bertempat di pabrik premiks Nutricell, Taman Tekno BSD – Tangerang.
Total ekspor perdana ini adalah sebanyak 1 kontainer yang terdiri dari premiks untuk berbagai spesies, diantaranya unggas, ruminansia, udang, ikan, dan babi dengan nilai ekspor mencapai 177,8 USD atau senilai 2,5 miliar rupiah.
Pelepasan ekspor perdana Nutricell dihadiri dan diresmikan oleh Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan mewakili Dirjen Peternakan dan Keswan Kementerian Pertanian serta Ni Made Ria Isriyanthi, Kepala Sub Direktorat Pengawasan Obat Hewan Kementerian Pertanian.
Suaedi Sunanto, CEO PT Nutricell Pacific, menyampaikan bahwa sebagai langkah awal, Nutricell melakukan ekspor ke Vietnam. “Saya melihat market di Vietnam sangat dinamis,” ujarnya. Menurutnya, Vietnam memiliki pasar yang terbuka lebar. Dalam beberapa hal, Indonesia dan Vietnam memiliki kesamaan, antara lain konsumen yang lebih mengarah ke produksi massal (mass production) serta kondisi lingkungan dan iklim.
Acara ini juga dihadiri, disaksikan, dan diresmikan oleh Fini Murfiani selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan mewakili Dirjen Peternakan dan Keswan serta Ni Made Ria Isriyanthi, Direktorat Pengawasan Obat Hewan. Kegiatan ini berlangsung di pabrik premix milik PT Nutricell Pacific di Taman Tekno BSD, Tangerang pada 6 Februari 2019.
Hal ini disampaikan oleh Suaedi Sunanto, CEO PT Nutricell Pacific, untuk ekspor perdana ini dilakukan dengan negara tujuan Vietnam. “Saya melihat market di Vietnam sangat dinamis,” ujarnya. Menurutnya, Vietnam memiliki pasar yang terbuka lebar. Selain itu, ada kesamaan antara Indonesia dan Vietnam, antara lain konsumen yang lebih mengarah ke produksi massal (mass production); kondisi lingkungan; iklim. “Jadi saya pikir kalau kita berperan disini, kita juga bisa berperan di sana (Vietnam),” lanjutnya.
Nutricell sebagai perusahaan produsen dan distributor berbagai macam feed additive seperti vitamin dan mineral premix, enzim, dan lainnya. Dengan menjunjung nilai linked hingga innovation yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan memposisikan diri di market industri obat untuk berkontribusi memenuhi kebutuhan peternak secara nasional dan saat ini merambah regional.
“Bagaimana kami memposisikan diri di antara industri obat hewan yang ada baik di nasional, regional, maupun di global, kita memposisikan diri kompetensi kita ada di berbagai bidang,” ungkap Suaedi. Ia menyebutkan Nutricell memperkuat bidang usahanya, diantaranya analytic yang dapat menjadi kekuatan yang signifikan untuk industri peternakan kedepannya. Kedua, laboratorium untuk mensupport customer, didukung dengan berbagai fasilitas di laboratorium. Ketiga, membangun network dengan pemain di regional maupun global untuk sourcing material. Keempat, Nutricell melakukan desain dan manufacturing dengan baik sesuai dengan aturan yang ada. “Saat ini untuk desain dan manufacturing kita sudah comply dengan GMP dan kita sedang proses untuk ISO 22000 untuk keamanan pangan,” tegas Suaedi.
Suaedi melanjutkan, ini menjadi langkah awal yang harapannya bisa membuka jalan untuk melakukan ekspor lebih besar kedepannya. Cita-cita kami berikutnya, menurutnya, adalah bagaimana Nutricell juga mampu berperan dalam menyediakan produk nutrisi hewan dunia. “Saya lihat ada core kompetensi dari bangsa Indonesia yang pertama adalah kemampuan kita dalam memproduksi harusnya cukup. Kita memiliki tenaga-tenaga ahli yang terampil, kedua, kita memiliki sumber daya seperti suplementasi fatty acid (yang bida didapatkan dari kelapa sawit) sangat berpotensi dan sumber lemak yang paling ekonomis untuk ruminansia dan esensial oil yang bisa jadi unggulan kita kedepannya,” pungkas Suaedi.
Tujuan nutricell adalah untuk bisa memberikan akses nutrisi, kesehatan, kepada pelaku usaha di industri peternakan di Indonesia. Sementara itu, Suaedi juga berharap kegiatan ekspor perdana ini menjadi batu lompatan atau titik awal. “Ini adalah langkah awal kita untuk bisa masuk ke pasar yang lebih besar,” harap Suaedi.
Rahmat Pambudi, Chairman Nutricell, dalam sambutannya menyatakan kebanggaan bahwa Nutricell bisa turut berkontribusi terhadap negara. “Perusahaan ini sudah punya nama, tagline, dan produk berskala internasional. Banyak dari mereka adalah generasi milenial yang bisa menghasilkan produk berkualitas karena ada kompetensi untuk menghasilkan, berdasarkan sumber daya yang mereka miliki. Dan sekarang Nutricell mampu mengekspor produk mereka ke luar negeri dan berkompetisi dengan produk lain,” tuturnya.
Tingkatkan ekspor
Sementara dari sisi pemerintah selama ini mendukung perusahaan lokal yang ingin melakukan ekspor. menurut Fini Murfiani selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan mewakili Dirjen Peternakan dan Keswan, jumlah ekspor produk Indonesia angkanya semakin bertambah sejak 2018. Bahkan di awal 2019 ini sudah mencapai triliunan rupiah. Sebagai gambaran, ia mengatakan, pada kurun waktu 2015-2018, nilai ekspor obat hewan sudah tercatat di atas 20 triliun (produk susu, produk olahan). Sedangkan untuk tahun 2018, sudah tercatat 6,65 triliun. Sementara nilai ekspor obat hewan selama tahun 2018 untuk produk hewan jenis biologic sebesar 1,2 miliar dosis, jenis pharmaceutic sebanyak 170 ribu 400 ton, dan jenis premix sebanyak 9 koma sekian juta ton.
“Dengan masuknya Nutricell juga lebih menguat lagi. Nilai ekspor obat hewan harus meningkat setiap tahun tidak terlepas dari penjaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan tersebut, serta komitmen dan peran serta dari seluruh perusahaan obat hewan, hari ini kita saksikan Nutricell sudah bisa berdaya saing,” jelas Fini.
Menurutnya, pemerintah berusaha memfasilitasi para pelaku usaha untuk mendorong produknya lebih terstandar secara internasional, misalnya pembebasan-pembebasan wilayah dari berbagai penyakit, memfasilitasi penguatan kelompok-kelompok dan kemitraan antara pelaku usaha besar dan pelaku usaha kecil untuk sama-sama saling menguntungkan, dan lainnya. Dan satu lagi upaya yang dilakukan untuk mendorong ekspor, pemerintah sudah menerapkan standar-standar, contohnya penerapan CPOHB sebagai salah satu bentuk sistim pengawasan kualitas sejak produksi sehingga dengan menerapkan ini akan diperoleh jaminan mutu obat hewan sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya saing obat hewan produksi dalam negeri.
Saat ini tercatat 95 produsen obat hewan di dalam negeri, beberapa diantaranya sudah tersertifikasi cara pembuatan obat hewan yang baik (CPOHB). Dari jumlah perusahaan obat hewan yang telah tersertifikasi cpohb tersebut, sejumlah 33 perusahaan merupakan eksportir obat hewan, 75 sudah tersertifikat CPOHB. dan nutricell sekarang berperan.
“Yang harus kita lakukan kedepannya adalah meningkatkan nilai tambah dan daya saing. Semoga ekspor perdana ini dapat menjadi pemacu bagi perusahaan-perusahaan lainnya dan bagi Nutricell sendiri untuk lebih meningkatkan volume dan nilai jualnya,” ujar Fini.
Sementara itu, Ria dari Direktorat Pengawasan Obat Hewan menyatakan pemerintah aktif mendorong peningkatan/langkah ekspor dengan turut mengaudit kualitas produk maupun perusahaan secara keseluruhan yang akan melakukan ekspor. Misalnya, uji kelayakan dilakukan terhadap suatu produk atau perusahaan dan jika sudah lolos pengujian akan mendapatkan sertifikat CPOHB yang berarti tersebut telah memenuhi standar kualitas sehingga dapat melakukan ekspor. “Kami dari Dirkeswan selalu melakukan pembinaan-pembinaan, pertemuan dengan para produsen menanyakan apa yang perlu kita bantu dan apa yang akan mereka kerjakan, terkait hal itu kami juga membantu dalam meningkatkan kualitas salah satunya dengan CPOHB. Dirkeswan bekerja sama dengan pelaku usaha, kami bersinergi untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekspor ini meningkatkan devisa negara,” terang Ria.
Nutricell sendiri pada tahun 2015 atau awal tahun 2016 telah memperoleh sertifikat CPOHB untuk produk premix dan kemudian dilanjutkan dengan aktivitas produksi. Selanjutnya adalah mengembangkan bisnis sehingga pada akhir tahun 2018 Nutricell memperoleh sertifikat CPOHB untuk unit bisnis pharmaceutic (obat-obatan) dan masih dalam proses pengembangan sebelum ke tahap produksi. Pabrik premix dan pharmaceutic milik Nutricell berada di lokasi yang berbeda.
Suaedi menyatakan bahwa untuk memenuhi standar kualitas produknya di suatu negara, ia percaya bahwa dalam menetapkan audit, pemerintah Indonesia sudah memikirkan tentang kualitas secara internasional. Sejak perjalanannya di industri obat hewan, Nutricell terus mengembangkan produk inovatif sesuai dengan tujuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan industri peternakan. Nutricell memposisikan diri sebagai perusahaan yang terus berkembang secara nasional, regional, dan internasional. Selain ekspor sebagai langkah pelebaran sayap Nutricell, perusahaan lokal ini juga terus meningkatkan diri untuk memberikan produk berkualitas dan pelayanan yang terbaik, dengan cara, beberapa diantaranya memperkuat fasilitas seperti laboratorium.