Penanganan produk saat trasnsportasi berkorelasi tinggi terhadap kualitas produk unggas
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perkembangan zaman yang semakin canggih dengan balutan teknologi akan membawa masyarakat Indonesia lebih sadar tentang unsur higienis dan nilai suatu produk. Terlebih saat ini selain pasar tradisional dan modern, terdapat pula pangsa pasar baru yaitu pasar online. Jangkauan pasar yang semakin luas dengan tuntutan terhadap produk segar yang berkualitas tentu saja akan menumbuhkan inovasi dari produsen untuk menjual produknya, salah satunya dengan pengemasan. Sebagai contoh, di  Tiongkok daging unggas dan telur sudah masif dijual melalui jaringan toko online Alibaba, di mana pada pemasaran tersebut produsen menggunakan pengemasan anticrack dan pengatur suhu. Sehingga bukan tidak mungkin dalam waktu dekat beberapa e-commerce di Indonesia juga akan mengadopsi hal serupa.

Hal penting yang diperlukan dalam display produk baik pada direct selling maupun online marketing adalah labelling produk makanan dan minuman.

Menurut Dr. Ir. Endy Triyannanto S.Pt, M.Eng, IPM selaku dosen Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam hal e-commerce produk hasil peternakan, hal yang harus diperhatikan produsen adalah pengemasan dan transportasi. Kedua faktor tersebut cukup dominan dalam memengaruhi kualitas dan kelas produk, mengingat nutrisi dari produk ternak yang sangat tinggi dan produk yang mudah rusak.
Endy mencontohkan banyak retail industri di luar negeri yang dalam proses pengirimannya menggunakan kemasan khusus seperti retort packaging, tray packaging, shrink film, maupun pengemasan dengan penambahan ice pack dan dry ice. Selain itu, pengemasan daging yang berkualitas juga dapat dilakukan menggunakan modified atmosphere packaging (MAP) di mana pengemasan tersebut menggunakan modifikasi atmosfer atau gas di dalam kemasan yang kedap udara, sehingga ketika produk dapat dijaga dari segi kualitas warna dan kesegaran.
Baca Juga : Hoax Seputar Perunggasan
Pengaturan gas oksigen pada kemasan akan berpengaruh terhadap warna daging terutama pada waktu terjadi proses oxymioglobin. Adapun komponen labelling yang dimaksud setidaknya mengandung nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih, info produsen, keterangan halal, tanggal kadaluarsa, serta informasi gizi produk. Dengan demikian, labelling dan pengemasan menjadi sesuatu yang krusial dan dibutuhkan masyarakat saat ini dan masa mendatang. Selain sebagai identitas produk, labelling juga dapat menjadi silent promotion untuk meningkatkan kepercayaan antara produsen dan konsumen.
Selain itu, labelling dan pengemasan dapat berfungsi sebagai added value, di mana saat ini banyak ditemukan produk hasil peternakan yang biaya labelling dan pengemasannya jauh lebih mahal dari biaya produksinya. “Kalau zaman dulu, labelling dan pengemasan hanya berfungsi sebagai pembungkus saja, namun di era modern saat ini fungsinya bergeser kepada utilitas, kenyamanan, keamanan, eco-friendly, dan desain,” ujar Endy (19/10).