Meminimalisir kejadian penyakit dengan manajemen biosekuriti yang ketat
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Tahun 2003 menjadi tahun di mana gonjang-ganjing isu merebaknya penyakit Avian Influenza dimulai. Setelah penyakit ini marak di luar negeri, Indonesia menjadi negara yang ikut menjadi korban. Kala itu, AI mulai terdeteksi karena terdapat ayam yang mati secara tiba-tiba di beberapa daerah. Peternak mengklaim mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat ternaknya mati dan produksi terhenti.
Setelah AI dikabarkan masuk pada tahun itu, beberapa bulan kemudian pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia positif terdampak AI jenis H5N1. Hal tersebut diungkapkan oleh Tata Naipospos kepada Poultry Indonesia. “Setelah tahun 2003 AI pertama kali diduga muncul di Indonesia, butuh waktu sekitar 6 bulan untuk pemerintah mendeklarasi bahwa Indonesia positif (terkena wabah AI). Itu sekitar Bulan Januari 2004,” ungkapnya.
Baca juga : Avian influenza masih mengancam
Menurut data National Veterinary Research Center, Bogor pada tahun 2005, spesies unggas yang terinfeksi HPAI H5N1 di Indonesia yaitu ayam petelur (layer), ayam pedaging (broiler), ayam kampung, bebek, entok, angsa, burung unta, puyuh, burung dara, dan babi. Setelah tahun 2006, pemerintah pada waktu itu merasa perlu adanya badan nasional atau suatu lembaga yang secara khusus mengoordinasi kegiatan-kegiatan di seluruh Indonesia untuk pemberantasan penyakit AI H5N1. Dr. Bayu Krisnamurthi, M.Si, yang waktu itu menjabat sebagai Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan yang kemudian dipindah ke bagian Kesejahteraan Rakyat, ditunjuk sebagai Ketua Eksekutif Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza.
Pada tanggal 13 Maret 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan sebuah dekrit yang secara resmi meluncurkan Komnas FBPI. Sebuah komite tingkat menteri, yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, dan menunjuk Bayu sebagai Ketua Eksekutif Komnas FBPI yang bertugas mengelola operasinya sehari-hari. Saat itu, Tata Naipospos menjadi wakilnya. “Waktu itu kami membuat strategi-strategi untuk memperkuat biosekuriti, kita memperkuat surveillance. Kenyataannya waktu itu kita juga belum bisa dikatakan berhasil,” ujar Tata.
Identifikasi virus Avian Influenza
Setelah penyakit Avian Influenza positif ada di Indonesia, beberapa peneliti virologi dan tim Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan melakukan identifikasi dan ditemukan AI subtipe H5N1 Genotipe Z clade 2.1. Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet), Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si. mengatakan, Isolat virus H5N1 pertama di Indonesia ditemukan pada ayam petelur di Blitar, yaitu A/chicken/Indonesia/BL/2003 dan A/chicken/Indonesia/2A/2003. Kemudian, dilakukan vaksinasi pertama menggunakan vaksin lokal untuk H5N1 tahun 2004 dari Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH).
Baca Juga : Peran Penting Air Minum bagi Peternakan Unggas
Perkembangan penyakit AI ini juga dibenarkan oleh Factory Manager PT Sanbio Laboratories, drh. Arini Nurhandayani, MM. “Virus AI yang sudah berkembang sangat bervariasi. Perbedaan antara AI tahun 2003 sampai tahun 2012 homolog nya 92-94%, itu berarti perbedaannya sekitar 6-8%. Sementara virus AI perbedaannya 1,5% saja sudah dianggap virus baru. Sedangkan tahun 2012 sampai tahun 2017 ini perbedaan berkisar antara 2-3%,” jelasnya, Rabu (14/3).
Peneliti virologi yang sekaligus President Director PT IPB Shigeta Animal Pharmaceuticals, Kamaluddin Zarkasie, DVM, Ph.D, memaparkan, AI jenis HPAI dengan subtipe H5N1 ini heboh dibicarakan karena bisa menyerang pada manusia. “Ada sedikit catatan. Memang manusia yang bisa kena penyakit ini adalah manusia yang memiliki sensitifitas terhadap penyakit ini. Data ilmiah menunjukkan seperti itu. Sedangkan untuk unggas dampaknya luar biasa, waktu itu mulai muncul pemikiran saya bagaimana membuat virus H5N1 yang patogenik supaya tidak patogenik, karena bahaya zoonosis,” ujar Kamaluddin. Domi, Chusnul