Perunggasan di Bali saat ini bisa dibilang tumbuh dan berkembang dengan pesat
POULTRYINDONESIA, Denpasar – Provinsi Bali merupakan sebuah provinsi yang merupakan bagian dari Kepulauan Sunda Kecil dengan ibu kota yaitu Denpasar. Provinsi Bali tidak begitu besar seperti pulau-pulau utama yang lainnya di Indonesia. Sebut saja misalnya Pulau Jawa, Sumatera, apalagi Kalimantan, Pulau Bali jauh lebih kecil dari pulau-pulau tersebut. Namun siapa sangka, dengan luas sebesar 5.633 Km2, Bali menjelma menjadi salah satu sumber penghasil devisa dari sektor pariwisata.

Menyandang julukan Pulau Dewata atau tempat bersemayamnya para dewa bagi umat Hindu, Bali sukses menjelma menjadi salah satu primadona bagi sektor pariwisata. Sumbangsih dari sektor pariwisata tersebut membuat pertumbuhan perunggasan di Bali berkembang dengan sangat pesat.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan asing yang datang mengunjungi Bali pada tahun 2018 mencapai 6.070.473 jiwa. Sedangkan angka total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2018 sebesar 14.265.642 jiwa. Maka dari itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali hampir separuhnya dari jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia atau sebesar 42 persen dari keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara pada tahun 2018.
Baca Juga : Menengok Budi Daya Broiler di Wilayah Pantura (bag-1)
Tak heran jika Provinsi Bali merupakan ‘anak emas’ negara Indonesia untuk sektor pariwisata. Keindahan alam dan kekayaan akan budayanya membuat Pulau Bali menjadi tujuan wisata favorit bagi para pelancong asing. Nilai tukar rupiah yang lebih rendah dari mata uang Amerika dan Eropa juga menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia selalu menjadi incaran para wisatawan mancanegara. Selain itu, Bali memiliki iklim tropis seperti kebanyakan wilayah di Indonesia, di mana matahari akan selalu menyinari sepanjang tahun, sehingga menjadi favorit bagi para wisman dari daerah iklim subtropis.
Sektor pariwisata di Bali yang terus tumbuh membuat sektor perunggasan juga ikut berkembang secara pesat. Daging maupun telur ayam merupakan salah satu bahan makanan yang mudah untuk diolah, serta memiliki ketersediaan yang mudah dijangkau dalam jumlah yang sangat banyak. Produk hasil unggas juga dapat dijadikan beragam variasi olahan makanan, dan sangat populer di setiap lapisan masyarakat. Masyarakat kelas bawah hingga restoran bintang lima sekalipun pasti menyediakan menu masakan yang berbahan dasar ayam. Seiring berjalannya waktu, kegiatan peternakan unggas terus bermunculan dan mampu menjadi mata pencaharian utama. Saat ini bisnis perunggasan sudah dijalankan secara profesional. Perusahaan sarana produksi ternak (sapronak) pun hadir dengan berbagai produk dan inovasinya. Perusahaan perunggasan tersebut juga mengenalkan tata cara budi daya unggas yang tersistematis dan modern demi hasil optimal.

Baca Juga : Atensi Warga AS Terhadap Budi Daya Ayam Lokal

Peternakan broiler maupun layer di Bali sudah ada sejak sekitar tahun 1975. Bisnis ini terus berkembang dan mulai mendapat peminat dari warga lokal. Namun, pada tahun 1998 seleksi alam mulai terjadi. Saat itu krisis moneter melanda seluruh wilayah Indonesia termasuk Bali, sehingga banyak peternak yang memutuskan untuk menutup kandang. Bagi peternak yang memiliki modal kuat, usaha peternakan mereka akan terus berlangsung. Namun, bagi peternak yang hanya memiliki modal sedikit, menutup kandang adalah cara yang bisa ditempuh demi menghindari utang yang menumpuk. Lantas, bagaimana perkembangan dunia perunggasan di Provinsi Bali ini?. Domi.
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2019 dengan judul “Perkembangan Perunggasan Provinsi Bali”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153