I Made Adinda, pemilik Adinda Farm yang berlokasi di Gianyar, Bali.
I Made Adinda adalah salah satu peternak broiler dari Gianyar, Bali yang menjalankan usaha peternakan sejak lama dan masih eksis hingga saat ini. Ia membangun usahanya yang diberi nama Adinda Farm sejak 1980. Seminar yang diselenggarakan Dinas Peternakan Kabupaten Gianyar pada waktu itu menarik perhatiannya untuk mulai beternak.
Pria yang kerap disapa Adinda ini telah menerapkan sistem kandang closed house pada peternakannya. Ketika mendapatkan kesempatan berkunjung ke Thailand dan Australia di tahun 1990, ia melihat sistem kandang closed house di negera tersebut yang membuatnya tertarik untuk membangun closed house juga. Sampai akhirnya pada tahun 2000, Adinda mengunjungi pameran peternakan di Jakarta yang memamerkan berbagai peralatan closed house. “Dari hasil kunjungan ke pameran itu, saya memutuskan untuk coba membuat satu kandang closed house terlebih dahulu yang dibangun tahun 2003,” ujarnya.
Menurut pengalamannya, dengan sistem tersebut hasil produksi menjadi lebih baik karena performa ayam lebih bagus dan memudahkan pekerjaannya dan para pegawainya di kandang. Adinda dibantu sejumlah karyawan dan mulai melibatkan anaknya dalam pengelolaan manajemen peternakan. Pengembangan usaha pun dilakukan dengan cara memperluas area distribusi hasil produksi broilernya ke berbagai wilayah di Bali, diantanya Gianyar, Denpasar, Badung. “Kita juga sedang renovasi salah satu kandang yang masih menggunakan tirai untuk dibuat full closed house,” ujar Adinda yang saat ini peternakannya tersebar di 5 lokasi berbeda di Kabupaten Gianyar.
Menekan risiko penyakit
Ayam umur 4 hari di salah satu kandang closed house Adinda Farm.
Dengan menggunakan closed house, diakui oleh Adinda, penyakit yang menyerang ayam lebih berkurang salah satunya karena udara dari luar yang bisa membawa virus atau bakteri masuk ke kandang dapat dikontrol. Namun di sisi lain, sejak AGP dilarang oleh pemerintah Indonesia, perkembangan ayam menjadi kurang bagus dan muncul berbagai masalah, terutama masalah koksidiosis.
“Peternakan saya sempat terkena koksi,” ucap Adinda. Ia pun mengkonsultasikan hal ini kepada tim Medion di lapangan dan direkomendasikan untuk menggunakan Fithera yang merupakan salah satu dari rangkaian produk herbal Medion (MediHerba). Fithera bekerja untuk mengatasi koksidiosis dan melawan penyakit lainnya seperti coryza, CRD, dan colibacillosis. “Tidak hanya koksi, tetapi kandungannya untuk mengatasi CRD dan coli ini juga sangat membantu,” imbuhnya.
Sesuai dengan petunjuk penggunaan, dosis pemberian Fithera untuk mengatasi koksidiosis 0.2 ml per kilogram bobot badan ayam atau 1 ml per liter dalam air minum. Sementara itu, dosis untuk mengatasi coryza, CRD, dan colibacillosis adalah 0.4 ml per kilogram bobot badan ayam atau 2 ml per liter dalam air minum.
“Manfaatnya untuk ayam bisa memperbaiki metabolisme, jadi koksi itu bisa ditekan,” tutur Adinda. Ia mengharapkan agar kualitas Fithera dapat terus ditingkatkan, sehingga peternak tetap bisa merasa aman dari berbagai penyakit yang menyerang ayam khususnya di era non-AGP.
Sementara itu, Adinda juga mengapresiasi pelayanan yang diberikan Medion secara keseluruhan. “Di Bali banyak dan sering diadakan upacara keagamaan atau adat, jadi saya sangat terbantu dengan tim Medion yang tanggap dan cepat merespons kebutuhan kami yang terkadang waktunya cukup padat,” ungkap Adinda.