Iwan merupakan generasi kedua yang menjalankan bisnis keluarga, CV Missouri.
Iwan merupakan generasi kedua yang menjalankan usaha breeding layer dan broiler yang dirintis orang tuanya, yakni CV Missouri. Bisnis ini bermula pada tahun 1940, ketika orang tuanya membeli induk ayam galur murni (pure line) dari salah satu pengusaha Belanda yang saat itu memiliki peternakan dan perkebunan teh di Pangalengan, Bandung.
Bisnis keluarga tersebut terus berkembang hingga saat ini memiliki hatchery yang berlokasi di Ujung Berung, kantor CV Missouri di Jalan Malabar – Bandung, serta farm yang berlokasi di Sumedang dan tersebar di 3 tempat berbeda. Selain di Bandung, distribusinya telah merambah ke Jawa Timur, Palembang, Jawa Tengah, dan berbagai wilayah di Jawa Barat. “Kita juga menjual Parent Stock ke Medan dan Makassar,” imbuhnya.
Ilmu beternak dan mengelola usaha perunggasan didapatkan Iwan dari orang tuanya. “Sejak usia 20 tahun saya sudah ikut terjun ke farm,” ujar Iwan. Melihat kebutuhan terhadap protein hewani yang masih kecil di Indonesia mendorongnya untuk menekuni bisnis perunggasan. Selain itu, Iwan melihat bahwa prospek bisnis di industri perunggasan ke depan masih cukup besar. “Populasi di Indonesia yang semakin banyak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang terus maju, maka kebutuhan terhadap produk hewani semakin luas. Kedepannya saya masih optimis,” tuturnya. Seraya mengembangkan usahanya, Iwan juga menjaga kualitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggannya.
Manajemen pengendalian penyakit
Untuk menjaga kualitas produksi perunggasannya, Iwan sangat memperhatikan manajemen kandang. Perhatian lebih ini diberikan untuk menjauhkan penyakit yang bisa saja datang tidak terduga. Misalnya, outbreak Avian Influenza (AI) yang melanda industri peternakan Indonesia pada tahun 2004-2009 menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Iwan. Berbagai upaya pencegahan pun dilakukan untuk menghindari virus AI masuk ke peternakannya.
“Begitu mendengar banyaknya berita dan kasus outbreak AI saya mempersiapkan diri agar farm saya tidak terserang virus tersebut,” ujar Iwan. Pada saat itu, upaya yang dilakukan untuk menangkal hal tersebut adalah memperketat biosekuriti. “Kita juga memberikan vaksinasi terbaik agar proteksinya maksimal,” ujar Iwan. Kondisi farm CV Missouri yang jauh dari peternakan lainnya juga menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi peternakannya “aman” dari kasus outbreak AI.
Pada awalnya, Iwan menggunakan vaksin impor yang ia masukkan dalam program vaksinasinya. Ketika Medivac AI Subtipe H5N1 mulai diproduksi oleh PT. Medion, Iwan pun beralih ke produk ini. “Pertimbangan kita memilih Medivac AI adalah karena produk ini mengambil virus lokal. Jadi, saya merasa lebih sesuai dengan keadaan disini,” ujar Iwan yang mengaku telah mengenal dan menggunakan produk Medion sejak tahun 1960-an.
Medivac vaksin bermutu.
“Manfaat yang paling saya rasakan adalah setelah vaksinasi dengan Medivac AI, farm saya menjadi lebih aman terhindar dari outbreak AI,” tutur Iwan. Sejak itu, vaksinasi menjadi rutinitas untuk mencegah virus AI hingga sekarang. Manajemen pengendalian penyakit juga dilakukan dengan cara rutin melakukan monitoring titer antibodi setelah vaksinasi. Monitoring tersebut penting guna mengetahui efektivitas vaksin di lapangan.
Medivac AI subtipe H5N1 memberikan perlindungan yang optimal dan aman bagi ternak, diselaraskan dengan waktu mulai penggunaan vaksin tersebut dalam program vaksinasinya. Saran yang PT. Medion berikan adalah program vaksinasi AI dilakukan dengan tidak meninggalkan vaksinasi HPAI (H5N1) meskipun saat ini telah marak kasus LPAI (H9N2).
“Saya rasa PT. Medion terus mengikuti perkembangan di lapangan dan terus memperbarui produknya. Untuk menghadapi virus yang terus bermutasi dan semakin lama semakin kuat, kita harus perketat biosekuriti dan vaksin harus terus dipantau,” ungkap Iwan.