Antusiasme peserta seminar kali ini sangat besar karena pihak pemerintah Indonesia yang hadir langsung untuk berbagi informasi terbaru mengenai penerapan non-AGP. Tidak hanya itu, seminar ini semakin lengkap dengan hadirnya narasumber yang juga berbagi pengalaman pengalaman terkait penerapan AGP-free di Eropa serta strategi mereka untuk menghadapi era tersebut.
Seminar yang diselenggarakan oleh DSM Indonesia ini berlangsung pada 18 Oktober 2018 di Hotel Mercure Alam Sutera – Tangerang dengan mengusung tema “Optimizing Gastrointestinal Functionality: A Collaboration of the Public and Private Sectors”. Jason Park, Direktur DSM Indonesia mengatakan bahwa era non-AGP merupakan tantangan, namun di sisi lain juga menawarkan peluang. “Dengan situasi peternakan non-AGP, kita dapat menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat dan lebih aman untuk konsumen,” ungkap Jason. Ia melanjutkan, hal ini dapat tercipta jika pemerintah dan sektor swasta dapat berjalan bersama-sama.
Global & national action plan
Pada sesi awal, Philippe Becquet – Senior Global Regulatory Affairs Manager, DSM Nutritional Products Switzerland memulai dengan gambaran kondisi industri peternakan di Switzerland (Swiss) yang telah lama menerapkan AGP-free. Tahun 2006, European Comission melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan atau growth promotor.
Philippe mengatakan, membutuhkan waktu 10 tahun bagi industri peternakan di Eropa untuk beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Eropa pada saat itu mulai mengembangkan pendekatan baru, seperti lebih fokus pada daya cerna pakan untuk membatasi perkembangan patogen, fungsi usus, hingga melakukan berbagai pengembangan saintifik baru dan menciptakan inovasi. Pemerintah harus mendorong perkembangan sains tersebut.
“Pengembangan tipe aditif baru di EU (Eropean Union) memungkinkan implementasi non-AGP lebih cepat di negara-negara lain,” ungkapnya saat berbicara mengenai inovasi aditif untuk meningkatkan kesehatan dan performa hewan di era non-AGP. Menurutnya, sangat penting juga untuk memiliki pandangan holistik dalam mengurangi Antimicrobial Resistance (AMR) dimana nutrisi memiliki peran kunci.
Penyerahan cinderamata persembahan DSM kepada narasumber.
Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD mengungkapkan bahwa Indonesia mendukung upaya pengendalian AMR melalui Global Action Plan atau rencana aksi secara global yang menggunakan pendekatan holistik antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan juga lingkungan yang dikenal dengan istilah One Health. Fadjar menambahkan bahwa Indonesia pun telah memiliki National Action Plan dengan tujuan strategis, diantaranya menggunakan obat – antimikroba secara bijak dalam kesehatan hewan dan manusia serta meningkatkan investasi melalui penemuan obat, alat diagnostik dan vaksin baru untuk menurunkan penggunaan antimikroba dengan meilbatkan kemitraan “public private partnership”.
Selain terus melakukan sosialisasi, pemerintah juga melakukan pengawasan pelarangan penggunaan AGP. Berdasarkan Permentan No. 14 Tahun 2017 disebutkan bahwa obat keras digunakan untuk pengamanan penyakit hewan dan/atau pengobatan hewan sakit hanya dapat diperoleh dengan resep dokter hewan dan di bawah pengawasan dokter hewan. Peraturan mengenai pembuatan pakan terapi (medicated feed) juga turut disinggung dimana penggunaannya harus berdasarkan resep dokter hewan.
Dengan demikian, Fadjar mengatakan, beberapa strategi budidaya unggas pasca pelarangan AGP yang dapat dilakukan, antara lain penggunaan feed additive lain yang dapat meningkatkan feed conversion ratio (FCR) dan kesehatan unggas, penerapan biosekuriti 3 zona, hingga peningkatan kualitas pakan. “Penggunaan produk sebagai solusi alternatif AGP yang telah digunakan secara global. Di Indonesia juga pun sudah banyak tersedia di market,” pungkas Fadjar.
Mencari solusi alternatif
Dr. Farshad Goodarzi Boroojeni dari Freie Universität Berlin – Department of Veterinary Medicine – Institute of Animal Nutrition menyampaikan presentasinya yang bertajuk “Nutritional Strategies to Tackle Application of Antibiotic Growth Promoters in Poultry Nutrition” atau strategi nutrisi untuk menghadapi penggunaan AGP pada nutrisi unggas.
Salah satu tantangan nutrisi adalah ayam dapat bertumbuh dan mencapai performa yang baik. Farshad menerangkan, meningkatkan pertumbuhan perlu memperhatikan berbagai faktor mulai dari intestinal permeability hingga sistem imun usus. “Kesehatan dan efisiensi pakan yang baik mengarah ke performa yang lebih baik,” ujar Farshad. Solusi alternatif seperti probiotik, prebiotik, asam organik, dan produk phytogenic yang ditambahkan dalam pakan memiliki mekanisme kerja yang dapat meningkatkan fungsi kesehatan hewan. Solusi alternatif lainnya, yaitu eubiotik memiliki kesamaan dengan keempat produk tersebut dalam hal mekanisme kerja.
Tony Unandar selaku konsultan di industri perunggasan pun menyampaikan presentasinya yang banyak membahas lebih teknis mengenai kesehatan saluran pencernaan hewan terutama berdasarkan pengalamannya di lapangan. Tema yang diangkat adalah “A glimpse of gut microbiome and its pathophysiological impacts on modern birds”. Poin-poin yang dibahas, antara lain faktor epigenetic dan epigenome pada unggas modern, peran GI microbiome, dan langkah-langkah menangani disbakteriosis.
Sementara itu, Antoine Meuter, Global Category Manager Eubiotic, DSM Nutritional Products Switzerland berbagi informasi seputar “Optimizing Gastrointestinal Functionality Sustainably in Poultry Production”. “Pendekatan holistik harus mempertimbangkan aspek nutrisi, kesehatan, dan manajemen. Ini sangat penting untuk mengoptimalkan fungsi saluran cerna,” terang Antoine. Fungsi saluran cerna juga menjadi faktor paling penting yang memengaruhi profitabilitas peternak.
Agar fungsi saluran cerna bekerja secara sustainable maka harus dioptimalkan melalui nutrisi. Beberapa contohnya adalah pemenuhan nutrisi melalui enzim dalam pakan yang memainkan peran untuk menurunkan viskositas dan meningkatkan pencernaan yang lebih baik, vitamin yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh ayam, pemberian nutrisi di fase awal pertumbuhan, dan eubiotik untuk membantu menyeimbangkan flora usus.
Tim DSM dan para narasumber berfoto bersama.
CRINA Poultry Plus (CPP), eubiotik andalan dari DSM ini dapat menjadi solusi untuk tantangan kesehatan usus dan efisiensi pakan yang maksimal pada broiler. CPP mengandung formulasi unik dan inovatif, yaitu asam benzoat (asam organik) dan essential oil (thymol, eugenol, dan piperine). Asam benzoat meningkatkan kondisi di dalam usus dan melawan bakteri gram negatif, termasuk E.coli, salmonella, dan campylobacter. Sementara itu, thymol dan eugenol mendukung kinerja produk ini secara keseluruhan. Sedangkan piperine meningkatkan level digestive enzymes, termasuk amilase. Hail uji in vivo menunjukkan CRINA mampu meningkatkan mikroflora dalam usus, meningkatkan efisiensi pakan, dan rate pertumbuhan.
Produk lainnya yang dikembangkan DSM adalah Cylactin untuk meningkatkan mikroflora pada ayam. Bakteri aktif yang terdapat pada produk ini secara cepat dan aktif memproduksi lactic acid dan bacteriocins, sehingga mencegah pH rendah (proventriculus). “Eubiotik secara positif memodulasi mikroflora usus dan meningkatkan performa secara signifikan, seperti efek yang terlihat dalam enzim pakan, hingga mengembalikan performa tanpa ionofor atau penggunaan antibiotik untuk kebutuhan preventif,” tandas Antoine.