Suasana di Slamet Quail Farm (SQF) petang itu terasa teduh dan sejuk. Angin berembus menyusup pohon-pohon di perkebunan karet yang mengelilingi kandang puyuh milik Slamet Wuryadi. Di tempat itulah orang-orang dari berbagai daerah biasa berkunjung untuk mengetahui seluk-beluk tentang puyuh. Mereka menganggap, SQF merupakan tempat terbaik untuk mengenal unggas mungil bergenus Coturnix tersebut.

Tumbuh besar seorang diri bukanlah perkara mudah. Semakin banyak dukungan maka semakin mudah seseorang untuk terus berkembang. Sebab pada hakikatnya, manusia tercipta untuk saling berbagi dan melengkapi.

Peternakan yang berlokasi di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat itu tak kehabisan pengunjung yang antusias belajar tentang puyuh. Sering kali, mereka ingin memahami kiat berbudi daya puyuh serta manajemen bisnisnya dari hulu sampai hilir. Oleh karena itu SQF telah menjadi educational farm yang masyhur dalam hal agrobisnis peternakan puyuh. Di sanalah tempat yang ideal untuk mendapat pelatihan penetasan dan pembibitan puyuh; pelatihan produksi daging dan telur puyuh; pelatihan penyusunan formulasi pakan; pelatihan pascapanen; pelatihan pemasaran produk; bahkan menjadi tempat pilihan bagi para akademisi untuk melakukan berbagai jenis penelitian terkait puyuh.
Slamet Wuryadi menjelaskan bahwa SQF merupakan sarana transfer ilmu bagi siapa saja yang tertarik dalam bisnis puyuh. Ia dengan senang hati berbagi pengalaman dalam bisnis yang sudah ia jalani selama lebih dari 17 tahun. “Kami tidak profit oriented. Bahkan Anda tidak diizinkan bermitra dengan kami jika Anda tidak belajar terlebih dahulu dengan tim kami,” ujarnya, Kamis (7/3). Menurutnya hal itu bertujuan agar para mitra dapat benar-benar memahami ilmu berbisnis puyuh, bukan sebatas membeli bibit kemudian membesarkan dan menjual produknya secara sembarangan.
Slamet juga mengatakan, tidak banyak saat ini peternak puyuh yang mau berbagi ilmu secara terang-terangan. Faktor kompetisi pasar masih menjadi penyebab utamanya. “Mungkin orang lain akan menuntut jika rahasia budi dayanya tersebar luas,” ujar Slamet. Namun tidak demikian dengan pria kelahiran Jepara tahun 1971 tersebut. “Kalau Anda tidak menyebarluaskan pengetahuan tentang puyuh ini, maka Anda yang akan saya tuntut,” ujarnya sambil terkekeh kepada Poultry Indonesia. Hal itu, menurutnya, adalah bukti bahwa SQF siap berbagi dan berkembang bersama masyarakat.
 Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2019 dengan judul “Saling Membesarkan dengan Berbagi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153