Instalasi Penyaringan air minum yang bisa diterapkan di kandang
Oleh Ir. Sjamsirul Alam
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam sektor budi daya peternakan, baik itu untuk jenis ternak sapi perah, sapi potong, domba, kambing, babi maupun unggas, merupakan salah satu subsektor pertanian di Indonesia yang menduduki posisi strategis sebagai penyedia protein hewani masyarakat selain perikanan. Posisi yang cukup strategis ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan berbagai stakeholder peternakan agar berbagai hambatan proses produksi peternakan bisa teratasi. Salah satu masalah yang biasa terjadi adalah terkait penyediaan air pada musim kemarau yang panjang. Penulis pun beranggapan bahwa solusi yang bisa diotimalkan adalah dengan memanfaatkan teknologi inovasi sederhana pemanenan air.
Baca Juga : Benarkah Telur Mentah Lebih Berkhasiat
Besarnya jumlah curah hujan tahunan di Indonesia bagian barat (≥ 1500 mm) ternyata tidak semua mampu diserap oleh permukaan tanah sehingga terjadi aliran permukaaan (run-off) yang memboyong sedimen berasal dari partikel tanah top soil. Hal itu berakibat banjir serta masalah lain yang timbul karenanya. Untuk mengatasi situasi tersebut, alternatif yang tepat adalah dengan teknologi pemanenan air hujan (rain water harvesting), yaitu upaya mengumpulkan air untuk disimpan dalam suatu penampungan (storage) dan digunakan saat diperlukan. Air yang dipanen dapat bersumber dari air hujan maupun air limpasan permukaan yang mengalir di atas permukaan tanah pada saat hujan. Sistem penyimpanan dalam pemanenan air dapat dilakukan secara terbuka dalam bentuk kolam, atau secara tertutup dalam bentuk tangki air dan penampungan air dalam tanah (groundwater storage).
Pemanenan air limpasan dari bangunan farm
Pada suatu area peternakan terdapat beberapa bangunan, antara lain perkantoran, penetasan (hatchery), lalu gudang dan kandang ternak. Untuk memprediksi berapa  potensi volume air yang dapat dipanen dari limpasan atap bangunan, maka perlu dihitung berdasarkan rumus atau persamaan berikut (Nurpilihan 2018, dikutip dari Lancaster 2009).
V = A x C x P x Ka
1000
V = potensi air hujan yang dipanen (m3)
A = luas bidang atap sebagai tangkapan air hujan (m2)
C = koefisien limpasan permukaan
P = kedalaman hujan (mm)
Ka = koefisien atap
Dengan diketahuinya V (potensi air hujan yang dipanen) maka manajer farm dapat merencanakan bentuk dan volume bak penampungan yang akan dibuat (kolam dan tangki). Kedalaman hujan setempat (P) dapat diukur dengan memasang alat Pengukur Curah Hujan Manual (Rain Gauge Ombrometer) di halaman farm.
Contoh penghitungan :
Di suatu area farm ada 1 buah kandang ternak dengan luas bidang atap 150 m 2 (A) dan kedalaman hujan ( P atau nilai curah hujan tahunan) 1898 mm/tahun. Atap terbuat dari bahan plastik yang memiliki koefisien limpasan permukaan (C) 0,85 dan nilai koefisien atap (Ka) 0,50.
Maka potensi air hujan yang dapat dipanen sebagai berikut :
V = 150 m2 x 0,85 x 1898 mm x 0,5 = 121 m3
1000
Catatan: Nilai Koefisien limpasan permukaan (C) berkisar antara 0,70 – 0,90 bergantung pada jenis bahan atap, sedangkan Nilai Koefisien Atap (Ka) ditentukan oleh kemiringan atap.
Jadi bak penampungan air yang harus dibuat bervolume 121 m3.
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Teknologi Inovasi Penyediaan Air untuk Kebutuhan Peternakan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153