Vaksinasi dan biosekuriti menjadi langkah utama pencegahan penyakit
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dari segi ekonomi, kerugian yang dialami oleh peternak akibat DVH yaitu selain adanya kematian yang tinggi, yaitu adanya penurunan bobot badan dan berpengaruh pada turunnya kualitas karkas. Dalam kasus yang sama, Ibrahim menyebutkan bahwa pada kandang yang telah dipanen lebih awal pada saat pemotongan dan pengolahan di Rumah Potong Unggas (RPU), ditemukan adanya perdarahan pada karkas. Tentu secara kualitas ini sangat mempengaruhi nilai jual dari karkas bebek tersebut.
Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya DVH yaitu dengan melakukan vaksinasi terhadap DHAV-1 dapat menggunakan vaksin live yang dilemahkan maupun vaksin dalam bentuk killed. Vaksin ini diberikan pada bebek indukan untuk memberikan kekebalan pasif pada anak bebek. Vaksin live yang dilemahkan juga dapat diberikan pada day old duck (DOD) sebagai kekebalan aktif. Virus DVH yang termasuk kedalam virus RNA yang tahan terhadap klorofom dan ether karena bentuknya yang beramplop. 
Kontrol dan pencegahan terhadap penyakit ini cenderung lebih mahal dan cukup sulit untuk bebek yang berumur lebih tua karena perannya sebagai carrier atau pembawa penyakit tanpa adanya gejala klinis yang muncul. Belajar dari pengalaman pada kasus tersebut, Ibrahim menyarankan bahwa sebaiknya utamakan biosekuriti pada kandang sebelum duck-in dan manajemen pemeliharaan yang baik karena jika imunitas turun akibat stres yang dipicu oleh manajemen yang buruk dalam kandang, niscaya tindakan vaksinasi yang teratur pada peternakan pun akan menjadi sia-sia.
 Herbal untuk DVH 
Treatment di lapangan untuk penyakit yang banyak ditemukan pada bebek peking ini yaitu pemberian antibiotik. Tujuannya untuk menghalau infeksi sekunder oleh bakteri yang masuk akibat lemahnya sistem pertahanan tubuh bebek tersebut. Injeksi antiserum DVH 0,5 ml dari bebek yang sudah memiliki kekebalan terhadap DVH terbukti efektif berdasarkan hasil cek laboratorium dan di lapangan (Saif, 2008). Selain itu, sebuah penelitian di Tiongkok yang dilakukan oleh Chen et al. (2016) menggunakan bahan herbal sebagai bentuk medikasi untuk bebek yang terserang DVH.
Baca Juga: Produk Herbal Andalan Hadapi Tantangan Penyakit
Flavonoid merupakan bahan aktif yang tergolong metabolit sekunder dalam tanaman. Bahan aktif ini banyak digunakan karena memiliki berbagai manfaa yaitu antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, antiproliferative, dan anti-tumor. Tak ayal jika flavonoid banyak digunakan dalam pengobatan kanker, penyakit jantung, neurodegeneratif, meningkatkan sistem imun, dan mencegah infeksi dari virus.
Pada penelitian Chen et al. (2016) menggunakan bahan-bahan yang mengandung flavonoid seperti baicalin, linarin, icariin, dan notoginsenoside R1 (BLIN). Keempat bahan ini memiliki potensi sebagai hepato-protektor dan antivirus serta icariin yang mendominasi campuran keempat bahan tersebut memiliki kemampuan sebagai anti-DVH. Berdasarkan hasil pengujian in vivo pada anak bebek yang diberkan BLIN 0.15 ml per hari selama 5 hari secara peroral menunjukan peningkatan sebesar 37.8% bebek yang dapat bertahan hidup setelah diinfeksi DHAV-1.
Masuknya penyakit ke dalam kandang yang menimbulkan kematian tinggi sudah pasti menjadi mimpi buruk bagi semua peternak. Seperti pepatah yang menyatakan bahwa ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ maka alangkah lebih baiknya jika tindakan pencegahan seperti memperketat biosekuriti dalam kandang harus diimplementasikan terlebih dahulu sebelum mimpi buruk itu berubah menjadi kenyataan yang pahit bagi peternak.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Pengusik Kesehatan Hati yang Tak Kasat Mata”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153