Perunggasan di Afrika Selatan merupakan sektor yang sangat erat kaitannya dengan rantai agrobisnis` (Sumber Foto : www. media.npr.org
POULTRYINDONESIA, Jakaarta – Pada 2007 lalu, penyakit Avian Influenza (AI) yang merebak di Afrika Selatan membuat sekitar 300.000 ekor unggas harus dimusnahkan. Sejak itulah perunggasan Afrika Selatan harus susah payah memperoleh kembali nama baik mereka di mata konsumen lokal dan internasional. Menurut SAPA, hingga saat ini, produk unggas Afrika Selatan masih sulit bersaing di pasar global karena persoalan jaminan keamanan produk.

Tantangan industri perunggasan Afrika Selatan bukan hanya berasal dari produk impor yang membuat produsen unggas lokal kewalahan.

Menanggapi hal itu, Afrika Selatan terus berbenah memperbaiki kualitas produk unggasnya serta kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terlibat di dalamnya. Mereka meyakini bahwa produk yang baik akan lahir dari kecakapan SDM yang baik pula. Sebuah lembaga yang fokus dalam pengembangan SDM agrobisnis, Agriculture Sector Education Training Authority (AgriSETA), memiliki konsep solutif terkait hal ini. Dalam draf Poultry Sub-Sector Skills Plan 2018-2019, AgriSETA menyusun kecakapan prioritas dalam industri perunggasan. Kecakapan yang harus ditingkatkan antara lain dalam profesi dokter hewan, inspektur kualitas pangan, ahli pangan, insinyur bidang peternakan, hingga akuntan dan profesi lainnya di bidang manajemen produksi.
Baca Juga : Industri Perunggasan 4.0 di Berbagai Belahan Dunia
Penyiapan SDM kompeten dengan cara pembimbingan intensif dan kerja sama peningkatan mutu dengan berbagai pihak merupakan cara Afrika Selatan memperbaiki sektor perunggasan. Sejauh ini, masalah yang sering muncul di tingkat peternak kecil dan menengah memang masih berkutat pada faktor alam seperti kekeringan dan banjir pada waktu-waktu tertentu. Importasi produk unggas juga menambah kelesuan para peternak di level tersebut. Namun, Afrika Selatan melalui asosiasi dan lembaga nonprofit lainnya yang progresif memandang persoalan SDM adalah urgensi yang harus lebih diperhatikan untuk memupuk harapan masa depan. Pihak-pihak yang peduli terhadap perunggasan Afrika Selatan pun membagi tugas mereka: sebagian terus mengawal regulasi, sebagian lagi fokus membenahi kualitas produksi.
Sektor perunggasan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rantai agrobisnis Afrika Selatan. Berdasarkan data AgriSETA, sektor perunggasan merupakan penyumbang retribusi yang besar bagi Afrika Selatan dengan jumlah tak kurang dari 46 juta rand per tahun. Industri perunggasan pun memiliki porsi 21% dalam pengembangan pertanian lokal, karena industri ini menjadi konsumen jagung yang sangat besar untuk bahan pakan. Sementara bagi sebagian rakyat kelas menengah ke bawah, usaha perunggasan telah menjadi tumpuan hidup mereka. Budi daya perunggasan dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dilakukan karena perputaran uang yang relatif cepat dan permodalan yang terjangkau.
Masa depan perunggasan Afrika Selatan bisa dibilang baik. Mereka terus berupaya melakukan produksi secara efektif dan efisien seiring perkembangan teknologi dan zaman. Data SAPA per Oktober 2018 menunjukkan, Afrika Selatan mampu memproduksi 19.827 ekor broiler per minggunya. Jumlah tersebut cukup produktif jika melihat jumlah populasi penduduk yang ada. Para pelaku usaha perunggasan Afrika Selatan menyadari betul bahwa masih banyak tantangan yang mengadang. Namun dengan segala akselerasi penyiapan SDM, adaptasi teknologi dan perluasan pasar secara perlahan, bukan tak mungkin suatu saat nanti Afrika Selatan mampu terus tumbuh dari sektor perungasan, dan kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani pun dapat tecukupi dengan sebaik-baiknya. Adam 
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Optimisme Perunggasan Afrika Selatan terus Dibangun”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153