Sistem robotik diciptakan justru untuk membantu memudahkan para peternak dalam menjalankan tugasnya, sekaligus bagaimana mengurangi kemungkinan adanya masalah kesehatan karena aktivitas beternak. (Sumber Foto : PI_Adam)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Banyak sekali efisiensi produksi yang bisa dicapai dengan penerapan industri 4.0. Proses produksi yang paling banyak terpengaruh dengan diterapkannya kategori kunci seperti yang sudah disebutkan di atas, adalah proses budi daya di tingkat peternak. Para peternak akan lebih mudah dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang dengan big data yang sudah dikumpulkan hari demi harinya. Kelemahan dari sektor budi daya di Indonesia saat ini adalah penerapan teknologi yang masih minim. Selain itu, masih banyak peternak yang lemah dalam melakukan pencatatan (recording) budi daya. Sehingga, seringkali peternak merasa kesulitan dalam memperkirakan biaya produksi dan hasil yang didapatkan.
Jika bicara industri 4.0, maka pada bidang pertanian dan peternakan akan memudahkan para pembudidaya dalam melakukan produksi. Jika merujuk pada tulisan yang telah diterbitkan oleh majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 dengan judul “Revolusi Industri 4.0 Siapkah Kita?” dijelaskan bagaimana teknologi dapat membantu memudahkan produksi. Semisal pada industri telur, dengan mengubah data massal menjadi informasi yang berguna merupakan pekerjaan yang membosankan dan memakan waktu lama di egg-grading dan pengepakan. Para pekerja secara manual mengumpulkan printout grader, memasukkannya ke dalam program excel untuk kemudian dari grafik yang yang ditunjukkan diperoleh polanya. Informasi grading yang terkonsolidasi akan mengubah industri. Industri 4.0 tidak hanya menyediakan layanan yang mengubah data grading menjadi informasi manajemen, namun juga menghubungkannya dengan efisiensi dalam produksi telur dikaitkan dengan iklim, ukuran flock, sistem kandang, jenis ayam petelur, dan bahkan hingga pengemasan.
Baca Juga : Evolusi Industri Perunggasan 4.0
Dalam revolusi industri 4.0, tersedia informasi yang menjadi tolok ukur untuk membandingkan kinerja kita dengan produsen lain. Salah satu penyedia layanan cloud, iMoba, menunjukkan tentang kinerja mesin grading telur dalam proses produksi dalam waktu tertentu. Jika ada kasus mesin rusak, dengan mudah bisa diketahui penyebabnya. Beberapa indikator yang ada, akan menunjukkan berapa persentase dari target produksi yang akan tercapai, dan di mana saja ada ruang untuk proses optimalisasi.
Revolusi industri 4.0 akan memberikan berbagai kemudahan bahkan hingga pada masalah kehalalan yang dihasilkan dari produksi unggas. Seorang peneliti dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) berhasil mengembangkan sistem pemrosesan ayam otomatis yang memenuhi syariat (Sycut). Sistem ini dibuat untuk memastikan batang tenggorok (trachea) dan kerongkongan (oesophagus) ayam terpotong sempurna dan halal dikonsumsi. Sistem ini menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan dikembangkan oleh Artificial Intelligence dan Robotic Center (CAIRO) UTM. Kamera berkecepatan tinggi ini akan merekam lempengan-lempengan ayam yang dipotong dan gambar-gambar yang dihasilkan diproses oleh software, yang kemudian menunjukkan apakah ayam terpotong dengan benar atau tidak. Jika ayam yang dipotong tidak memenuhi syariat, sistem alarm akan berbunyi dan ayam tersebut akan dipisahkan tersendiri. Setelah uji coba di sebuah pemotongan ayam di dekat Semenyih, Sycut siap digunakan sepenuhnya.
Baca Juga : Pertumbuhan Industri Daging di Indonesia Tercepat di Dunia
Di China, terdapat sebuah perusahaan layer terbesar di benua Asia yang dibangun di atas area hijau seluas 779 hektar dengan nama Beijing CP egg industry (BCE) di distrik Pinggu. BCE menjadi salah satu gambaran perusahaan di industri perunggasan yang telah menerapkan teknologi mutakhir dalam setiap aktivitasnya. Fasilitas pemrosesan telur mulai dari collecting egg hingga proses pengemasan dilakukan secara otomatis dengan diawasi oleh satu orang operator untuk 300 ribu ekor ayam. Sehingga dengan sedikitnya sentuhan tangan manusia, tentunya akan menambah keamanan dan kehigienisan suatu produk, karena agen penyebaran penyakit pada hewan maupun produk salah satunya adalah manusia itu sendiri.
Sedangkan di Perancis beberapa teknologi robotik sudah diadopsi oleh peternak unggas. Dalam acara pameran SPACE yang diadakan bulan Spetermber 2018 silam, sistem robotik diciptakan justru untuk membantu memudahkan para peternak dalam menjalankan tugasnya, sekaligus bagaimana mengurangi kemungkinan adanya masalah kesehatan karena aktivitas beternak. Salah satu produk yang menarik perhatian adalah sebuah robot pembersih kandang unggas bernama Lavicole. Robot produksi perusahaan Rabaud asal Prancis ini mampu beroperasi secara otomatis dan efektif. Ia bisa menjangkau langit-langit kandang setinggi 4,5 meter dan sanggup menyemprotkan air dengan tekanan tinggi. Tak hanya itu, robot yang mudah diaplikasikan ini juga cekatan dalam membersihkan alas kandang, serta bagian-bagian kecil pada alat ventilasi. Lavicole siap membersihkan kandang seluas 1.000 meter persegi dalam waktu tiga jam. Namun, hal itu tergantung pula pada tipe kandang dan tingkat kebersihan yang dikehendaki oleh peternak.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2019 dengan judul “Peran Teknologi dalam Industri Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153