Penanganan yang baik dalam pemotongan produk unggas merupakan titik vital kehalalan unggas
POULTRY INDONESIA – JAKARTA, Seiring beragamnya tantangan zaman, diperlukan pedoman praktis untuk mengurangi perluasan penyakit akibat kontaminasi produk unggas. Industri perunggasan yang dilakukan secara intensif dapat menghasilkan daging broiler dengan waktu yang kian singkat, dan pada saat ini digunakan sebagai solusi dari keterbatasan penyediaan protein hewani asal daging merah. Populasi penduduk dunia pada tahun 2011 telah mencapai 7,5 milyar, sedangkan populasi sapi di dunia berkisar 1,3 milyar. Ada ketimpangan penyediaan protein hewani, di mana populasi sapi cenderung menurun karena pemotongan dan keterbatasan penyediaan pakan karena perubahan iklim global.

Penanganan unggas dalam rumah potong merupakan salah satu titik vital kehalalan suatu produk unggas. Sehingga perlu diperhatikan bersama sama bagaimana penganganan produk unggas yang baik, agar produk yang dihasilkan memenuhi standar ASUH.

Oleh karenanya, Dengan berkembangnya industri perunggasan di dunia secara intensif maka telah membantu masyarakat dunia untuk mendapatkan protein hewani dengan masif, harga terjangkau, dan dengan ketersediaan yang mellimpah. Namun di sisi lain, kondisi ini menyebabkan membludaknya populasi ayam ras. Sehingga terjadi suatu kondisi dimana keterbatasan memperoleh akses menunjukkan perilaku alami, dan peningkatan kasus-kasus penyakit, serta penyimpangan yang tidak sesuai prinsip-prinsip kesejahteraan hewan. Maka sebab itu, penting untuk merumuskan tata cara budi daya dan pemasaran unggas yang aman dalam hal keterkaitannya dengan lingkungan masyarakat.
Penanganan unggas dalam rumah potong merupakan salah satu titik vital kehalalan suatu produk unggas. Sehingga perlu diperhatikan bersama sama bagaimana penganganan produk unggas yang baik, agar produk yang dihasilkan memenuhi standar ASUH. Setelah ternak diangkut dari kandang menuju tempat pemotongan, keranjang diturunkan dari truk dengan alat angkut khusus mengangkat keranjang. Jika tidak ada, maka petugas yang ditugaskan untuk menurunkan keranjang harus menurunkan dengan hati-hati agar tidak terjadi cedera baik pada ternak maupun manusianya. Penurunan keranjang dari truk sebaiknya dilakukan tidak lebih dari satu jam setelah tiba di tempat fasilitas pemotongan. Apabila penyembelihan ditunda, maka tidak boleh lebih dari satu jam juga, dan dipastikan unggas tetap beristirahat di alat angkut dengan terlindungi dari terik matahari maupun hujan. Serta harus dipastikan pula tersedia cukup ventilasi udara, agar ayam merasa nyaman.
Baca Juga : Laboratorium Pasca Panen Peternakan di Piat UGM Resmi Dibuka
Apabila keranjang terlanjur dibongkar dari truk, dan tidak dimungkinkan segera disembelih, maka keranjang harus dilindungi dari temperatur ekstrem, cahaya matahari langsung, maupun dari situasi rentan perubahan cuaca. Direkomendasikan juga pada tempat penurunan ayam agar dikurangi cahayanya. Hal ini dimaksudkan agar ayam tidak terlalu reaktif, sehingga risiko memar, luka-luka, hinggas stres berat akibat perjalanan jauh maupun penanganan pasca transportasi dapat dihindari. Selama masa penundaan pemotongan, maka unggas di dalam keranjang harus selalu dipantau agar tetap nyaman tidak stres. Apabila dipantau ternyata ayam-ayam nampak stres, maka segera dilakukan proses penyembelihan lebih dini.
Memasuki fase penyembelihan otomatis di RPA Modern, penggantungan unggas yang akan disembelih harus dilakukan sesegera mungkin. Unggas yang telah dikeluarkan dari dalam keranjang, maka harus sesegera mungkin dipingsankan lalu disembelih. Untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan penyembelihan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama ayam yang telah dibongkar dari dalam keranjang tidak lebih dari dua jam hingga diproses penyembelihannya. Kedua, ayam yang sudah dikeluarkan dari dalam keranjang dilakukan penanganan pada ruang khusus, atau tempat penggantungan kaki unggas. Ketiga, unggas digantung pada posisi satu kaki, dengan kepala ke bawah. Sedangkan pada pemotongan tradisional kepala ayam dimasukan ke corong ukuran pas, kepala menghadap kebawah dengan kaki diatas untuk disembelih satu per satu dengan aliran darah mengalir searah, mengumpul dalam satu wadah.
Baca Juga : Hindari Listeriosis Pilih Daging Unggas Higienis
Keempat, tekanan dan cara memasukan unggas ke corong, seminimal mungkin tidak menyebabkan unggas berontak, stres, atau terasa rasa sakit.Kelima, apabila unggas dimasukan dalamcorong, maka kepala ayam menghadap ke bawah, sehingga perlu diperhatikan besaran corong. Baiknya besaran corong disesuaikan dengan besaran unggas agar tidak terjatuh. Keenam, penggantungan kaki atau pemasukkan kepala unggas tidak boleh lebih dari satu menit, dan harus segera dipingsankan atau disembelih. Untuk unggas ukuran lebih besar, maka proses penggantungan kaki tidak lebih dari dua menit. Ketujuh, hindarkan melakukan kesalahan dalam menggantung satu kaki unggas, atau memasukkan kepala ke dalam corong, yang dapat menyebabkan ayam stres, ataupun harus terjadi pemingsanan berulang. Kedelapan, apabila pengantungan kaki menggunakan penggantung untuk kedua kaki unggas, maka diperlukan seorang petugas pengawas untuk memastikan ayam tidak lepas dari penggantungnya. Kesembilan, alat penggantung yang berkarat akan mengurangi aliran listrik ke tubuh ayam ketika proses stunning waterbath, sehingga pemingsanan kurang berjalan sempurna. Sumber : Dirkesmavet Kementan 
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 di halaman 84 dengan judul “Transportasi Unggas yang Baik, dari Kandang hingga Tempat Pemotongan Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153