Perunggasan di tahun 2019 diprediksi akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Fluktuasi harga produk peternakan unggas berupa daging dan telur, khususnya yang dihasilkan dari ayam ras, menjadi realitas yang terjadi sepanjang tahun 2018 lalu. Turun dan naiknya harga tersebut bahkan sudah tampak menjelang pergantian tahun 2017 menuju 2018. Saat itu, tepatnya di awal Desember 2017, harga live bird merosot di beberapa daerah. Harga farm gate yang rendah justru terjadi di kota-kota besar, salah satunya Makassar. Harga live bird di sana hanya menyentuh Rp 14.500 per kilogram dan bertahan sekitar seminggu. Barulah pada hari-hari selanjutnya harga berangsur membaik dan menyentuh harga acuan yang tercantum dalam Permendag No. 27 Tahun 2017.

Para pelaku industri perunggasan 2019 diharapkan mampu belajar dari pengalaman tahun sebelumnya. Saat itu, kesulitan bukan hanya dialami oleh para pembudi daya unggas, tetapi juga oleh para produsen sarana produksi ternak di sektor hulu.

Pergeseran harga menuju angka yang lebih ideal itu dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan pasar menjelang pergantian tahun. Musim liburan dan berbagai acara peringatan pergantian tahun membuat para peternak kembali tersenyum dan pundi-pundi keuntungan mereka kian terpenuhi. Harga produk unggas yang bagus di awal Januari tak ayal membuat optimis para pelaku usaha di sektor ini. Para peternak dalam berbagai skala pun kian meyakini bahwa budi daya unggas merupakan pokok penghidupan yang menjanjikan. Mereka percaya bahwa 2018 akan menjadi sebuah tahun kebangkitan.
Ketua Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mesdi ketika dijumpai di kawasan Pluit, Jakarta Utara, mengatakan bahwa seharusnya Permendag juga mengatur harga acuan untuk pakan dan day old chick (DOC) secara terperinci. Menurutnya, justru dua komoditas itulah yang sangat berpengaruh pada harga produk unggas yang dihasilkan bagi konsumen. “Kenapa harga live bird dan telur bisa disamaratakan, sementara harga pakan dan DOC tak bisa? Harus ada acuan harga untuk kedua komoditas tersebut,” ujarnya, Jumat (14/12).
Baca juga : Persaingan Produk Pertanian Amerika dan Brasil
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) drh. Desianto B. Utomo, M.Sc., Ph.D. mengatakan bahwa penyamarataan harga pakan sebagaimana live bird dan telur adalah hal yang sulit. Menurut Desianto, sekitar 80 persen lebih harga pakan ditentukan oleh komoditas bahan pakan. Sementara sebagian bahan pakan tersebut saat ini masih diperoleh dengan cara impor. “Itu (bahan pakan) ada belasan bahkan lebih dari 20 yang diperoleh melalui impor,” ujarnya, Rabu (19/12). Ia menambahkan bahwa kesulitan penentuan harga pakan yang baku juga dipengaruhi oleh exchange rate yang mudah berubah.
Di pihak lain, peternak layer asal Blitar, Hidayaturrahman, sempat mengeluhkan adanya Permendag ketika harga telur sedang tinggi. Imbasnya, sebagian konsumen tak mau mengambil telur dari peternak yang menjual dengan harga tinggi karena terpaku pada Permendag. “Jujur saat itu kami terkejut, apalagi saat ada harga telur tinggi, di Jakarta langsung mengadakan operasi pasar,” ujarnya, Selasa (18/12).
Menurut Hidayaturrahman, jika ingin adil, pemerintah juga harus gerak cepat mengeluarkan Permendag ketika harga telur merosot. Hal itu tentu akan melindungi para peternak. Ia juga menambahkan bahwa para peternak menginginkan kestabilan harga jagung. Oleh karena itu, seharusnya komoditas jagung yang tecantum dalam permendag harus benar-benar diawasi sehingga tak lagi ditemukan para peternak yang kesulitan mendapatkan jagung terutama karena harganya melambung tinggi.
 Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Beranjak dari Terjalnya Bisnis Perunggasan 2018”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153